Yogyakarta, satumenitnews.com – Membeli jajanan dari pedagang lansia bukan sekadar urusan memenuhi kebutuhan perut. Di balik setiap dagangan mereka tersimpan semangat untuk tetap mandiri dan bekerja. Mereka berjuang keras mempertahankan martabat hidup di usia senjanya.
Berangkat dari semangat tersebut, Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Kota Yogyakarta menyuarakan gerakan mulia. Wakil Ketua Bidang UMKM GPM, Herlambang Cahyo Nugroho, S.Sej., mengajak seluruh elemen masyarakat. Warga diimbau mulai menormalisasikan kebiasaan jajan di lapak milik lansia.
Gerakan ini mengajak anak muda dan masyarakat lebih peduli terhadap eksistensi pedagang lansia. Warga bisa membeli kue tradisional, leker, kopi, donat, dan ragam jajanan lainnya.
Hargai Hak Lansia untuk Berdaya
Menurut Herlambang, gerakan ini bukan sekadar membantu orang tua karena dasar belas kasihan. Masyarakat perlu membangun kesadaran bahwa para lansia juga memiliki hak fundamental. Mereka berhak tetap produktif dan berdaya secara finansial.
Lansia juga berhak memperoleh ruang yang layak dalam kehidupan sosial perkotaan.
“Jangan hanya merasa kasihan kepada pedagang lansia. Datanglah, beli dagangannya, dan hargai pekerjaannya,” imbau Herlambang.
Ia ingin para lansia tetap berdaya, berpenghasilan, dan merasa dihargai lingkungannya. Membeli satu jajanan mungkin terlihat sangat sederhana. Namun, langkah kecil tersebut bisa sangat berarti bagi kelangsungan hidup mereka.
Wujud Keberpihakan Ekonomi Marhaenisme
Gerakan ini berakar kuat pada nilai-nilai Marhaenisme warisan Presiden Soekarno. Marhaenisme senantiasa mengajarkan keberpihakan mutlak kepada kepentingan rakyat kecil.
Mereka bekerja dengan tenaga sendiri untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga. Namun, mereka sering kali berada dalam posisi roda ekonomi yang sangat rentan. Pedagang lansia adalah gambaran paling nyata dari kelompok tersebut.
Mereka gigih bekerja di tengah segala rintangan dan keterbatasan fisik. Lansia hanya mengandalkan keterampilan, pengalaman, dan modal sederhana untuk bertahan hidup.
Dalam perspektif Marhaenisme, keberpihakan tidak cukup hanya melalui slogan atau pidato politik. Keberpihakan harus terwujud dalam tindakan konkret yang menyentuh urat nadi rakyat.
Membeli dagangan lansia merupakan bentuk nyata sebuah solidaritas ekonomi. Uang masyarakat akan langsung menggerakkan roda ekonomi rakyat kecil secara berkelanjutan. Langkah ini sekaligus memberikan penghargaan tinggi terhadap kerja keras kaum lansia.
Yogyakarta Hadapi Tantangan Demografi
Di sisi lain, Kota Yogyakarta juga harus memikirkan tantangan demografi ke depannya. Proporsi jumlah penduduk lanjut usia kini terus mengalami peningkatan yang tajam.
Fenomena penuaan penduduk ini membawa konsekuensi besar terhadap berbagai aspek kehidupan. Tantangan ini meliputi sektor kesehatan, perlindungan sosial, kesempatan kerja, hingga kemandirian ekonomi.
Yogyakarta tidak cukup hanya berpredikat sebagai kota pendidikan, budaya, dan wisata. Kota ini harus mampu menjadi kawasan yang ramah bagi kaum lansia. Daerah harus memberikan ruang agar mereka tetap aktif, produktif, dan bermartabat.
Jangan sampai masyarakat dan pemerintah gagap saat populasi lansia makin membengkak. Karena itu, pemberdayaan ekonomi lansia harus menjadi perioritas perhatian bersama sedini mungkin.
Lansia bukan semata-mata kelompok pasif penerima bantuan sosial negara. Mereka memiliki pengalaman, keterampilan, dan potensi ekonomi yang layak untuk terus dikembangkan. Lapak sederhana milik mereka merupakan bukti nyata besarnya potensi tersebut.
Pemuda Wajib Dukung Usaha Lansia
GPM Kota Yogyakarta menilai pemuda berperan penting dalam membangun ekosistem ekonomi inklusif. Salah satu caranya adalah dengan mengubah pola kebiasaan konsumsi harian masyarakat.
Pemuda biasanya gemar berbelanja di pusat perbelanjaan modern atau minimarket. Kini, mereka harus mulai membiasakan diri mampir ke lapak pedagang lansia.
Belilah jajanan mereka dan bantu promosikan usahanya melalui ragam media sosial. Ajak teman terdekat untuk ikut membeli dan bantu perluas pemasaran produknya. Langkah sederhana ini merupakan dukungan nyata bagi keberlangsungan usaha lansia.
Gerakan ini mengingatkan bahwa parameter pembangunan kota bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi makro. Pembangunan gedung dan modernisasi fasilitas juga bukan ukuran mutlak kemajuan. Pembangunan sejati harus mampu menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh kelompok masyarakat terbawah.
Kota maju adalah kota yang sanggup menjaga kelangsungan lapak kecil rakyatnya. GPM Kota Yogyakarta mengajak semua pihak menyukseskan kampanye jajanan lansia ini.
“Jajanan lansia punya rasa autentik yang tidak akan ada di minimarket,” tuturnya.
Setiap jajanan yang terbeli bukan sekadar persoalan cita rasa masakan semata. Hal ini menyangkut penghargaan atas perjuangan, menjaga martabat, dan membangun masa depan lansia.

