Menapaki Natas Angin, Puncak Tertinggi Pegunungan Muria

by Arum

Beberapa kali, kami bertemu kelompok pendaki lain, beberapa anak muda dari Rembang Jepara, juga pendaki dari Kudus sendiri, semuanya kelompok laki-laki. Dari pos satu hingga sampai pos lima, area camping sebelum puncak atau pos 5 pendataan, kami berdua sama sekali tidak berpapasan dengan pendaki perempuan.

Menapaki Natas Angin, Puncak Tertinggi Pegunungan Muria

Puncak Natas Angin berkabut

Pegunungan Muria nan Eksotis, Coba Saja

Perlu diketahui, pada pendakian puncak Natas Angin tidak ada basecamp untuk regristrasi di awal pendakian. Yang ada hanya pendataan di pos terakhir sebelum menuju puncak. Berapa biaya pendataan? Itu tergantung dari seberapa harga yang pantas pendaki pikir untuk perjalanan yang sudah dilaluinya menuju puncak Natas Angin alias seiklhasnya.

Pukul 23.30 WIB, kami berdua mendirikan tenda kapasitas 2 orang. Menimbun lelah sementara sebelum pukul 05.00 WIB kami lanjut jalan menuju puncak Natas Angin. Setidaknya dari informasi di bagian pendataan, butuh 1 jam untuk mencapai titik tertinggi pendakian.

Baca juga :  Tersebar di Sembilan Kecamatan, Tanah Wakaf di Kudus Capai 3009 Titik

Cukup mencengangkan, perjalanan terakhir ke puncak tidak semudah mengambil foto perjalanan. Ada dua jalur yang bisa dipilih, jalur bebek dan jalur naga. Tercepat melalui jalur naga, dan diputuskan memilih jalur itu kendati juga tidak tahu medan yang akan dilalui bagaimana. Hanya kami berdua.

Kondisi saat itu sangat berkabut, jalur pendakian sama sekali tidak terlihat. Banyak ilalang setinggi dagu yang perlu dilalui. Sebelah kanan jalur adalah jurang yang tertutup kabut. Beberapa ratus meter jalur mulai menanjak kembali dengan vegetasi pohon tinggi. Pada titik itu, ada sebuah makam atau petilasan yang sedikit membuat aliran darah naik ke jantung mendadak.

Sangat perlu bagi pendaki duet atau solo mengamanan perasaan dengan berpikir realistis, jika makam adalah makam dan tidak ada apa-apa. Kawan saya mengucap salam, namun saya yang jawab. Itu respon agar dia tidak terganggu dengan kemungkinan terburuk dari faktor diluar teknis. Secara ini menjadi pendakian pertama kawan saya.

Baca juga :  Berburu Takjil dan Ngabuburit Asik di Kudus

Selain bangunan dan tempat menyerupai makam, pendaki juga akan melintasi petilasan yang diyakini Proklamator sekaligus Presiden pertama Indonesia, Soekarno pernah berada di sana. Pendaki harus jeli melihat tanda dan arah jalur pendakian.

Vegetasi pohon rimbun berganti dengan ilalang tinggi, sekali lagi sebelah kanan adalah jurang dan sebelah kiri ditumbuhi pohon curam. Mungkin ini yang disebut jalur naga, karena menyisakan satu jalur sempit yang panjang untuk dilalui pendaki, di dua sisi, sama berbahayanya.

Jalur semakin menanjak, kiri kanan masih jurang. Beruntung, pada titik rawan sudah dilengkapi dengan seutas tali yang membantu pendaki berpegangn melalui jalur pendakian. Orang bisa menganggap remeh pendakian karena puncak tertinggi 1.780 mdpl, namun perjalanan mendaki ke puncak Natas Angin itu terasa penuh drama.

Baca juga :  PTM Akan Segera Digelar, Puskesmas Jati Gelar Monitoring Pengawasan Prokes

Cuaca masih buruk saat sampai di puncak. Tidak ada matahari padahal sudah sekitar pukul 06.00 WIB, hanya ada belasan pendaki yang duduk berdiam, nyaris semuanya laki-laki menyisakan kami berdua dan seorang perempuan lagi. Area puncak cukup sempit, hanya muat 3-4 tenda, itu alasan kenapa pendaki seharusnya meninggalkan tenda di pos 5.

Kami putuskan turun setengah tujuh pagi, dengan estimasi waktu kembali di tempat parkir sebelum pukul 12.00 WIB. Jika ditotal untuk perjalanan dari titik awal ke puncak butuh 4,5 jam, sementara untuk kembali dari puncak ke tempat parkir total sekitar 4 jam. Itu jalan santai dan beberapa kali berhenti, waktu itu relatif bisa lebih cepat bagi pendaki yang biasa melakukan pendakian.

Ke puncak Natas Angin itu menarik dilakukan, jadi coba saja. (rum/e2)

You may also like

Leave a Comment