Lima Musisi Lintas Kota Tembus Uji Kurasi Musik di Wonosobo

Listen to this article

Wonosobo, satumenitnews.com – Lima musisi lintas genre dari tiga provinsi menjalani ujian panggung dalam ajang kurasi musik independen Wonosobo di Le Coffee Wonosobo, Minggu (1/11/2026) malam. Guyuran gerimis sejak pukul 19.00 WIB tidak menghentikan para penampil asal kawasan Kedu, Jawa Barat, hingga Kalimantan Barat tersebut untuk membawakan karya orisinal di hadapan tim penilai dan penonton.

Kelima penampil yang diuji meliputi tiga grup band asal Kabupaten Temanggung, yakni The Sarmi, Bara Senja, dan Foofufafa. Dua penampil lainnya adalah musisi solo lintas provinsi, yaitu Inigindi asal Kota Bekasi serta Reza Miranda dari Kota Pontianak.

Inigindi membuka sesi penilaian lewat repertoar yang menggabungkan komposisi pop dan distorsi metal. Tampil seorang diri di urutan pertama, musisi asal Bekasi ini langsung memicu respons aktif dari barisan penonton maupun meja kurator.

Dominasi musisi wilayah Kedu terlihat kuat saat tiga band asal Temanggung naik ke panggung dengan karakter musik berbeda. Grup punk rock The Sarmi dan unit grunge Foofufafa sama-sama menyuarakan lirik kritik sosial bertempo cepat, sementara grup musik pelajar Bara Senja memilih jalur pop bertema romansa remaja.

Penampil terjauh malam itu, Reza Miranda dari Pontianak, melengkapi daftar peserta kurasi lewat teknik vokal bertenaga pada urutan keempat. Kehadiran lima penampil dengan latar belakang genre yang kontras ini membuat proses penilaian panggung berjalan dinamis hingga sesi penutup.

“Kami melihat kelima penampil malam ini sudah berani keluar dari zona nyaman dengan membawa materi orisinal yang matang secara aransemen maupun pesan lirik,” ujar perwakilan tim kurator di lokasi acara.

Uji Mentalitas Musisi Lewat Bedah Kurasi Musik Independen Wonosobo

Selain penilaian teknis di atas panggung, rangkaian kurasi musik independen Wonosobo edisi ke-10 ini juga menguji kesiapan mental para peserta melalui sesi diskusi terbuka. Forum interaktif yang disisipkan di sela pergantian alat musik tersebut mengangkat topik fenomena sindrom bintang atau star syndrome di kalangan musisi era digital.

Para peserta dan penonton yang memadati area Le Coffee Wonosobo terlibat tanya jawab seputar cara menjaga sikap profesional saat karya mereka mulai dikenal publik lewat media sosial. Pembahasan ini menjadi poin penilaian penting bagi musisi daerah di Jawa Tengah agar tidak cepat puas ketika mendapat sorotan awal di industri musik.

“Bakat dan karya yang bagus di panggung bisa hancur seketika jika musisi baru sudah terkena star syndrome sebelum waktunya,” tegas salah satu narasumber dalam sesi diskusi tersebut.

Pihak penyelenggara dari Kurasi Musik Jawa Tengah mencatat bahwa seluruh peserta pada volume ke-10 ini memperoleh catatan evaluasi positif terkait perkembangan proses kreatif mereka. Penyelenggara memastikan agenda pengujian karya serupa akan kembali berlanjut pada edisi ke-11 mendatang untuk memetakan talenta baru di wilayah Wonosobo dan sekitarnya.

Related posts

Jaga Tradisi di Era Digital, Hadiri Kemeriahan FMTI 2026 Wonosobo!

Resonansi Bundengan di Gunung Sumbing: Hadiri FMTI Wonosobo 2026

Mengenal Demangan Fest: Sisi Otentik Perayaan Akar Rumput Yogyakarta

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Read More