Wonosobo, satumenitnews.com – Ratusan juta rupiah uang tunai dari kantong pribadi warga berputar deras menggerakkan roda ekonomi lokal di tingkat dusun. Sekitar 300 pemuda dari total 3.000 penduduk Desa Wonosari, Kecamatan Wonosobo berkolaborasi merampungkan persiapan hajatan besar yang berlangsung maraton selama sepekan penuh.
Tingginya perputaran ekonomi merdi dusun wonosobo ini membuktikan kekuatan finansial masyarakat akar rumput yang tetap stabil di tengah ketidakpastian situasi ekonomi nasional.
Kemeriahan perayaan yang bertepatan dengan momen pergantian Tahun Baru Hijriah ini memicu lonjakan mobilitas warga perantauan yang pulang kampung. Setiap rumah serentak menyembelih ayam hingga ikan segar demi menjamu tamu dari berbagai daerah.
Tingginya angka kunjungan otomatis membuka ruang strategis bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kawasan Kedu untuk meraup keuntungan berlipat ganda setiap harinya.
Proses pembuatan tumpeng (bucu) dan persiapan pentas seni digarap kilat sejak sore hingga malam hari sebelum dikirab keliling kampung. Langkah kolektif ini menjadi strategi masyarakat pedesaan mempertahankan kebudayaan Jawa dari gempuran hiburan digital. Generasi muda dilibatkan secara langsung dalam tarian tradisional, ritual nyadran, serta pembersihan makam leluhur.
Dana Swadaya Tembus Rp165 Juta Tanpa Bantuan Eksternal
Seluruh rangkaian pembiayaan operasional acara menelan angka pasti Rp165 juta tanpa ada suntikan dana dari pihak eksternal. Dana yang fantastis untuk ukuran dusun tersebut murni dari hasil swadaya kolektif masyarakat yang sukarela menyisihkan pendapatan bulanan.
Antusiasme patungan ini menciptakan fenomena perjamuan tamu yang skalanya seringkali melampaui perayaan hari raya keagamaan.
Kepala Desa Wonosari, Sakur, mengonfirmasi bahwa kepanitiaan acara sudah disiapkan matang sejak beberapa tahun terakhir. Konsep tasyakuran yang menyatukan unsur agama dan budaya ini menjadi wadah silaturahmi yang efektif bagi warga lokal maupun pendatang.
Di sisi lain, Tokoh kesenian sekaligus sesepuh desa, Muhammad Teguh, menjelaskan bahwa pola koordinasi yang sudah terbangun membuat seluruh persiapan teknis, mulai dari kegiatan mujahadah, pengajian, hingga pertunjukan wayang kulit berjalan tanpa hambatan.
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menilai kemampuan warga menyajikan hidangan besar-besaran adalah indikator kuatnya fundamental ekonomi kerakyatan di wilayahnya. Keberadaan ruang khusus bagi UMKM lokal untuk berjualan selama tujuh hari penuh menciptakan jaring pengaman ekonomi yang nyata bagi pedagang kecil.
“Terkadang kemeriahan Merdi Dusun di Wonosobo ini bisa melebihi Lebaran, kalau mereka mampu menjamu tamu berarti ekonomi di akar rumput kita kuat,” tegas Afif.

