Wonosobo, satumenitnews.com – Retakan tanah dan tanda-tanda longsor di kawasan Kabupaten Wonosobo bukan sekadar masalah lokal, melainkan alarm keras bagi seluruh bentang alam dataran tinggi Wonosobo, termasuk kawasan Telaga Menjer dan Dieng. Kondisi geografis yang serupa membuat ancaman ekologis ini bisa merembet ke wilayah lain jika tidak segera ditangani secara radikal.
Merespons situasi genting ini, kolaborasi lintas elemen bergerak cepat melakukan intervensi ekologis di lapangan, Senin (19/1/2026). Aksi ini dimotori oleh Yayasan Jatubu, PT Indonesia Power, serta melibatkan elemen masyarakat akar rumput seperti Komunitas Ojol Wonosobo Bersatu.
Pemerintah Kabupaten Wonosobo turut memberikan atensi penuh. Meski Bupati berhalangan hadir, kehadirannya diwakili langsung oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Wonosobo yang terjun ke lokasi bersama Kepala Dinas Perhubungan.
Ketua Yayasan Jatubu, Mantep Abdul Goni, menegaskan bahwa gerakan ini adalah upaya “menambal” kerusakan lingkungan yang kian masif.
“Tujuannya tidak lain tidak bukan agar Wonosobo kembali hijau. Kita tahu bersama, tanda-tanda longsor sudah mulai ada. Meskipun ada yang bilang ini agak sulit, tapi kita tetap jalan terus,” ungkap Mantep di sela kegiatan.
Mantep memperingatkan, jika pemangku kepentingan hanya sibuk berdiskusi tanpa aksi nyata, bencana longsor hanyalah soal waktu. Pergerakan tanah di satu titik bisa menjadi pemicu domino bagi kerawanan di kawasan dataran tinggi lainnya.
Sinergi Ojol hingga Pemerintah
Keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan ini menjadi bukti bahwa isu lingkungan di Wonosobo telah menjadi keresahan kolektif. Kehadiran Komunitas Ojol Wonosobo Bersatu, misalnya, menunjukkan bahwa kesadaran ekologis tidak hanya milik pejabat atau aktivis, tetapi juga masyarakat yang sehari-hari menggantungkan hidup di jalanan.
Sebanyak kurang lebih 10.000 batang pohon disiapkan untuk kegiatan ini. Mantep menjelaskan, strategi penanaman kali ini difokuskan pada jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomi jangka panjang namun berfungsi sebagai pengikat tanah.
“Kita butuh penanaman kayu-kayu keras, tapi yang tidak untuk ditebang. Yang diambil adalah manfaat non-kayunya, seperti kayu putih, kayu manis, dan gaharu. Syukur-syukur bisa menanam beringin,” jelasnya.
Transisi Menuju Agroforestri
Selain penanaman, fokus utama gerakan ini adalah mengubah pola pikir pertanian di kawasan hulu. Pola tanam sayur semusim yang dominan di dataran tinggi Dieng dan sekitarnya terbukti mempercepat laju erosi tanah.
Mantep menawarkan solusi jalan tengah melalui skema agroforestri. Petani didorong untuk beralih secara bertahap dari tanaman sayur ke tanaman perkebunan seperti kopi. Kopi dinilai memiliki akar yang lebih kuat untuk menahan struktur tanah tebing, namun tetap menguntungkan secara ekonomi bagi petani.
“Diharapkan setelah kopi, karena pertanian sayur di lahan hutan kan dilarang, kita coba arahkan menjadi perkebunan. Dari perkebunan ini minimal air bisa tertahan dan kualitas udara membaik,” papar Mantep.
Langkah kolaboratif antara pemerintah daerah, korporasi (Indonesia Power), aktivis lingkungan, dan komunitas ojol ini diharapkan menjadi model pemulihan lingkungan yang berkelanjutan demi keselamatan warga Wonosobo di masa depan.

