Home » Pemkab Wonosobo Dituntut Setop Jadikan Pasar Sapi Perah Saat Pedagang Sekarat Dihantam Belanja Online

Pemkab Wonosobo Dituntut Setop Jadikan Pasar Sapi Perah Saat Pedagang Sekarat Dihantam Belanja Online

by Malindra Anji
Listen to this article

Wonosobo, satumenitnews.com – Nasib ribuan pedagang pasar tradisional di Wonosobo kian berada di ujung tanduk. Gempuran platform belanja daring menyedot habis pembeli, membiarkan lapak-lapak fisik sepi pengunjung. Ironisnya, di tengah kondisi kritis ini, pemerintah daerah kerap masih menjadikan pasar sekadar mesin pengeruk Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Realitas pahit inilah yang memicu kepengurusan baru Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (DPD APPSI) Wonosobo periode 2026-2031 untuk membunyikan alarm keras. Dalam agenda pelantikan yang digelar di Jannur Resto, Kamis (21/5/2026), jajaran pengurus menuntut Pemkab Wonosobo melek mata dan segera turun tangan.

Jangan Cuma Pungut Retribusi, Beri Solusi

Ketua DPW APPSI Jawa Tengah, Suwanto, membongkar fakta tragis di daerah agar tak terulang di Wonosobo. Ia mencontohkan Pasar Induk Wonosobo yang dulunya riuh oleh 4.000-an pedagang, kini menyusut drastis tersisa 500 orang saja karena kalah saing dengan mal dan pasar swalayan modern.

Suwanto mengkritik keras paradigma pemerintah yang melihat pasar hanya sebagai sapi perah penyumbang PAD. Ia menegaskan, pasar sejatinya adalah ruang pelayanan publik.

Baca juga :  Pastikan Kesiapan Fasilitas, Kapolres dan Bhayangkari Pantau Dapur MBG untuk Anak Sekolah

“Saat pedagang kesulitan, pemerintah seharusnya memberikan subsidi atau fasilitas pendukung, bukan justru terus menaikkan retribusi,” tegas Suwanto menyoroti abainya pemerintah.

Ia juga mengkritisi sistem perbankan yang dinilai kejam bagi rakyat kecil. Syarat agunan memberangus peluang pedagang kecil untuk bangkit, sementara dana bank mengalir deras ke kantong pengusaha besar. Padahal, perputaran riil ekonomi kerakyatan sejatinya ada di tangan ribuan pedagang pasar.

Digitalisasi Jangan Cuma Omong Kosong Pemkab

Tuntutan senada disuarakan Ketua Terpilih DPD APPSI Wonosobo, Fikri Wijaya. Bagi Fikri, benang merah kepengurusannya jelas, yakni mencari cara jitu agar pasar-pasar kembali hidup. Keluhan terbesar pedagang saat ini adalah merasa berjalan sendirian dan tertinggal zaman tanpa perlindungan berarti dari penguasa daerah.

Fikri menilai wacana adaptasi digital yang kerap digembar-gemborkan pemerintah hanyalah omong kosong jika tanpa eksekusi langsung dari atas ke bawah. Pedagang pasar, dengan latar belakang pendidikan yang beragam, tidak bisa disuruh bertarung di ranah digital sendirian.

“Digitalisasi sangat disetujui, tapi pelaksanaannya harus top-down. Pemerintah melalui Dinas Kominfo harus turun tangan memfasilitasi jaringan internet, membuat ruang siniar promosi, dan memberikan pendampingan teknis,” ujar Fikri mendesak keseriusan bupati dan dinas terkait.

Baca juga :  Dilantik di Yogyakarta, KJW Sentil Pemerintah Lewat Misi Kontrol Sosial

Fikri juga bersiap tancap gas menguatkan konsolidasi dengan pengurus di 15 kecamatan. Tujuannya satu, mengejar program stimulan yang dampaknya bisa langsung menggerakkan perputaran rupiah di lapak para pedagang harian.

Tangkap Peluang Wisata dan Makan Bergizi Gratis

Menyelamatkan pasar butuh taktik cerdik. Suwanto melempar ide strategis untuk Pemkab Wonosobo: manfaatkan besarnya arus wisata Dieng. Ia mendorong pemerintah membuat regulasi dan membangun area rehat yang mewajibkan bus pariwisata singgah di kawasan Pasar Wonosobo.

Sementara itu, Pengurus Harian Pusat APPSI yang juga Ketua Umum Tani Merdeka, Don Muzakir, membawa angin segar terkait pemotongan tengkulak nakal. Ada Instruksi Presiden yang mengamanatkan agar sembilan bahan pokok disuplai langsung ke pasar tanpa perantara. Skema ini telah diuji coba di Jakarta lewat pendirian kios khusus Bapanas atau Bulog di pasar pemerintah, dan segera diekspansi ke seluruh daerah.

Isu krusial lainnya yang disorot adalah mega-program Makan Bergizi Gratis (MBG). Suwanto mengingatkan tingginya kebutuhan nasional, semisal 85 juta butir telur per hari, adalah ladang emas bagi pedagang lokal agar pemerintah tak punya alasan membuka keran impor.

Baca juga :  Dua Warga Cirebon Diamankan di Wonosobo, Diduga Edarkan Merica Oplosan di Pasar Sapuran

Don Muzakir menambahkan bahwa kolaborasi erat antara petani dan pedagang adalah kunci mutlak menyukseskan program tersebut tanpa merusak harga pasar.

“Solusinya, petani diedukasi menanam komoditas khusus Makan Bergizi Gratis, lalu disinkronkan dengan pedagang pasar agar suplai dan harga tetap stabil,” jelas Don Muzakir.

Melalui jaringan APPSI, hasil bumi Wonosobo yang melimpah seperti dari sentra Pasar Kertek nantinya juga akan dikawal distribusinya untuk menembus pasar Jakarta. Skema komprehensif ini dirancang murni demi memutar urat nadi ekonomi dari tangan petani hingga ke lapak pedagang pasar.

Kompak! Musda APPSI Wonosobo Bentuk Pengurus Baru & Siapkan Jurus Bangkitkan Pasar Tradisional

Pantauan Langsung Pasar Kertek dan Induk Wonosobo: TPID Pastikan Stok Sembako Aman Jelang Idulfitri

Pemkab Wonosobo, Kodim 0707, dan Forkopimda Pantau Harga Sembako di Pasar Tradisional Jelang Idul Fitri 1447 H/2026

BPJPH Wonosobo Sidak Pasar Induk, Verifikasi Barcode Sertifikat Halal UMKM Jelang Tenggat 2026

Gempur Rokok Ilegal, Pemkab Wonosobo Dorong 50 UMKM Tembus Pasar Internasional via DBHCHT

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy