Wonosobo, satumenitnews.com – Kancah musik lokal di wilayah Kedu, khususnya Jawa Tengah, terus menunjukkan pergerakan yang positif. Hal ini terlihat jelas dari tingginya animo band pendatang baru yang unjuk gigi dengan beragam genre dan latar belakang.
Merespons geliat ini, sebuah wadah apresiasi bernama kurasi musik Wonosobo volume 5 selesai dilaksanakan di Le Coffee, Minggu 21 Juni 2026 malam. Ajang ini menampilkan lima peserta musisi yang membawakan ragam karya mereka. Berdasarkan dokumentasi visual kegiatan, musisi yang tampil meliputi Bivo, Sudden Luck, Vinas, Bianglala, dan Kayana.
Musisi sekaligus pengamat musik Nasional, Edmond Kemur, hadir sebagai salah satu kurator dan langsung angkat bicara usai kegiatan tersebut. Edmond membagikan pandangannya terkait tantangan bermusik di era sekarang, mulai dari urusan menyatukan ego hingga pemahaman mendalam tentang esensi karya seni.
Ditemui di sela-sela perhelatan, Edmond mengungkapkan apresiasinya terhadap semangat para musisi lokal yang terus menyala.
“Melihat perkembangannya sangat senang, ternyata animonya besar. Banyak band baru yang sedang berkembang dan semangatnya luar biasa, apalagi wadah seperti acara kurasi ini kan bisa dibilang masih jarang. Di sini mereka bisa berbagi, evaluasi, dan melangkah ke arah yang lebih baik,” ucap Edmond.
Menekan Ego Lima Kepala
Tantangan terbesar sebuah band independen seringkali bukan pada peralatannya, melainkan pada urusan internal untuk menyatukan isi kepala. Edmond menilai hal ini sangat krusial dalam membentuk identitas sebuah grup musik.
“Dalam satu band itu kan ada lima kepala dengan referensi dan ego yang beda-beda. Kadang-kadang egonya tabrakan. Kuncinya adalah harus bisa berbagi ruang antar-player. Saling menahan ego untuk satu tujuan tertentu agar hasil musiknya jauh lebih bagus,” jelas Edmond.
Lebih lanjut, Edmond juga menyoroti fenomena star syndrome atau perubahan sikap musisi ketika namanya tiba-tiba meroket. Menurutnya, hal tersebut sangat manusiawi dan ia sendiri pernah mengalaminya.
“Dari bukan siapa-siapa tiba-tiba diperhatikan banyak orang, itu manusiawi. Mengatasinya ya kadang harus ‘kejedot’ dulu. Harus sadar bahwa di atas langit masih ada langit. Saran saya buat teman-teman yang baru mulai naik, lebih baik belajar menahan diri,” pesan Edmond.
Artikulasi Pesan Lebih Penting dari Genre
Terkait kualitas karya dan genre yang membingungkan pasar, Edmond menegaskan bahwa musik yang bagus akan selalu menemukan pendengarnya. Ia memberikan kiasan bahwa emas yang ditaruh di dalam lumpur pun akan tetap menjadi emas. Musik dari genre apapun pasti akan bisa diterima orang banyak jika memang enak didengar.
Namun, Edmond menggarisbawahi pentingnya cara penyampaian pesan atau delivery dari karya tersebut. Ia mencontohkan penampilan salah satu peserta bernama Mas Hendy. Mas Hendy dinilai memiliki potensi dan lirik yang bagus, namun gagal tersampaikan karena masalah teknis artikulasi.
“Teman-teman musisi harus lebih kenal kebutuhannya. Kalau memang senjatanya adalah lirik dan bercerita, penyanyinya harus menyampaikan dengan jelas artikulasinya. Kalau artikulasi tidak jelas dan tidak ada power, orang tidak akan mengerti apa yang diceritakan, padahal itu bahan jualannya,” kritik Edmond secara lugas.
Di sisi lain, untuk band yang lebih menonjolkan unjuk kebolehan instrumen, Edmond menilai sah-sah saja asalkan harmonisasinya tetap terjaga. Musik dengan komposisi rumit tetap bisa diterima asalkan penampilan dan harmonisasinya tersampaikan dengan baik.
Filosofi Seni Pisang Dilakban
Tidak ada satu pun karya seni yang jelek di mata Edmond, karena penilaian seni sangat bergantung pada selera pendengarnya. Ia menganalogikan hal ini dengan fenomena pameran seni rupa global.
“Pernah dengar ada pameran di luar negeri yang cuma memamerkan pisang ditempel di dinding, dan laku miliaran? Bagi sebagian orang mungkin bingung, tapi bagi orang dengan selera yang sama, nilainya memang tinggi,” papar Edmond.
Hal serupa juga berlaku di ranah musik Wonosobo maupun wilayah Kedu secara umum. Edmond membagi tujuan musisi menjadi dua kelompok, yakni mereka yang murni berekspresi sebagai hobi dan mereka yang memang mengejar popularitas serta materi.
“Ada yang berekspresi lalu kebetulan orang suka dan nilainya tinggi. Ada juga yang bikin karya sengaja agar orang suka, tapi malah tidak laku. Jadi yang paling penting adalah, berkesenianlah dengan sebaik yang kita punya. Lakukan yang terbaik, soal rezeki itu sudah ada porsinya,” pungkas Edmond.
Panduan Lengkap Adaptasi Musisi di Era Digital dan Menghadapi Sengkarut Royalti
Kurasi Musik Indonesia Vol 63 Jakarta: Kurator Soroti Orisinalitas Karya Hingga Stamina Vokalis
Fakta Menarik Kurasi Musik Wonosobo Vol 4: Panggung 6 Musisi

