Home » Larangan Mudik 2021, Haryanto Minta Pemkab Kudus Kaji Ulang

Larangan Mudik 2021, Haryanto Minta Pemkab Kudus Kaji Ulang

by Rahayu

KUDUS – Lebaran tahun 2021 diperkirakan jatuh pada 6-17 Mei, sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo kepada para menteri pada 23 Maret 2021 lalu mengeluarkan kebijakan untuk larangan mudik lebaran. Larangan tersebut bertujuan mencegah risiko penularan Virus Covid-19 kembali meluas.

Larangan Mudik 2021, Haryanto Minta Pemkab Kudus Kaji Ulang

owner PT. Haryanto Motor Indonesia (PO Haryanto), Haji Haryanto sedang mengendarai salah satu bus (foto : istimewa)

Keputusan tersebut tentu saja berimbas di beberapa sektor ekonomi, salah satunya pada pengusaha angkutan umum khususnya adalah perusahaan otobus. Selama pandemi banyak perusahaan otobus yang gulung tikar khususnya adalah bus pariwisata. Praktis selama pandemi, sektor pariwisata berada dibawah titik terendah.

Owner PT. Haryanto Motor Indonesia (PO Haryanto), Haji Haryanto mengatakan dirinya berharap para pejabat di pemerintahan Kudus dapat mengkaji ulang kebijakan untuk melarang mudik tahun ini. Apalagi bagi kaum muslim yang setelah ramadhan mereka juga ingin berkumpul bersama keluarga dikampung halamannya.

Baca juga :  Antoni Alfin Desak Pelantikan Pengurus KONI Musorkablub Ditunda

“Kalau saya melihat, masyarakat dilarang mudikpun akan tetap berusaha untuk pulang kampung saat lebaran. Mereka biasanya malah nekad naik truk atau kontainer yang penting bisa pulang kampung. Ini kan sangat membahayakan bagi keselamatan mereka sendiri,” kata Haji Haryanto.

Berdasarkan perkiraan tersebut, dia meminta kepada para pejabat agar mempertimbangkan hal–hal yang terjadi di lapangan. Haryanto berharap pemerintah juga memperhatikan faktor keamanan dan keselamatan masyarakat, yang terpenting mereka dapat menjaga kesehatan. Apalagi mengingat momen lebaran merupakan yang ditunggu–tunggu oleh kaum muslimin untuk dapat bersilaturahmi dengan keluarganya.

“Mudah–mudahan kondisi seperti sekarang ini dapat pulih kembali, kasihan masyarakat. Teman–temanku sesama pengusaha otobus sekarang ibarat menangis sudah habis air matanya. Mereka banyak yang kolap dan menjual busnya. Pengusaha bus beda dengan pengusaha lainnya, karena mereka hanya mengandalkan keramaian penumpang pada liburan sekolah, lebaran dan liburan akhir tahun,” beber Haryanto.

Baca juga :  Siswa Kudus Torehkan Prestasi Lewat Game of Hajj

Satu tahun pandemi banyak pengusaha otobus yang tidak bisa meneruskan usahanya dan akhirnya bangkrut.

“Bila ditambah adanya larangan mudik tahun ini, bagaimana nasib karyawan dan keluarganya. Kalau dari perhitungan saya ada sekitar 75% pengusaha otobus sudah mengalami kebangkrutan dan bus–busnya banyak yang dijual,” tandas Haji Haryanto.(yk)

You may also like

Leave a Comment