Viral Video Belatung
Home » Shock Factor ataukah Masokis di Adegan Viral Video Belatung?

Shock Factor ataukah Masokis di Adegan Viral Video Belatung?

by Manjie
Listen to this article

satumenitnews.com – Ramainya pembicaraan  video belatung  di media sosial TikTok dan Twitter baru baru ini mengudang banyak rasa penasaran berbagai kalangan.

Sebagian besar netizen syok karena video tampak menunjukkan organ intim vagina berisi belatung hidup.

video yang beredar awalnya menunjukkan pasangan pria dan wanita sedang berhubungan badan.

Kemudian ditampakan ada hewan seperti gerombolan belatung di dalam vagina sang wanita.

Psikiater RSUD Setjonegoro Wonosobo dr Twiena Fridayani Sp Kj menanggapi video tersebut secara kacamata kejiwaan.

Dia mengatakan ada beberapa kemungkinan perilaku dalam video viral tersebut, dimungkinkan hanya sebuah rekayasa untuk mencari sensasi atau mungkin ada indikasi perilaku penyakit kejiwaan (masokis).

Baca juga :  SETAHUN SUDAH PC AMK CIREBON LAKSANAKAN PENGOBATAN GRATIS

“Bisa jadi hanya shock factor mencari sensasi untuk kepentingan konten. Belatung itu enggak mungkin kecuali pada orang yang mati. Belatung biasanya pada jaringan yang sudah infeksi, sudah mati. Kalau inikan masih segar, masih sehat gitu orangnya. Kemungkinan buatan,” bebernya.

Adapun dari sisi kejiwaan bila perilaku itu disengaja untuk memuaskan atau mencari kepuasan seksual bisa disebut masokis.

“Masokis adalah salah satu bentuk penyimpangan seksual yang dialami seseorang. Masokis masuk ke dalam kategori gangguan seksual kejiwaan yang disebut paraphilias. Paraphilias merupakan perilaku atau dorongan seksual abnormal, yang ditandai dengan fantasi dan dorongan seksual yang intens yang terus datang kembali,” terangnya.

dr Twiena mengatakan bila tujuan dari video belatung itu selain shock factor adalah mencari kepuasan maka itu bisa dikategorikan perilaku pengidap masokis.

Baca juga :  Fokus Kesehatan, Forum Madani Gelar Audiensi ke DPRD

“Pengidap masokis perlu mendapatkan perlakukan kasar, keras, atau dihina oleh pasangannya, agar kepuasan seksual tercapai. Tindakan ini mungkin terbatas pada penghinaan verbal, tapi ada juga yang mungkin melibatkan pemukulan, diikat, dilecehkan, hingga dibuat menderita untuk mencapai klimaks seksual,” ujar dr Twiena.

 

You may also like

Leave a Comment