satumenitnews.com – Menjelang pergantian Tahun Baru Islam, linimasa media sosial, poster digital, hingga spanduk di jalanan sering kali dipenuhi dengan berbagai ucapan selamat. Namun, di tengah semarak perayaan dan pertukaran pesan tersebut, kerap muncul satu keraguan sepele yang cukup membekas dan membuat bingung banyak orang saat mengetik.
Pertanyaan itu terdengar sederhana: Apakah ejaan yang benar itu “Muharam” dengan satu huruf ‘r’, atau justru “Muharram” yang menggunakan huruf ‘r’ ganda?
Bagi sebagian orang, perbedaan satu huruf ini mungkin dianggap angin lalu. Namun, dalam konteks penulisan formal, surat-menyurat resmi, naskah akademik, hingga karya jurnalistik, ketepatan memilih kata yang baku sangatlah penting. Mengetahui penulisan Muharam yang benar menurut KBBI bukan sekadar soal menghindari salah ketik, melainkan upaya merawat tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Muharam atau Muharram, Mana yang Baku?
Bahasa Indonesia memiliki standar rujukan utama untuk menentukan keabsahan sebuah kata, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Berdasarkan pedoman tersebut, bentuk ejaan yang diakui secara resmi dan baku adalah Muharam (dengan satu huruf ‘r’).
Jika Anda mencari kata dengan ejaan ‘r’ ganda di dalam perbendaharaan kata baku bahasa Indonesia, sistem tidak akan merujuknya sebagai lema yang utama. Oleh karena itu, untuk segala keperluan penulisan yang bersifat formal, administratif, maupun edukatif di Indonesia, Anda wajib menggunakan kata Muharam.
[Placeholder: Link ke artikel terkait tentang (Sejarah Penetapan Kalender Hijriah pada Masa Umar bin Khattab)]
Mengapa Masyarakat Sering Menggunakan Ejaan Ganda?
Meski aturan leksikografisnya sudah jelas, kita tidak bisa menampik fakta bahwa ejaan dengan huruf ‘r’ ganda masih sangat masif digunakan oleh masyarakat luas. Ada alasan historis dan linguistik yang kuat di balik fenomena ini.
Pengaruh Transliterasi Bahasa Arab
Akar dari kebingungan ini berawal dari proses alih aksara atau transliterasi. Kata tersebut berasal dari bahasa Arab, yakni مُحَرَّم. Dalam aksara aslinya, terdapat tanda baca tasydid atau syaddah pada huruf ra’, yang secara linguistik menuntut pembacanya untuk menekan atau menggandakan konsonan tersebut.
Karena umat Islam di Indonesia memiliki kedekatan kultural dan spiritual dengan bahasa Arab, mayoritas masyarakat secara instingtif mengeja dan menuliskannya sebagai “Muharram”. Mereka menyesuaikan tulisan latin dengan pelafalan asli dalam tajwid bahasa Arab.
Prinsip Penyerapan Bahasa Indonesia
Namun, bahasa Indonesia memiliki aturan tersendiri dalam menyerap kata dari bahasa asing. Secara umum, sistem ejaan bahasa Indonesia cenderung menyederhanakan konsonan ganda dari bahasa sumber menjadi konsonan tunggal, kecuali jika penyederhanaan tersebut menimbulkan kebingungan makna.
Panduan Singkat Menulis Istilah Serapan
Agar tidak bingung di kemudian hari, berikut adalah beberapa poin penting terkait tata cara penulisan istilah serapan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia:
-
Gunakan KBBI sebagai pedoman utama: Apabila menulis dokumen resmi, makalah, atau naskah publikasi, selalu rujuk versi tunggalnya (misal: Muharam, bukan Muharram).
-
Pahami konteks tulisan: Dalam kutipan langsung ayat suci atau teks spesifik yang mengkaji linguistik bahasa Arab, penggunaan sistem transliterasi internasional (dengan penekanan ganda) masih dapat dibenarkan.
-
Penyederhanaan huruf ganda: Ingatlah bahwa bahasa Indonesia jarang mempertahankan huruf ganda dari bahasa sumbernya. Hal serupa terjadi pada kata Jum’at yang dibakukan menjadi Jumat, atau sunnah yang menjadi sunah.
Perdebatan mengenai penulisan ejaan nama bulan pertama dalam kalender Hijriah ini adalah contoh klasik bertemunya kebiasaan kultural dengan aturan tata bahasa. Secara pelafalan dan transliterasi bahasa Arab, menggunakan huruf ‘r’ ganda memang merepresentasikan bunyi aslinya (مُحَرَّم). Namun, secara resmi dalam aturan ejaan bahasa Indonesia, penulisan yang baku, benar, dan harus digunakan dalam situasi formal adalah Muharam.
[Penulis / Editor: Malindra Anji]
Pawai Ta’aruf 15.000 Santri Semarakkan Muharram 1448 H di Hari Jadi ke-201 Wonosobo
Jalin Silaturahmi dengan Warga, Bhabinkamtibmas Selomerto Kawal Doa Bersama 1 Muharam

