Sejarah PKL Wonosobo, Alun-Alun Wonosobo, Kuliner Legendaris Wonosobo, Sate Tahu Pak Supar, Revitalisasi Alun-Alun, Pariwisata Wonosobo
Home » Mengenang Sejarah PKL Alun-Alun Wonosobo: Jejak Kuliner Sejak 1989

Mengenang Sejarah PKL Alun-Alun Wonosobo: Jejak Kuliner Sejak 1989

Komunitas

by Malindra Anji
Listen to this article

Wonosobo, satumenitnews.com – Ada masa ketika kepulan asap beraroma bumbu kacang dan riuh rendah suara mangkuk yang beradu menjadi nyawa di pusat Kota Wonosobo. Di bawah rindangnya pepohonan, warga dari berbagai generasi duduk bercengkerama sambil menikmati sate tahu, segarnya es dawet, hingga legitnya kupat tahu. Alun-alun pada saat itu bukan sekadar hamparan rumput luas, melainkan sebuah ruang tamu komunal yang hangat.

Bagi masyarakat lokal maupun wisatawan, alun-alun selalu memancarkan magnet tersendiri. Namun, wajah alun-alun kini telah berubah, menyisakan ruang publik yang rapi tanpa deretan tenda pedagang.

Memahami sejarah PKL Alun-Alun Wonosobo menjadi penting. Kisah ini bukan sekadar catatan tentang perpindahan tempat berdagang, melainkan rekam jejak evolusi tata kota, dinamika sosial ekonomi masyarakat akar rumput, dan warisan memori kolektif yang tak lekang oleh waktu.

Almarhum Pak Supar dengan Sate Tahunya, (Foto.Endro).

Awal Mula PKL di Jantung Wonosobo

Jauh sebelum menjamurnya destinasi wisata kekinian, alun-alun adalah pusat gravitasi hiburan warga. Berdasarkan penelusuran redaksi satumenitnews.com, geliat kuliner kaki lima di kawasan ini mulai terorganisir sejak tahun 1989.

Awalnya, area yang digunakan berada di depan kantor pariwisata lama, yang kini telah bersalin rupa menjadi Taman Kartini di sudut barat daya alun-alun. Di sinilah cikal bakal terbentuknya ekosistem kuliner yang kelak menjadi legenda.

Sejarah PKL Wonosobo, Alun-Alun Wonosobo, Kuliner Legendaris Wonosobo, Sate Tahu Pak Supar, Revitalisasi Alun-Alun, Pariwisata Wonosobo

pak Surip dengan usaha kupat tahunya yang hampir 30 tahun dijajakan diseputar alun-alun (foto. satumenit)

Tiga Perintis Kuliner Legendaris

Pada masa-masa awal tersebut, hanya ada tiga pedagang yang setia menggelar lapaknya. Mereka adalah para pionir yang mengenalkan kultur jajan sore di pusat kota:

  • Pak Supar: Menjajakan bakso dan sate tahu. Sate tahu racikan mendiang Pak Supar kelak menjadi ikon kuliner paling melekat dalam ingatan warga.

  • Pak Tarsono: Menyegarkan dahaga pengunjung dengan es dawet khasnya, yang kini usahanya diteruskan oleh sang istri dengan berjualan gorengan dan nasi macan.

  • Pak Surip: Menawarkan hidangan berat berupa kupat tahu, bertahan melayani pelanggan setia selama hampir tiga dekade.

Baca juga :  Ketua Pakulinan Duga Ada Yang Ingin Menjatuhkan Citra Bupati Lewat Isu Ketertiban Seputar Alun-alun

Masa Kejayaan dan Simbiosis Mutualisme

Seiring berjalannya waktu dan pesatnya sektor pariwisata Wonosobo, jumlah pedagang turut membengkak. Lapak yang awalnya hanya diisi tiga orang, berkembang menjadi sebuah ekosistem ekonomi yang mandiri.

Tercatat, hingga sebelum masa penertiban, terdapat empat kelompok paguyuban PKL besar yang mengais rezeki di kawasan alun-alun. Khusus untuk kelompok perintis yang diwariskan oleh Pak Surip, almarhum Pak Supar, dan almarhum Pak Tarsono, anggotanya telah berkembang hingga 35 orang yang beroperasi secara bergantian siang dan malam. Di hari Minggu dan musim liburan, kawasan ini semakin padat oleh kehadiran pedagang dadakan.

Kesadaran Menjaga Ruang Publik

Meskipun berstatus sebagai pedagang kaki lima, mereka menyadari betul pentingnya menjaga etalase kota. Eko Efendi, salah satu ketua paguyuban PKL, pernah menegaskan bahwa ada komitmen kuat di antara para pedagang untuk merawat ruang publik tersebut.

