Home » Bulan Suci Ramadhan Tak Halangi Latber Pecinta Burung Anggungan

Bulan Suci Ramadhan Tak Halangi Latber Pecinta Burung Anggungan

Latber Burung Anggungan

by Wonosobo1menit

Wonosobo, satumenitnews.com – Gegap gempita suasana Latber Burung Anggungan yang diadakan oleh Pecinta Anggungan Wonosobo (PAW) di Pesanggrahan Taman Selomanik begitu meriah, Minggu (10/04).

Mengangkat tema Nyawiji ing Wulan Suci Latber yang diadakan di bulan Ramadhan memasuku edisi ke 4 tahun ini.

Panitia Latber, Chasanudin Mustofa atau biasa akrap di sapa Gus Hasan mengaku tak menyangka acara yang di gelar di Bulan Ramadhan mendapat respon lebih dari para peserta.

“Yang ikut Latber sangat banyak, bahkan dari luar Wonosobo juga hadir di sesi ini. Ini melebihi harapan kami, apalagi kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo juga berkenan hadir,” ujarnya.

Gus Hasan juga mengatakan bahwa animo pecinta anggungan dari event ke event hingga gelaran ke-4 ini terus meningkat, hal ini dibuktikan dari semua tiket ludes tak tersisa.

“Alhambudlillah kami bisa mengakomodir seluruh peserta. Dari total peserta ada 223 yang datang dari beberapa daerah seperti dari Kabupaten Magelang, Kota Magelang, dan Kabupaten Banjarnegara,” ungkapnya.

Dalam kesempatan terpisah, Arif Muliyanto selaku pemerhati dan pecinta anggungan menyampaikan, bahwa nilai-nilai luhur dalam melestarikan budaya leluhur.

Kesenangan terhadap burung perkutut memiliki arti yang sangat mendalam.

Baca juga :  Ngijoke Botorono, Upaya Konservasi Alam RPLH dan Pemdes Petarangan di Puncak Botorono Temanggung

“Falsafah tentang perkutut alias kukilo menjadi menarik karena tercantum sebagai lambang dalam ajaran filsafah Jawa Hastabrata. Falsafah Hasta brata sendiri meliputi karyo (pekerjaan), garwo (istri/pasangan), wismo (rumah), curigo (keris), turonggo (kuda), kukilo (perkutut), waranggana (pesinden/penyanyi), dan pradonggo (gamelan). Dari dasar inilah nilai-nilai perkutut dalam kebudayaan Jawa berkembang sehingga memiliki nilai luhur yang lebih tinggi dari manusia biasa,” bebernya.

Pelaksanaan latber sendiri terdiri dari 4 (empat) kategori yaitu Puter, Derkuku, Perkutut Pemula Bebas, dan Perkutut Gacor Bebas.

Ada yang menarik pada kategori perkutut, persaingan ketat terjadi antara perkutut Jendra dengan Patih.

Namun akhirnya Jendra dari Taman Kukilo memenangkan persaingan tersebut dan peringkat kedua jatuh pada perkutut bernama Patih dari Lutfi-Kalibeber.

Kategori derukuku tidak kalah seru karena level kualitas burung yang relatif seimbang sehingga score atau point nilai yang sangat ketat.

Kategori tersebut menghasilkan juara I Mbah Tasaba pemilik Jamaludin, juara II Maladewa dari Fiki, dan juara III Mbah Adem pemilik Arif.

Sedangkan kategori Perkutut pemula bebas dimenangkan oleh Kendali Sodo pemilik Muslih sebagai juara I, Bekti pemilik Agus Bakti juara II, dan Almas pemili Deli JPM Club juara III.

Baca juga :  PC AMK Cirebon Agendakan Ziarah Rutin Sebagai Pembekalan Rohani Kader

Lebih seru lagi saat kategori terakhir yaitu Perkutu Gacor Bebas.

Kategori ini diikuti oleh semua perkutut teruji dikelas sebelumnya dan banyak prediksi yang meleset karena ketatnya persaingan dikelas tersebut.

Hasil akhir menyebut Ujang pemilik Den Mas Club-Banjarnegara sebagai juara I, Untung dari Unang-Wonosobo juara II, dan Kendil pemilik Khamim-Banjarnegara sebagai juara III.

DAlam latber ini Juara I, II, dan III mendapatkan piala, piagam, dan uang pembinaan, sedangkan peringkat IV sampai 10 hanya mendapatkan piagam.

Kang Deli dan Herman sebagai perwakilan Juri juga ikut menyampaikan bahwa disetiap kategori memiliki keunikan sendiri.

Menimbang hal tersebut panitia juga mengapresiasi 10 besar peserta dengan memberi piagam penghargaan.

“Untuk 10 besar mendapatkan piagam dan tiga besar selain mendapatkan piagam serta piala juga mendapatkan uang pembinaan dengan tujuan memotivasi para pelestari anggungan. Dengan begitu kami harap mereka dapat mencetak anggungan yang berkualitas,” ujar Deli.

Disparbud Akan Beri Dukungan Event Latber

Dalam kesempatan tersebut Agus Wibowo, S.Sos., Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo memberi apresiasi atas digelarnya event Burung Anggungan.

“Event ini merupakan budaya leluhur yang harus terus dilestarikan sebagai bagian dari atraksi tradisional asli Indonesia bukan produk luar negeri. Kedepannya akan menjadi tantangan kita bersama. Atraksi seperti ini harus bisa dikemas dengan baik, indah, dan unik, sehingga menjadi salah satu destinasi minat khusus dan mendorong pertumbuhan pariwisata dan budaya,” katanya.

Baca juga :  Persiapan Haflah Khotmil Qur’an 44 PPTQ Al-Asy’Ariyyah

Agus juga menyebut event seperti ini agar isa diselenggarakan di lokasi yang berbeda seperti di obyek wisata dan dikemas tematik, misalkan perkutut negeri di awan karena brandingnya Wonosobo adalah negeri di atas awan, melalui perkutut ini bisa menjadi agen dalam mempromosikan Daerah kita sebagai Daerah Wisata karena masuk Kawasan Strategi Pariwisata Nasional (KSPN).

“Kalau wisatawan datang ke Wonosobo dalam jumlah banyak, maka jajannya banyak, tidurnya lama, dan makan banyak disini semua uangnya ditukar disini tentu itu akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat di Wonosobo. Perlu adanya gerakan kolaboratif dalam mempromosikan destinasi wisata dengan menyelenggarakan lomba burung anggungan misalnya di Lubang Sewu Erorejo, atau di Sikunir tentunya secara teknis perlu dikaji secara mendalam. Intinya bahwa penyelenggaraan kegiatan seperti ini yang bisa menciptakan sensasi sehingga menjadi viral. Hal yang biasa-biasa saja akan menjadi hal yang luar biasa apabila viral,” ujar Agus penuh semangat. (E1)

You may also like

Leave a Comment