Lima Musisi Indie Semarang Unjuk Karya Orisinal di Tectona Cafe

Listen to this article

Semarang, satumenitnews.com – Sebanyak lima penampil membawakan lagu ciptaan sendiri di panggung musisi indie Semarang yang bertempat di Tectona Cafe pada akhir Oktober 2026. Ajang bertajuk Band & Band Vol. 2 ini menjadi ruang bagi talenta lokal Jawa Tengah untuk mempresentasikan karya orisinal di hadapan pelaku industri musik.

Para penampil membawakan beragam genre mulai dari pop anak, britpop, pop alternatif, folk etnik, hingga city pop. Selain menampilkan pertunjukan musik, agenda tersebut juga mempertemukan para musisi dengan empat kurator untuk membedah kualitas karya dan mentalitas bermusik.

Penyanyi cilik asal Semarang, Vanya Mahveen, membuka pertunjukan dengan membawakan dua lagu menggunakan format minus one. Salah satu nomor yang ia nyanyikan merupakan karya ciptaannya sendiri yang didedikasikan untuk orang tuanya.

Penampilan kedua dilanjutkan oleh kuartet lokal, Semajas, yang membawakan tiga lagu beraliran britpop. Setelah itu, seorang dokter asal Semarang bernama Daus Rose naik ke panggung bersama grup pengiringnya, Kidung Lestari. Mereka menyajikan tiga repertoar pop alternatif yang dipadukan dengan tata busana tematik di atas panggung.

Pertunjukan berlanjut dengan penampilan solis asal Jakarta berdarah Pontianak, Reza Miranda. Ia memainkan gitar akustik yang menghasilkan denting nada menyerupai alat musik dawai tradisional Kalimantan, Sape.

Respons pengunjung Tectona Cafe membuat Reza harus menambah jumlah lagu di akhir sesi penampilannya. Rangkaian pertunjukan musik malam itu kemudian ditutup oleh Gistara Project, grup musik remaja asal Semarang yang membawakan tiga lagu bernuansa city pop dan memicu penonton untuk ikut bernyanyi bersama.

Kurator Musik Bedah Fenomena Star Syndrome di Panggung Musisi Indie Semarang

Di sela-sela pergantian penampil, penyelenggara mengadopsi format Kurasi Musik Indonesia dengan menggelar diskusi terbuka mengenai fenomena penyakit merasa terkenal atau star syndrome. Sesi bincang-bincang ini dipandu oleh Dayat Madani bersama anggota Emas Band, Ari Singo.

Diskusi tersebut melibatkan seluruh musisi penampil, pengunjung kafe, serta empat kurator yang hadir yakni Ully Dalimunthe, Edmond Kemur, Phanoz D’Avery, dan Emtee Blackmore. Para kurator menyoroti pentingnya menjaga sikap profesional bagi musisi daerah yang baru merintis karier di industri rekaman.

Para kurator menilai bahwa kemampuan teknis dalam menciptakan lagu orisinal harus diimbangi dengan kesiapan mental saat karya tersebut mulai dikenal publik. Sikap cepat puas dinilai sering menjadi penghambat utama bagi perkembangan karier grup musik lokal di Jawa Tengah.

“Banyak talenta daerah yang punya karya orisinal bagus, tetapi kariernya cepat redup karena terkena star syndrome sebelum benar-benar masuk ke industri musik yang sesungguhnya,” ujar Ully Dalimunthe saat memberikan evaluasi kepada para penampil di Tectona Cafe.

Related posts

6 Musisi Indie Tembus Hujan di Konser Simpang Musik Semarang

Lima Musisi Lintas Kota Tembus Uji Kurasi Musik di Wonosobo

Jaga Tradisi di Era Digital, Hadiri Kemeriahan FMTI 2026 Wonosobo!

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Read More