Sleman, satumenitnews.com – Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Kabupaten Sleman mendapat dorongan kuat untuk bergerak. Kader harus menjadikan Soekarno Way sebagai pedoman utama. Jalan Soekarno ini menjadi arah perjuangan membumikan Marhaenisme bagi masyarakat.
GPM Sleman harus hadir secara nyata dan bekerja keras. Organisasi wajib terus memperjuangkan nasib dan kepentingan rakyat kecil.
Ketua Bidang DPP GPM, Antonius Fokki Ardiyanto, menyampaikan pesan tegas tersebut. Ia hadir mewakili DPP GPM dalam pelantikan DPC GPM Kabupaten Sleman. Acara ini berlangsung di Rumah Dinas Wakil Bupati Sleman, Minggu (8/11/2026).
Sekitar 100 orang kader GPM Sleman mengikuti agenda pelantikan kepengurusan ini. Fokki menegaskan bahwa pelantikan bukanlah tujuan akhir sebuah organisasi. Hal ini justru menjadi titik awal membangun kekuatan basis massa.
Soekarno Way Jadi Obor Pergerakan
Pengurus harus menggerakkan kader untuk menjalankan tugas ideologis. Mereka wajib melakukan kerja pengabdian sosial kepada warga masyarakat. Fokki mengingatkan agar GPM tidak sekadar menjadi papan nama.
“Jangan sampai setelah dilantik, GPM hanya mempunyai pengurus tetapi tidak ada gerakan. Kita butuh organisasi yang hidup dan bermanfaat nyata,” tegas Fokki.
Menurutnya, Soekarno Way wajib menjadi obor penerang bagi seluruh kader. Jalan Soekarno ini sangat berguna untuk menentukan arah pergerakan GPM Sleman. Hal ini bukan sekadar slogan atau romantisme sejarah semata.
Soekarno Way adalah metode perjuangan yang berpihak pada kaum Marhaen. Kader harus berani melawan ketidakadilan dan memperjuangkan kedaulatan hak rakyat.
“Marhaenisme tidak boleh berhenti menjadi bahan diskusi atau pidato,” terang Fokki.
Ajaran Marhaenisme harus selalu membumi melalui tindakan dan praktik nyata. Kader GPM wajib hadir mendampingi petani, buruh, nelayan, dan pedagang kecil. Mereka harus membela seluruh lapisan masyarakat yang sangat membutuhkan keberpihakan.
Peran Penting Generasi Muda
Anggota DPRD DIY, Cinthya Amanda Labetta, turut memberikan sambutan inspiratifnya. Kader muda Generasi Z ini menekankan pentingnya Marhaenisme sebagai sebuah pedoman. Ajaran ini menjadi landasan kuat untuk pergerakan sosial dan perpolitikan.
Marhaenisme harus menjadi dasar setiap kader dalam membela kepentingan masyarakat luas. Ajaran ini bukan sekadar identitas pamper ideologis organisasi semata. Kehadiran politisi berusia 24 tahun ini memberikan pesan regenerasi yang kuat.
Gerakan Marhaenis harus terus melaju dengan melibatkan peran aktif generasi muda. Anak muda tidak boleh hanya berdiam diri menonton sebuah perubahan. Mereka harus berani mengambil bagian dalam perjuangan pergerakan rakyat.
Konsolidasi PAC di 17 Kapanewon
Ketua DPD GPM DIY, Yuli Prasetyo, juga menyampaikan pandangan pentingnya. Praktik nyata Marhaenisme terlihat dari keberanian sebuah gerakan membela rakyat kecil.
“Gerakan yang membela rakyat kecil adalah praktik sejati Marhaenisme,” ungkap Yuli.
Oleh karena itu, ukuran keberhasilan GPM bukan semata dari besarnya struktur. Keberhasilan terukur jelas dari sejauh mana organisasi memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Budi Black menegaskan komitmen konsolidasi organisasi GPM Sleman. Pengurus menargetkan pembentukan Pimpinan Anak Cabang (PAC) pada akhir Desember 2026. Struktur PAC ini akan mencakup 17 kapanewon se-Kabupaten Sleman.
Pembentukan struktur PAC ini menjadi langkah strategis memperkuat konsolidasi internal. GPM bisa memperluas basis kader hingga menjangkau lapisan akar rumput. Budi juga mengingatkan kembali panjangnya sejarah perjalanan pergerakan GPM ini.
Eksistensi dan aktivitas GPM sempat meredup pada masa Orde Baru. Organisasi ini kemudian mulai bangkit kembali secara nasional pada tahun 2017. Di Kabupaten Sleman, konsolidasi organisasi kembali bergerak gencar pada 2026.
Pembentukan DPC GPM Sleman jelas bukan sekadar agenda administratif belaka. Langkah ini merupakan perwujudan upaya membangun kembali tradisi pergerakan yang terputus. Pelantikan ini menjadi momentum nyata kebangkitan GPM di Kabupaten Sleman.