Wonosobo, satumenitnews.com – Geliat ekosistem musik independen bergemuruh di bawah temaram lampu Le Coffee dalam ajang Kurasi Musik Wonosobo Volume 3, Minggu malam (26/4/2026). Lima grup musisi lintas daerah tampil habis-habisan mempresentasikan karya orisinal mereka di hadapan empat kurator profesional berskala nasional.
Tensi musikalitas malam tersebut meningkat seiring kehadiran penampil dari berbagai wilayah. Skena musik Kendal mengirimkan dua amunisinya, yakni Flowers Ska dan Party Dirty. Keduanya sukses mengajak penonton merespons irama di area terbuka kafe.

Representasi ibu kota hadir melalui penampilan solois Reza Miranda dan Yogie Semata yang membawa karakter warna musik tersendiri. Sementara itu, tuan rumah diwakili oleh unit musik Sudden Luck yang tampil solid menjaga eksistensi musisi lokal di tanah sendiri.
Setiap musisi tidak sekadar menghibur pengunjung kafe. Mereka tengah mempertaruhkan kualitas karya rekaman dan performa langsung (live) demi mendapatkan penilaian objektif dari para ahli.


Nuansa malam menjadi lebih serius ketika pandangan beralih ke meja panelis di area depan panggung. Empat sosok kurator yang hadir membawa perspektif tajam untuk membedah karya para penampil dari berbagai sudut pandang industri.
Ully Dalimunthe bertindak sebagai telinga produser pada ajang tersebut. Produser musik dan komposer kawakan ini fokus menguliti struktur aransemen, kualitas produksi audio, hingga potensi komersial karya independen di pasar musik nasional.
Dari sisi teknis instrumen, hadir Safir Rustam yang merupakan drummer profesional dari BIAN Gindas. Pengalamannya mencetak banyak lagu pop hits membuatnya sangat tajam dalam menyoroti fondasi ritme, harmonisasi instrumen, dan eksekusi tempo para musisi saat beraksi di atas panggung.
Evaluasi performa panggung dikawal langsung oleh Yohan Doni Saputro. Mantan vokalis orisinal band Seventeen era awal 2000-an ini tampak intens memberikan masukan teknis terkait aksi panggung, penghayatan lirik, hingga tata vokal melalui mikrofon panelis.
Sebagai penyeimbang, Emtee Blackmore hadir mewakili pengamat sekaligus kurator reguler skena Wonosobo. Kehadirannya memastikan seluruh masukan standar industri nasional dari ketiga panelis lain dapat diserap dan diaplikasikan oleh musisi akar rumput secara berkelanjutan.
Penyelenggaraan volume ketiga ini membuktikan bahwa komunitas musik Wonosobo tidak lagi sekadar berkarya untuk kesenangan komunal. Para pegiat seni di wilayah ini menunjukkan kesiapan untuk diuji oleh standar industri musik Tanah Air yang lebih luas.
Kurasi Musik Wonosobo Vol 2: Ully Dalimunthe dan Safir Soroti Masalah Klasik Band Indie
Tiga Kurator Buka Suara, Kurasi Musik Wonosobo Ini Baru Awal, atau Justru Ujian?
Kurasi Musik Wonosobo, Langkah Awal Musisi Lokal Menuju Nasional
Hitam yang Tak Mau Pudar, ROH Mengaku Jadi Benteng Terakhir Gothic Wonosobo
Karya Gita Nada, Tunjukkan ke Dunia Keunggulan Seni Musik di Wonosobo
Siasat Unik Kedai Pinggir Kali Wonosobo, Manfaatkan Tanaman Karnivora Halau Musim Lalat Slug URL

