Wonosobo, satumenitnews.com – Kehadiran musisi kawakan Yogie Semata dalam panggung Kurasi Musik Wonosobo menyita perhatian publik lokal, Minggu malam (26/04/2026). Berbekal jam terbang tinggi sebagai musisi profesional sejak 1994, Yogie membuktikan bahwa ruang berekspresi tidak mengenal batasan skala panggung maupun daerah.
Keputusannya untuk turun gunung ke panggung lokal bukan tanpa alasan. Bagi Yogie, panggung kurasi semacam ini merupakan wadah ideal bagi para penulis lagu dan musisi muda untuk menyalurkan karya orisinal mereka.
Sebagai musisi yang terbiasa membawakan lagu musisi lain di panggung komersial, ia menyadari pentingnya mempromosikan karya pribadi. Hal ini terinspirasi dari strategi pemasaran produk komersial yang konsisten berpromosi lintas generasi.
“Kenapa saya tidak melakukan hal tersebut pada karya-karya saya? Saya tidak mau karya saya hanya berakhir dan tersimpan di meja laci saya,” ujar Yogie saat ditemui usai penampilannya di Le Coffee, Senin (27/04/2026).
Dari Session Player Menuju Soloist
Perjalanan musikal Yogie merentang panjang sejak dekade 90-an. Berawal dari band keluarga yang memainkan genre Latin seperti Trio Los Macumbos, ia kemudian menapaki karier sebagai pemain homeband di berbagai stasiun televisi nasional.
Memasuki awal 2000-an, Yogie kerap menjadi session player yang mengisi posisi keyboard untuk sejumlah band berlabel besar. Ia juga rutin mengisi panggung hiburan korporat kelas menengah ke atas.
Titik balik kariernya sebagai solois terjadi pada tahun 2018. Ia menyadari kebutuhan mendesak untuk meninggalkan zona nyaman sebagai pemain band reguler dan mulai fokus merilis diskografi pribadi.
“Yogie Semata adalah profil seorang soloist, bukan format band. Jadi, format band atau iringan alat musik lain itu fungsinya murni sebagai pendukung dalam show saya,” tegasnya.
Mendobrak Pasar dengan Romantic Pop
Meski kerap dilabeli sebagai musisi beraliran jazz oleh para penyelenggara acara, Yogie dengan tegas mengidentifikasi jalur musiknya sebagai romantic pop. Genre ini dipilih karena dirasa paling pas untuk merepresentasikan tema romansa sehari-hari.
Karakteristik lagu yang diciptakan Yogie sangat mengedepankan unsur easy listening. Pengaruh musisi legendaris dalam negeri seperti Fariz RM dan Dian Pramana Poetra cukup kental mewarnai aransemen musiknya.
“Orang tidak perlu mikir berat untuk dengar musik saya. Liriknya pun ringan, menggunakan bahasa yang kita pakai sehari-hari,” tambah Yogie.
Tahun ini, ia tengah mempersiapkan perilisan mini album (EP) yang memuat tujuh dari total 23 lagu ciptaannya. Beberapa lagu seperti You and Me dan Segalanya yang sempat rilis pada masa pandemi akan diaransemen dan dirilis ulang untuk mengoptimalkan jangkauan pendengar.
Menutup perbincangannya, musisi yang sudah mencipta lagu sejak kelas 4 SD ini menitipkan pesan khusus bagi ekosistem musik di daerah. Ia menekankan pentingnya konsistensi dan ketulusan dalam berkarya tanpa harus tertekan oleh tuntutan pasar sejak awal.
“Buat karyamu setulus mungkin, nanti pasti akan ketemu penikmatnya sendiri,” pungkasnya.
Ully Dalimunthe Ungkap Kurasi Musik Bukan Penjurian Bagi Band Wonosobo
Kurasi Musik Wonosobo Volume 3 Uji Kualitas Produksi dan Performa Musisi Lintas Daerah
Kurasi Musik Wonosobo Vol 2: Ully Dalimunthe dan Safir Soroti Masalah Klasik Band Indie
Tiga Kurator Buka Suara, Kurasi Musik Wonosobo Ini Baru Awal, atau Justru Ujian?
Kurasi Musik Wonosobo, Langkah Awal Musisi Lokal Menuju Nasional
Hitam yang Tak Mau Pudar, ROH Mengaku Jadi Benteng Terakhir Gothic Wonosobo
Meriah dan Penuh Energi Muda, HUT ke-57 Radio Pesona Wonosobo Ditutup dengan Festival Band Pelajar

