Wonosobo, satumenitnews.com – Ratusan petani dan perajin di Kecamatan Kaliwiro kini bersiap menghadapi tantangan produksi skala besar seiring berdirinya pabrik opak singkong desa cledok. Fasilitas pengolahan senilai total Rp1,7 miliar tersebut memproyeksikan kebutuhan bahan baku hingga 15 ton singkong dalam satu kali putaran sif produksi.
Kehadiran fasilitas ini mengubah skema ekonomi warga setempat yang sebelumnya kerap mengeluhkan anjloknya harga jual panen di pasaran. Kini, para perajin memiliki kepastian jalur pemasaran karena seluruh hasil produksi akan langsung diserap oleh korporasi industri selaku pembeli tetap (off-taker) di wilayah Kedu dan sekitarnya.
Fasilitas produksi yang berdiri di atas lahan milik desa berukuran 9×24 meter ini menelan biaya pembangunan fisik sekitar Rp1 miliar. Sementara itu, kebutuhan mesin dan peralatan berteknologi modern menyedot dana hingga Rp700 juta untuk menjamin kelancaran sistem produksi.
Mesin pengolah ini merupakan hasil pengembangan teknologi tepat guna yang dirancang khusus untuk memastikan higienitas, konsistensi, dan lonjakan kapasitas olahan pangan. Nantinya, produk akhir akan dikemas secara premium dengan membawa identitas visual khas kawasan pegunungan Jawa Tengah, termasuk siluet Gunung Sindoro dan Sumbing.
Proyek pengolahan hasil bumi ini bermula dari temuan lapangan tim riset industri yang melihat besarnya potensi olahan singkong lokal namun terhambat oleh minimnya akses pasar. Pengembangan fasilitas ini kemudian turut melibatkan skema pendanaan dari program Bestari Saintek yang didukung oleh LPDP dan Kemendiktisaintek.
Syarat Administrasi Tahan Operasional Pabrik Opak Singkong Desa Cledok
Meski infrastruktur dasar mulai rampung dikerjakan, mesin-mesin pabrik ini belum bisa langsung dioperasikan dalam waktu dekat. Sejumlah kendala perizinan krusial seperti Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), Sertifikat Laik Fungsi (SLF), dokumen lingkungan, hingga legalitas koperasi desa masih tertahan di meja birokrasi.
Tingginya beban produksi harian juga menuntut jaminan pasokan yang berkesinambungan dari lahan pertanian warga. Masa tanam singkong yang membutuhkan waktu hingga delapan bulan mengharuskan adanya manajemen rotasi panen yang ketat agar pabrik tidak berhenti beroperasi akibat krisis bahan mentah.
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menyoroti pentingnya jaminan harga beli bagi para petani di tingkat hulu. Ia menilai keberadaan alat berteknologi tinggi akan sia-sia jika nilai tukar hasil panen tetap rendah dan tidak sebanding dengan keringat serta biaya tanam warga.
“Jangan sampai petaninya semangat, tetapi harga jualnya rendah,” tegas Afif. Ia menargetkan proses penyelesaian izin bisa dikebut agar operasional pabrik benar-benar menyala dan membawa dampak finansial pada awal 2027 mendatang.
VP of Corporate Communication and Sustainability FKS Group, Patris, memastikan pihaknya tidak sekadar membangun fisik, namun berkomitmen menjadi penampung utama seluruh opak produksi warga. Pihaknya juga menggandeng Politeknik ATMI Surakarta untuk melakukan pendampingan teknis kepada para perajin agar kualitas camilan ini memenuhi standar kelayakan pangan modern.
“Biasanya pengrajinnya sudah didampingi, tetapi produksinya mau ke mana. Nah, kami akan berkomitmen sebagai off-taker-nya,” ungkap Patris terkait skema penyerapan produk tersebut.
Menanggapi macetnya proses dokumen administratif, Kabag Perekonomian dan SDA Setda Wonosobo Lintang Esti menyatakan akan segera memangkas jalur koordinasi lintas instansi. Pihaknya berjanji akan mengumpulkan Dinas Pertanian, Dinas Perdagangan, DPMPTSP, hingga Dinas Lingkungan Hidup guna memastikan kelengkapan syarat legalitas tuntas sebelum target operasional berjalan.

