Harga Pangan, Inflasi Daerah, Cabai Rawit, El Nino, Pasar Induk Wonosobo
Home » Warga Waspada Kenaikan Harga Pangan di Wonosobo

Warga Waspada Kenaikan Harga Pangan di Wonosobo

by Malindra Anji
Listen to this article

Wonosobo, satumenitnews.com – Lonjakan harga komoditas utama mulai menekan daya beli masyarakat secara langsung. Tercatat, kenaikan harga pangan di wonosobo sempat membuat cabai rawit merah menyentuh rekor Rp83.015 per kilogram dan daging sapi meroket naik tajam hingga Rp145.000 per kilogram di tingkat pengecer.

Kondisi ini berpotensi memburuk seiring datangnya ancaman musim kering ekstrem atau El Nino dalam waktu dekat. Pasokan beberapa komoditas yang minim di tingkat lokal membuat warga terancam harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan dapur harian.

Data pada bulan Agustus 2026 menunjukkan tingkat inflasi daerah menyentuh angka 0,49 persen secara bulanan. Angka ini tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi di wilayah Jawa Tengah, yang dipicu langsung oleh ketidakstabilan pasokan bahan makanan pokok.

Meskipun secara tahunan inflasi wilayah ini tertahan di angka 3,01 persen, fluktuasi harga komoditas strategis tetap menjadi ancaman serius. Tekanan terbesar bersumber dari pergerakan harga aneka cabai, bawang merah, beras, dan bawang putih yang terus berubah cepat di pasaran.

Baca juga :  Danramil 03/Mojotengah Pimpin Karya Bakti Bersihkan Tanah Longsor yang Timpa Rumah Warga di Desa Gunturmadu

Ironisnya, wilayah ini sebenarnya berstatus sebagai salah satu sentra produksi pangan utama di Jawa Tengah. Dari sisi produksi gabah, daerah ini diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 50.138 ton beras dari total luasan panen yang mencapai 17.867 hektare.

Di Kecamatan Garung dan Mojotengah, produksi cabai rawit juga diproyeksikan melimpah hingga mencapai 17.111 ton dari luas lahan 1.658 hektare. Namun, rantai pasok yang panjang membuat harga komoditas ini di tingkat konsumen tetap melambung tinggi dan sangat fluktuatif.

Hal sebaliknya terjadi pada pasokan bawang merah yang dipastikan mengalami defisit serius akibat minimnya hasil panen lokal. Kebutuhan warga terpaksa sangat bergantung pada kiriman pasokan dari luar daerah, sehingga harganya amat rentan dipermainkan oleh dinamika cuaca.

Baca juga :  Pasar Induk Ramai Edukasi! Satlantas Wonosobo Ajak Warga Patuh Aturan Jalan

Strategi Redam Gejolak Harga Bahan Pokok

Mengantisipasi krisis kelangkaan stok pangan, pemerintah daerah mulai memetakan sistem pengairan dan mengatur ulang jadwal pola tanam petani. Langkah antisipatif ini diambil agar lahan pertanian tetap produktif meskipun musim kemarau panjang dan suhu panas melanda.

Upaya mendatangkan pengepul besar atau pedagang lintas wilayah juga tengah didorong untuk menutupi celah produksi. Hal ini bertujuan khusus untuk mengamankan ketersediaan bawang merah agar tidak memicu lonjakan harga yang tak terkendali di tingkat eceran.

Fokus utama saat ini adalah memastikan jalur distribusi pangan tidak terhambat hingga ke tingkat agen dan pasar tradisional. Operasi pasar murah secara terukur menjadi opsi darurat yang akan segera digelar jika harga kebutuhan pokok warga kembali melonjak tajam.

Sementara itu, wilayah Kecamatan Kalikajar terus digenjot kemampuannya untuk mendongkrak produksi komoditas bawang putih lokal. Produksi sebesar 1.351 ton diharapkan mampu menekan ketergantungan warga terhadap produk impor, sekaligus mendukung program swasembada bawang putih nasional 2028.

Baca juga :  Petani Terdampak Lonjakan Harga Pupuk Non-Subsidi di Wonosobo

Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo, One Andang Wardoyo, memastikan pemantauan harga bahan pokok terus dilakukan setiap hari di Pasar Induk. Pengendalian volatilitas cabai dan pengawasan tren daging sapi kini menjadi prioritas utama penanganan pangan di lapangan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, membenarkan bahwa tekanan harga bulanan di wilayah ini mayoritas berasal dari komoditas pangan. Ia mengingatkan bahwa kerja sama pasokan antardaerah mutlak diperlukan segera untuk menutupi defisit bawang merah.

Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat turut menginstruksikan agar seluruh pemantauan ketersediaan stok bahan pangan selalu berbasis data riil. “Yang ingin kita jaga bukan hanya angka inflasi, tetapi pangan yang tersedia, harga yang terjangkau, petani yang sejahtera, dan daya beli masyarakat yang tetap terjaga,” ungkapnya.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy