Wonosobo, satumenitnews.com – Tingginya animo masyarakat untuk menyekolahkan anak di institusi keagamaan belakangan ini kerap terbentur pada satu masalah klasik: kuota pesantren yang selalu penuh. Menjawab kebuntuan tersebut, Pondok Pesantren Lirboyo berekspansi ke wilayah Jawa Tengah bagian selatan dengan membuka cabang ke-19 di Kabupaten Wonosobo.
Wakil Bupati Wonosobo, Amir Husein, turun langsung meresmikan Ponpes Lirboyo XIX yang berlokasi di Dusun Grenjeng, Desa Candiyasan, Kecamatan Kertek, pada Senin (4/5/2026). Peresmian ini bukan sekadar seremoni potong pita, melainkan langkah strategis daerah untuk memastikan warga mendapat akses pendidikan keagamaan yang layak.
Bagi Husein, pembangunan peradaban manusia di Wonosobo tidak boleh melulu mengejar ketertinggalan ekonomi dan infrastruktur fisik. Ruang spiritualitas generasi muda harus ikut dibangun secara serius.
“Pesantren tidak hanya mencetak generasi yang cerdas, tetapi juga berakhlak. Ini penting sebagai penyeimbang di tengah perkembangan zaman,” kata Husein menegaskan arah kebijakan pemerintah daerahnya.
Siasat Jemput Bola Atasi Keterbatasan Kuota
Ekspansi Lirboyo ke kawasan lereng Sindoro-Sumbing ini nyatanya murni didorong oleh tingginya desakan kebutuhan masyarakat. Pimpinan Madrasah Ponpes Lirboyo XIX Wonosobo, Agus H. Dahlan Ridlwan, membeberkan bahwa pesantren cabang sebelumnya sudah tidak sanggup lagi menampung membeludaknya jumlah pendaftar.
“Ini bagian dari pemerataan. Wilayah sebelumnya sudah penuh, sehingga kami kembangkan ke Jawa Tengah selatan agar akses pendidikan lebih merata,” ungkap Agus.
Pengelola pesantren menyadari bahwa mereka tidak bisa sekadar menunggu santri datang. Sebagai bentuk pengabdian, Ponpes Lirboyo XIX merancang skema pemberdayaan masyarakat sekitar. Sebanyak 13 guru bantu telah disiapkan tidak hanya untuk mengurus santri di dalam asrama, tetapi juga diterjunkan langsung untuk menghidupkan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di desa sekitar lewat pendekatan jemput bola.
Dari segi infrastruktur, bangunan asrama dan ruang kelas di Dusun Grenjeng diklaim sudah memadai. Untuk tahap awal, sistem pembelajaran baru akan difokuskan bagi santri kelas 3 dan 4. Standar kurikulumnya pun dipatok tinggi, dengan target kualitas lulusan yang wajib setara dengan pondok pusat Lirboyo di Kediri.
Tuntutan Adaptasi dan Manajemen Profesional
Di tengah arus modernisasi, Husein menyoroti tantangan besar yang kini dihadapi lembaga pendidikan tradisional. Ia mewanti-wanti agar pesantren tidak menjadi menara gading yang terasing dari realitas sosial.
“Ke depan, jelas harapan kami pesantren ini mampu melahirkan santri yang tidak hanya alim dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kesiapan menghadapi tantangan zaman,” ujar Husein.
Agar target tersebut tercapai, Husein mendesak adanya perbaikan tata kelola di internal pesantren. Manajemen yang tertutup dan konvensional harus mulai diubah menjadi lebih profesional dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat modern.
“Pesantren harus terus berkembang, tetapi tetap berpijak pada tradisi dan nilai luhur yang menjadi kekuatannya,” pungkas Husein memberikan catatan penting bagi pengelola.
Tradisional Tapi Tak Ketinggalan Zaman, Begini Transformasi Pondok Pesantren di Wonosobo
Pondok Pesantren Safiinatunnaja Luncurkan Pendidikan Formal untuk Tekan ATS di Wonosobo
YASSIN Diluncurkan di Hari Bhakti PU: Pesantren Wonosobo Kini Wajib Buktikan Keandalan Bangunan?
Polisi dan TNI Kawal Acara Buka Puasa Bersama Hj. Sinta Nuriyah di Ponpes Al-Hikam Wonosobo
Baru 12 Pontren yang Miliki IMB/PBG di Wonosobo, DPUPR Fokus Petakan Kelayakan Bangunan

