Wonosobo, satumenitnews.com – Alarm darurat kesehatan anak di Kabupaten Wonosobo tengah menyala. Angka partisipasi imunisasi rutin tercatat merosot tajam dalam dua tahun terakhir, menyisakan celah besar bagi ancaman wabah penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah sejak dini.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo mengungkap realita yang cukup mengkhawatirkan. Pada tahun 2024, cakupan imunisasi masih mampu bertahan di angka 66,75 persen. Namun, memasuki tahun 2025, capaian sasaran tersebut anjlok drastis menjadi hanya 58,7 persen.
Darurat Zero Dose dan Ancaman KLB
Tren negatif ini tidak bisa dianggap remeh. Sasaran yang luput dari pantauan medis ini berpotensi menambah daftar panjang anak dengan status zero dose, yakni anak-anak yang sama sekali belum pernah tersentuh jarum suntik imunisasi dasar atau memiliki riwayat vaksinasi yang tidak lengkap.
Kondisi tersebut membuat anak-anak menjadi sangat rentan terpapar virus mematikan karena tidak memiliki tameng kekebalan dasar. Sebagai gambaran kedaruratan, data kesehatan tahun 2025 mencatat ada sekitar 163.942 anak berstatus zero dose yang tersebar di wilayah Jawa Tengah.
Menyikapi celah kesehatan ini, Perwakilan LPPM UNDIP, Ayun Sriatmi menyoroti adanya risiko tinggi Kejadian Luar Biasa (KLB). Menurutnya, penyakit seperti campak kini kembali mengintai kelompok rentan akibat akumulasi anak yang tidak mendapatkan hak imunisasinya.
“Tujuan dari kegiatan ini salah satunya untuk menyamakan persepsi antar pemangku kepentingan pemerintah, dinas kesehatan, hingga tingkat desa agar semua anak di Wonosobo terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin,” ungkap Ayun saat hadir di Wonosobo, Rabu (06/05/2026).
Ayun menilai persoalan ini cukup kompleks. Selain masalah edukasi, terdapat ketimpangan cakupan vaksinasi antar wilayah serta akses pemanfaatan layanan kesehatan yang belum sepenuhnya optimal dijangkau oleh warga.
Turun Gunung Gelar Imunisasi Kejar
Merespons rapor merah tersebut, pemerintah daerah langsung mengambil langkah taktis. Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo secara resmi menggandeng LPPM UNDIP dan UNICEF guna meramu strategi percepatan imunisasi rutin untuk penurunan zero dose Wonosobo sekaligus memperkenalkan vaksin jenis baru.
Pertemuan advokasi yang digelar di Gedung IBI Kabupaten Wonosobo tersebut menjadi titik tolak bagi tenaga kesehatan untuk kembali turun gunung. Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo, Jaelan mengakui bahwa capaian daerahnya saat ini masuk dalam kategori rendah dan butuh intervensi segera.
“Advokasi ini sebagai upaya mengidentifikasi wilayah atau kelompok masyarakat yang sulit dijangkau agar petugas kesehatan bisa melakukan imunisasi kejar untuk memastikan tidak ada anak yang terlewat,” tegas Jaelan.
Sebagai bentuk komitmen, Pemkab Wonosobo mengklaim telah menyiagakan infrastruktur kesehatan secara penuh. Layanan imunisasi kini tidak hanya terpusat di fasilitas besar, melainkan telah disebar ke 24 puskesmas, 5 rumah sakit, serta berbagai praktik mandiri dokter dan bidan.
Bahkan, jangkauan pelayanan telah menyentuh level akar rumput. Tercatat sebanyak 265 desa di Wonosobo kini aktif menyediakan pos layanan imunisasi melalui jejaring posyandu untuk memangkas jarak antara tenaga medis dan masyarakat pedesaan.
Langkah percepatan ini bukan sekadar urusan medis, melainkan investasi jangka panjang. Keberhasilan imunisasi diyakini akan menekan beban ekonomi rumah tangga akibat biaya pengobatan, sekaligus menjadi motor penggerak naiknya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan produktivitas generasi Wonosobo di masa depan.
Rapat Evaluasi Program MBG di Wonosobo, Antara Standar Teknis, Gizi, dan Ketimpangan Koordinasi
Wonosobo dan Malaka Teken MoU Sister Hospital, Perkuat Layanan Kesehatan Lintas Daerah
100 Siswa SRMA 35 Wonosobo Jalani Pemeriksaan Kesehatan, Siap Tinggal di Asrama
Hari Bhayangkara, Polres Wonosobo Buka Layanan Kesehatan Gratis untuk Driver Ojol

