Wonosobo, satumenitnews.com – Dinamika kehidupan modern membawa ancaman ganda bagi pertumbuhan generasi muda di kawasan pegunungan. Selain risiko gizi buruk, paparan gawai yang tidak terkendali kini memperparah kondisi ketahanan mental dan fisik anak. Menghadapi situasi ini, upaya cegah stunting anak di Wonosobo tidak lagi bisa hanya dibebankan pada figur ibu, melainkan menuntut keterlibatan mutlak dari seorang ayah.
Absennya pengawasan orang tua secara langsung sering kali berujung pada gaya hidup anak yang pasif. Layar digital yang menyala berjam-jam tanpa henti diam-diam merusak konsentrasi, mengurangi aktivitas fisik, dan mengaburkan pentingnya asupan gizi seimbang. Di sinilah intervensi pengasuhan menjadi sangat krusial.
Ketidakhadiran figur ayah, baik secara fisik maupun emosional (fatherless), berdampak langsung pada rapuhnya fondasi karakter anak. Padahal, kehadiran ayah terbukti secara psikologis mampu membentuk rasa percaya diri dan disiplin anak dalam menghadapi tantangan eksternal, termasuk pergaulan bebas dan risiko pernikahan usia dini.
Perkawinan anak di bawah umur masih menjadi bayang-bayang gelap bagi kualitas sumber daya manusia di wilayah Kedu dan sekitarnya. Praktik ini berkontribusi langsung pada tingginya risiko kelahiran bayi dengan status stunting. Oleh karena itu, edukasi reproduksi dan kesadaran membangun keluarga sehat harus dimulai dari ruang keluarga, dengan ayah sebagai salah satu pilar utamanya.
Dorongan Kolektif dan Bukti Nyata dari Generasi Muda
Urgensi mengenai pola asuh ini selalu menjadi sorotan utama pemerintah daerah. Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, secara konsisten menegaskan bahwa penyelesaian masalah gizi buruk membutuhkan gerakan lintas sektoral yang dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga.
“Kita harus terus menurunkan angka stunting, memperkuat pendidikan karakter, serta menciptakan keluarga yang mampu menjadi tempat tumbuh kembang anak secara sehat, aman, dan penuh kasih sayang,” tegas Afif dalam dorongannya kepada masyarakat dan jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk menjadi pelopor keluarga berkualitas.
Kabar baiknya, kesadaran akan pentingnya perencanaan keluarga kini mulai tumbuh dari kalangan remaja. Kehadiran figur pemuda yang peduli pada masa depan bangsa menjadi bukti bahwa kemajuan nyata bisa diwujudkan di tingkat daerah.
Sebagai contoh, representasi pemuda sadar keluarga dari daerah ini, seperti Muhammad Nur Muqodas dan Bilqis Miftahul Jannah, telah menunjukkan kiprah mereka hingga tingkat provinsi melalui ajang Duta GenRe (Generasi Berencana). Langkah dan dedikasi remaja-remaja inspiratif seperti ini diharapkan mampu memicu kesadaran generasi sebayanya tentang pentingnya merencanakan masa depan, demi memutus rantai stunting secara permanen.
Menghadapi fase bonus demografi yang menuntut sumber daya manusia unggul, fokus masyarakat harus segera bergeser. Kualitas fisik, pemenuhan gizi, dan stimulasi kognitif anak sejak dalam kandungan adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa ditawar, dan semuanya membutuhkan kolaborasi utuh antara ayah dan ibu di rumah.

