Semarang, satumenitnews.com – Enam musisi independen lintas daerah tetap tampil di tengah guyuran hujan pada konser Simpang Musik Semarang di halaman Museum Mandala Bhakti, Kota Semarang, Kamis (29/10/2026). Penonton dan penampil bertahan di lokasi acara meski cuaca buruk melanda ibu kota Jawa Tengah tersebut sejak siang hari.
Total ada 24 lagu orisinal yang dimainkan oleh enam penampil dari Semarang dan Jakarta sepanjang acara berlangsung. Setiap musisi mendapatkan jatah empat lagu untuk mempresentasikan karya mereka di hadapan publik Kota Semarang.
Grup musik lokal asal Semarang, LaSora, membuka panggung dengan empat repertoar bernuansa pop romantis. Aransemen yang mudah diingat dari unit pop ini langsung menarik perhatian pengunjung yang memadati area halaman museum.
Penampilan kedua dilanjutkan oleh Semajas yang membawa warna musik britpop khas skena independen Kota Semarang. Kuartet ini menyajikan empat karya orisinal secara berurutan dengan tempo yang menjaga antusiasme penonton di tengah cuaca dingin.
“Kami tetap naik panggung membawakan empat lagu orisinal karena penonton di Semarang juga tidak beranjak meski hujan turun sejak siang,” ujar vokalis Semajas usai turun dari panggung.
Solis asal Semarang, Daus Rose, kemudian mengambil alih panggung bersama band pengiringnya yang bernama Kidung Lestari. Mengandalkan karakter vokal yang tebal, Daus membawakan repertoar bergenre pop alternatif kepada para pendengar yang hadir.
Eksplorasi Genre di Konser Simpang Musik Semarang
Memasuki pertengahan acara, panggung konser Simpang Musik Semarang diisi oleh penampil luar daerah yang membawa instrumen dan genre akustik. Bivo, satu-satunya solis perempuan asal Jakarta dalam daftar penampil malam itu, naik panggung seorang diri hanya dengan iringan gitar akustik.
Ia membawakan empat nomor balada di tengah rintik hujan yang masih turun di kawasan Tugu Muda. Sepanjang gilirannya, Bivo membangun komunikasi dua arah dengan menyapa dan mengajak berdialog para pengunjung di depan panggung.
Sesi berikutnya menampilkan Reza M Miranda, musisi kelahiran Pontianak yang kini menetap dan berkarya di Jakarta. Reza menghadirkan eksplorasi musik folk Kalimantan melalui teknik permainan gitar yang menyerupai bunyi alat musik dawai tradisional Sape.
“Permainan gitar bernuansa Sape ini saya bawa ke Semarang agar pendengar di Jawa Tengah bisa mengenal warna musik folk Kalimantan,” kata Reza di sela-sela penampilannya.
Empat lagu berformat etnik kontemporer dari Reza memberikan variasi warna musik di antara dominasi genre pop dan alternatif malam itu. Rangkaian panggung kemudian ditutup oleh musisi sekaligus pengusaha asal Semarang, Agung Dorian, yang tampil penuh bersama grup band pengiringnya.
Agung membawakan empat karya pop miliknya sebagai penutup seluruh rangkaian pertunjukan malam tersebut. Pihak penyelenggara dari jaringan Kurasi Musik Indonesia merancang panggung Simpang Musik Semarang ini dengan slogan Kongkow, Konser, Konek.
Format pertunjukan tersebut disusun sebagai ruang temu dan edukasi hiburan bagi para pelaku industri musik independen di Jawa Tengah. Melalui panggung terbuka ini, manajemen Kurasi Musik Indonesia memfasilitasi para musisi lokal dan lintas provinsi untuk memperkenalkan karya orisinal mereka kepada pendengar baru.