Wonosobo, satumenitnews.com – Ratusan petani dan warga di Desa Mergosari, Kecamatan Sukoharjo, segera menikmati aliran listrik mandiri untuk menekan tingginya biaya produksi pasca-panen. Arus deras sungai kini dimanfaatkan maksimal melalui proyek energi sungai serayu wonosobo guna menghidupkan fasilitas penyimpanan dingin dan mesin pengering hasil bumi.
Langkah ini memutus ketergantungan kelompok tani pada energi konvensional komersial yang terus membebani biaya operasional usaha mikro desa. Listrik mandiri ini bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang mengeksploitasi debit air tanpa mengorbankan ekosistem Daerah Aliran Sungai.
Selain menyasar sektor pertanian, ketersediaan energi bersih yang murah ini terhubung erat dengan aktivitas Koperasi Desa Merah Putih. Aliran listrik sungai akan menjadi motor penggerak rantai pasok bahan pangan untuk menyokong program Makan Bergizi Gratis yang digarap langsung oleh warga setempat.
Sektor pariwisata desa juga bersiap melakukan transisi energi menyeluruh. Transportasi wisata arung jeram yang biasanya bergantung pada bahan bakar minyak mahal akan dialihkan menggunakan perahu dan kendaraan operasional berbasis listrik dari pembangkit yang sama.
Dampak Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro Mergosari
Integrasi antara air, energi, dan ketahanan pangan ini merupakan fondasi utama Serayu Agro Energy Edutourism Corridor. Model percontohan ini dirancang agar aliran sungai melintasi wilayah Kedu hingga Jawa Tengah tidak lagi dikelola dengan pola sektoral yang sempit.
Pengelolaan debit air dari hulu hingga hilir kini diikat dalam satu ekosistem ekonomi sirkular untuk menahan laju kerusakan lingkungan hidup. Langkah teknis ini berfungsi ganda mencegah sedimentasi lumpur berlebih yang terus mengancam umur operasional Waduk Jenderal Sudirman di Banjarnegara dan perairan Cilacap.
Proyek mikrohidro ini berjalan beriringan dengan eksploitasi energi panas bumi di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Kombinasi kekayaan geologi dan debit air menjadi modal utama pemerintah daerah menembus pengakuan UNESCO Global Geopark, sembari menuntut aliran bonus produksi bagi warga lokal.
Gagasan operasional ini telah dibedah bersama perwakilan kementerian pusat di Ruang Mangunkusuma, Wonosobo, pada Jumat (11/9/2026). Pendekatan kebijakan kini dipaksa mengutamakan keterhubungan pasti antara ketahanan air, pasokan energi, dan perputaran uang di tingkat akar rumput.
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menyatakan bahwa eksploitasi Serayu wajib berdampak konkret pada kantong ekonomi masyarakat pedesaan. Ia menargetkan infrastruktur energi ini memutar roda ekonomi skala desa tanpa merusak tatanan alam.
“Kita ingin membangun satu ekosistem di mana air menghasilkan energi, energi menguatkan pangan, pangan menggerakkan ekonomi, dan semuanya tetap menjaga ekosistem,” tegas Afif.
Direktur Sumber Daya Energi Mineral dan Pertambangan Bappenas, Togu Santoso Pardede, menuntut gagasan ini segera menjelma menjadi dokumen proyek investasi yang layak jual. Skema pembiayaan lintas kementerian, BUMN, hingga swasta sedang dibentuk agar masyarakat desa segera menikmati nilai tambah ekonomi dari kampungnya sendiri.
Kepala Bappeda Wonosobo Tono Prihantono menggarisbawahi bahwa pasokan energi murah menjadi pengungkit krusial bagi kelangsungan bisnis UMKM lokal. Ketersediaan fasilitas pendingin dinilai menjadi kunci menjaga stabilitas harga panen petani Mergosari saat bertarung di tengah persaingan pasar tengkulak.

