Jakarta, satumenitnews.com – Ajang Kurasi Musik Vol. 62 kembali digelar di Bowl Coffee Connection Jakarta pada Minggu malam, 17 Mei 2026. Edisi kali ini menghadirkan empat musisi independen yang penampilannya dievaluasi langsung oleh lima kurator secara bersamaan.
Kehadiran tim kurator secara penuh menjadi pembeda utama pada perhelatan malam tersebut. Harry Murti, Ully Dalimunthe, Edmond Kemur, Emtee Blackmore, dan Edo dari Urban News hadir memberikan evaluasi tajam dan komprehensif.
Dipandu oleh Dayat Madani sebagai pembawa acara, diskusi difokuskan pada tema Preparation Musik Di Panggung. Obrolan berjalan interaktif dan santai, mengupas tuntas kendala serta potensi yang kerap dihadapi musisi saat tampil langsung tanpa membosankan penonton.

Foto Istimewa
Evaluasi Teknis Tata Suara
Grup band pembuka, New Bee, mengawali acara dengan ngegas membawakan empat lagu bernuansa pop Melayu. Gaya musik mereka yang santai, catchy, dan mudah nyangkut di kepala berhasil membangun suasana sejak awal pertunjukan.
Para kurator memberikan catatan teknis yang sangat spesifik terhadap penampilan New Bee.
“Perhatikan detail pada sound dan frekuensi. Pengaturan yang tepat akan membuat live sound kalian terdengar jauh lebih nendang,” ujar kurator memberikan masukan teknis.

Foto Istimewa
Minimalis dan Tantangan Interaksi
Penampil kedua adalah Reevva, solois berusia 18 tahun yang berani tampil minimalis dengan iringan 3-piece instruments. Meski tergolong sangat muda, ia membawakan empat lagu yang sudah menunjukkan karakter yang kuat.
Kurator menititikberatkan evaluasi pada kemampuan komunikasi panggung Reevva.
“Kamu harus mencari cara agar bisa nge-blend dan menyatu dengan audiens. Interaksi ini penting supaya lirik dan feel dari lagu yang kamu bawakan benar-benar nyampe,” saran kurator saat sesi evaluasi.

Foto Istimewa
Pesan Tegas untuk Duo Rapper Betawi
Suasana pertunjukan langsung cair ketika duo rapper asal Betawi, Umbrella Boys, naik ke atas panggung. Mereka menyajikan lirik kocak yang penuh gaya lokal, namun tetap dibalut aransemen musik yang sangat rapi dan catchy.
Melihat potensi besar dari perpaduan humor lokal dan keseriusan musik tersebut, para kurator memberikan masukan tegas agar duo ini tidak berhenti di tahap amatir.
“Jangan jadikan musik ini hanya sekadar hobi. Kalian harus berani melangkah menjadi musisi profesional, sayang banget materinya kalau cuma buat iseng,” tegas kurator kepada Umbrella Boys.

Foto Istimewa
Penutup Berbobot dari Tone Sea
Rangkaian pertunjukan malam itu ditutup oleh penampilan Tone Sea. Grup ini membawakan empat lagu dengan komposisi aransemen yang sangat serius dan memiliki bobot musikalitas tinggi.
Penampilan Tone Sea terlihat rapi dan berhasil memancing decak kagum seluruh pengunjung yang hadir. Penutup yang pas ini seolah memberikan kesan kuat bahwa Kurasi Musik memang tidak main-main dalam menyajikan karya.
Malam itu bukan sekadar datang, tampil, lalu pulang. Setiap musisi mendapatkan feedback langsung dari kurator yang sudah kenyang pengalaman di industri musik. Bagi para musisi yang hadir, ajang ini seperti mendapat sesi konsultasi gratis sekaligus panggung pertunjukan.
Kurasi Musik Vol. 62 sekali lagi membuktikan bahwa panggung-panggung kecil di Jakarta masih menjadi tempat paling jujur bagi musisi untuk terus mengasah karya mereka.
Membedah Ekosistem Musik Wonosobo: Antara Mentalitas dan Industri
Ully Dalimunthe Ungkap Kurasi Musik Bukan Penjurian Bagi Band Wonosobo
Kurasi Musik Wonosobo Volume 3 Uji Kualitas Produksi dan Performa Musisi Lintas Daerah
Kurasi Musik Wonosobo Vol 2: Ully Dalimunthe dan Safir Soroti Masalah Klasik Band Indie
Tiga Kurator Buka Suara, Kurasi Musik Wonosobo Ini Baru Awal, atau Justru Ujian?

