Wonosobo, satumenitnews.com – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Cabang Wonosobo bersama Pemerintah Kabupaten dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) mengambil langkah agresif dengan menggelar Wonosobo Investment Business Forum (WIBF) di Pendopo Bupati, Selasa (9/6/2026).
Acara yang diawali dengan pameran produk unggulan UMKM daerah ini mempertemukan para pengusaha besar dan investor dari dalam maupun luar negeri untuk berkolaborasi secara langsung dengan masyarakat di kawasan Kedu dan sekitarnya.
Ketua BPC HIPMI Wonosobo, Matranto, S.Pd., menegaskan bahwa tujuan utama forum ini adalah memajukan tiga sektor krusial penyangga ekonomi daerah, yang meliputi sektor pertanian, pariwisata, dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Langkah taktis ini diambil tepat saat kondisi para pelaku UMKM sedang tercekik oleh lonjakan tajam harga bahan baku akibat dinamika nilai tukar dolar terhadap rupiah.
Ancaman Dolar dan Nasib Produsen Tahu Tempe
Matranto secara blak-blakan menyoroti dampak nyata pelemahan rupiah yang membuat harga bahan baku impor meroket hingga tahap yang mengkhawatirkan.
“Saat ini, harga terigu naik sangat luar biasa. Kenaikannya hampir terjadi setiap hari secara rutin, naik satu hingga satu setengah persen,” ungkap Matranto.
Ia memaparkan bahwa total persentase kenaikan harga terigu saat ini sudah menembus angka tujuh belas hingga dua puluh persen dari harga awal. Selain terigu, harga minyak goreng juga diprediksi akan segera mengalami kenaikan sebesar tujuh persen, padahal sumber utama komoditas tersebut berada di dalam negeri.
Kondisi ekonomi yang paling parah saat ini dialami oleh para produsen tahu dan tempe di Wonosobo yang rantai produksinya sangat bergantung pada pasokan kedelai impor.
“Dampak paling luar biasa dirasakan oleh para produsen tempe dan tahu. Kenaikan ini sangat memukul mereka, hingga sudah ada yang mulai berencana untuk berhenti produksi,” tegasnya.
Ia juga menanggapi kekhawatiran para pengamat ekonomi terkait prediksi liar nilai tukar dolar yang kabarnya bisa menyentuh angka dua puluh dua ribu rupiah pada Desember mendatang. Matranto sangat berharap prediksi buruk tersebut meleset dan nilai tukar rupiah bisa segera menguat kembali ke level lima belas ribu atau bahkan sepuluh ribu rupiah per dolar.
Realisasi LoI, Pabrik Pupuk, hingga Hotel Bintang
Untuk melawan tekanan krisis bahan baku tersebut, HIPMI memastikan WIBF tidak sekadar berhenti pada tahap seremoni. Berdasarkan susunan acara, forum ini menghasilkan penandatanganan Letter of Intent (LoI) atau Komitmen Investasi yang disaksikan langsung oleh Bupati, Wakil Bupati, Sekda, Kepala DPMPTSP, dan jajaran HIPMI.
Matranto merinci sejumlah tindak lanjut investasi berskala masif yang siap dieksekusi di wilayah Wonosobo. Di sektor pertanian, PT Turrima Agro Mas dipastikan berencana membangun pabrik pupuk baru yang membutuhkan lahan seluas lima hektare. Keseriusan ini bahkan dibuktikan dengan penyerahan bantuan pupuk dan insektisida secara simbolis oleh pihak PT Turrima bersama Bupati dalam acara tersebut.
“Setelah acara ini, kita akan menyurvei beberapa lokasi untuk tempat pabriknya, kita mencari akses jalan mobil besar agar transportasi lancar,” jelas Matranto.
Infrastruktur pariwisata juga akan diperkuat dengan rencana Hotel Santika yang bersiap membangun fasilitas penginapan di lahan seluas lima sampai enam hektare di kawasan Kejajar. Selain itu, pihak terkait wisata juga akan masuk untuk membangun destinasi baru yang lokasinya sedang dalam tahap penentuan akhir.
Dari sisi peningkatan kualitas sumber daya manusia, perusahaan terigu Bogasari mengambil peran melalui fitur tambahan acara, yakni memberikan pembinaan dan pelatihan memasak bagi ibu-ibu dan pelaku UMKM kuliner agar mampu menghasilkan menu berkualitas tinggi.
WIBF 2026 juga menghadirkan sesi Business Matching (pertemuan tertutup one-on-one antara investor dan petani) serta Talkshow strategis yang dimoderatori oleh Matranto sendiri, dengan menghadirkan pakar seperti M. Prayoga Sunandar, S.M., M.M. dari PT Agronesia dan Dr. Adita Dea, M.M. dari Bukit Skipan. Kolaborasi dengan PT Agronesia ini difokuskan untuk mengekspor hasil pertanian lokal seperti sawi dan kubis, demi menyeimbangkan harga pokok produksi dengan nilai jual.
Hilirisasi Pertanian dan Janji Infrastruktur Pemkab
Sejalan dengan visi HIPMI, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat, S.Ag., dalam pidato sambutannya menekankan pentingnya ruang bersama antara pemerintah, dunia usaha, petani, dan komunitas.
Ia memaparkan bahwa modernisasi pertanian saat ini bukan hanya soal penggunaan alat mekanis yang canggih, melainkan tentang penciptaan kualitas terstandar dan produksi yang konsisten.
“Melalui precision farming, greenhouse, dan irigasi tetes, kita ingin memastikan produk hortikultura Wonosobo memiliki kualitas yang stabil,” ucap Afif.
Kualitas pasokan yang stabil ini ditargetkan mampu memenuhi kebutuhan standar industri perhotelan (hospitality) sepanjang tahun. Sistem ini akan diperkuat dengan pola contract farming berbasis data agar petani terhubung langsung dengan pasar dan memotong jalur distribusi yang panjang.
Lebih lanjut, Bupati mencontohkan urgensi hilirisasi pada komoditas kentang Wonosobo yang jika dijual mentah hanya bernilai sekitar sepuluh ribu rupiah per kilogram. Namun ketika komoditas tersebut diolah menjadi frozen fries, mashed potato, atau keripik premium, nilai jualnya melonjak drastis menjadi dua puluh lima ribu hingga empat puluh ribu rupiah per kilogram.
Untuk mendukung ekosistem hulu ke hilir ini, pemerintah daerah berkomitmen memberikan insentif serta bantuan alat produksi seperti mesin pengering dan vacuum sealer. Pemkab Wonosobo juga berjanji akan segera memperkuat infrastruktur pendukung krusial berupa cold storage dan gudang beku di sentra-sentra produksi.
“Mari kita pastikan forum ini tidak berhenti sebagai seremoni. Harus ada langkah nyata, investasi yang tumbuh, dan kesejahteraan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkas Afif saat memberikan apresiasi kepada jajaran investor dan pelaku usaha yang hadir.
Pemkab Wonosobo Dorong Iklim Usaha Kondusif, Gandeng HIPMI Bangkitkan Ekonomi
Estafet Kepemimpinan HIPMI Wonosobo Berganti, Matranto Kini Jadi Ketum
Kejar Tenggat Oktober 2026, BPJPH Sisir Belasan Ribu UMKM Wonosobo yang Belum Punya Sertifikat Halal
Bupati Afif Nurhidayat Pacu Digitalisasi UMKM di Wonosobo Expo 2026