Baca juga :  Sebulan Jadi Kasatpol PP, Dudi Galakkan Penertiban PKL Seputar Alun-Alun

“Setiap anggota diwajibkan untuk menjaga kebersihan dan keindahan tempat mereka berdagang,” ungkap Eko pada pertengahan 2018 silam.

Ketaatan ini juga tercermin dari sikap proaktif mereka. Para PKL ini rela menghentikan sementara aktivitas niaga mereka setiap kali ada tamu agung atau acara kenegaraan di Wonosobo. Bahkan, sejarah mencatat para pedagang ini pernah secara swadaya dan sukarela memperbaiki saluran gorong-gorong alun-alun yang tersumbat.

Bagi mereka, hubungan dengan pemerintah daerah adalah murni sebuah simbiosis mutualisme.

Akhir Sebuah Era: Revitalisasi dan Relokasi

Setiap babak sejarah pasti menemui ujungnya. Dinamika tata kota menuntut adanya perbaikan dan penataan ulang. Titik balik nasib para pedagang ini terjadi pada 1 Juli 2018.

Pemerintah Kabupaten Wonosobo resmi menutup alun-alun untuk proyek revitalisasi berskala besar. Kebijakan ini sekaligus menjadi langkah tegas penegakan Perda Nomor 2 Tahun 2016 dan Perbup Nomor 3 Tahun 2018 tentang Penggunaan Alun-Alun.

Menurut Agus Suryatin, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Wonosobo kala itu, penertiban ini bukan tanpa alasan. Volume PKL yang tak terkendali, terutama saat akhir pekan, membuat tata ruang alun-alun dinilai menjadi semrawut dan kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang terbuka hijau. Terlebih, secara regulasi, para pedagang tersebut memang tidak mengantongi izin resmi untuk mendirikan lapak permanen maupun semi-permanen di atas trotoar dan bahu jalan alun-alun.

Ringkasan Jejak PKL Alun-Alun Wonosobo

Bagi Anda yang ingin mengingat kembali sejarah singkatnya, berikut adalah rangkuman perjalanan panjang PKL di pusat kota Wonosobo:

  1. Tahun 1989: Eksistensi PKL dimulai oleh 3 pedagang perintis (Pak Supar, Pak Tarsono, Pak Surip) di area Taman Kartini saat ini.

  2. Dekade 90-an hingga 2000-an: Pertumbuhan pesat menjadi 4 paguyuban besar, mempopulerkan kuliner seperti sate tahu, mie ongklok, dan es dawet.

  3. Masa Bakti Ekologis: PKL kerap berkontribusi pada kebersihan, termasuk memperbaiki gorong-gorong alun-alun secara swadaya.

  4. 1 Juli 2018: Titik akhir operasional PKL di area alun-alun menyusul kebijakan revitalisasi dan penegakan Perda ruang publik.

Baca juga :  Tari Gambyong Warnai Pengukuhan PHRI Wonosobo, Dibawakan Siswi dan Alumni SMK Wiratama

Kini, alun-alun telah tampil lebih modern, bersih, dan lapang. Namun, bagi sebagian besar warga yang pernah menghabiskan masa mudanya di sana, aroma sate tahu dan manisnya dawet di sudut alun-alun adalah kenangan manis yang tak akan pernah tergantikan oleh megahnya pembangunan kota.

[Penulis / Editor: Malindra Anji]

Komisi B Tanggapi Soal Audiensi Paguyuban Kuliner Alun-Alun Wonosobo

Pedagang Kaki Lima dan Pedagang Keliling: Dinamika Ekonomi Informal di Tengah Kota

Minimnya Penegakan Perda Picu Kembalinya Pedagang di Alun-alun Wonosobo

Tak Hanya Teguran, Satpol PP Wonosobo Kini Sita Barang PKL Bandel di Sekitar Alun-Alun

Menurut Dudi, Ini Lokasi Sekitar Alun-Alun yang Legal buat PKL dan Boleh untuk Berdagang

Sebulan Jadi Kasatpol PP, Dudi Galakkan Penertiban PKL Seputar Alun-Alun

PKL Kembali Gelar Dagangan di Alun-Alun Wonosobo: Satpol PP Tidak Bertindak

PKL Mingguan Alun-alun Wonosobo Mengadu ke Wakil Bupati: Nasib di Tengah Ketidakpastian

Giliran PKL Kuliner Harian Alun-Alun Wonosobo Menuntut Kebijakan

 

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy