Wonosobo, satumenitnews.com – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day pada 1 Mei 2026 memunculkan dinamika yang kontras antara rencana gegap gempita di ibu kota dengan sikap kritis pekerja di daerah.
Di Jakarta, Monumen Nasional (Monas) hari ini akan menjadi pusat perhatian karena Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir langsung di tengah massa. Aksi yang digerakkan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) ini diproyeksikan akan melibatkan sekitar 400.000 pekerja. Massa rencananya membawa 11 tuntutan utama, di antaranya kenaikan batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) menjadi Rp7,5 juta dan penghapusan sistem kerja alih daya atau outsourcing.
Skeptisisme Buruh Wonosobo Terhadap Seremoni Pusat
Rencana kehadiran orang nomor satu di Indonesia dalam perayaan buruh tersebut tidak serta-merta disambut euforia oleh aktivis pekerja di daerah. Aliansi Serikat Pekerja Wonosobo (ASPW) justru memberikan catatan kritis terhadap rencana keterlibatan pemerintah dalam seremoni May Day tahun ini.
Ketua ASPW, Andreas Suroso, menyatakan bahwa langkah Presiden Prabowo memang patut dinantikan karena rekam jejaknya yang sering memberikan kejutan. Namun, ia menekankan bahwa substansi kesejahteraan jauh lebih penting daripada rencana kehadiran fisik di panggung perayaan.
“Presiden Prabowo Subianto penuh kejutan. Setelah mengangkat aktivis buruh jadi Menteri Lingkungan Hidup, kini beliau mau hadir dalam rangka perayaan May Day di Monas. Kita tunggu mau buat kejutan apa lagi. Tapi harapan utama buruh jelas: hapus tenaga kerja outsourcing di negeri ini,” kata Andreas kepada satumenitnews.com, Jumat (1/5/2026) dini hari.
Kritik Terhadap Regulasi UU Cipta Kerja
Andreas secara tajam menyoroti dampak kedekatan para pimpinan serikat buruh nasional dengan lingkaran kekuasaan. Menurutnya, penempatan tokoh buruh di kursi kementerian tidak akan mengubah nasib pekerja di akar rumput selama regulasi yang merugikan tetap berlaku.
Ia menilai sistem kerja outsourcing tetap menjadi momok utama bagi tenaga kerja formal, termasuk di Kabupaten Wonosobo. Baginya, perbaikan regulasi adalah harga mati yang tidak bisa ditukar dengan jabatan politik bagi para elit serikat.
“Jangankan satu, tunggu pimpinan buruh mau dijadikan menteri semua pun, selama UU Cipta Kerja masih melegalkan sistem kerja outsourcing, tidak ada dampaknya buat buruh tenaga kerja formal di Wonosobo,” tegas Andreas.
Aksi Sosial di PT Tambi Sebagai Alternatif Pergerakan
Berseberangan dengan rencana aksi massa besar-besaran di Jakarta, ASPW memilih merayakan May Day hari ini dengan cara yang lebih menyentuh langsung kebutuhan anggota. Mereka menghindari mobilisasi massa ke jalanan maupun kantor pemerintahan.
Aliansi Buruh Wonosobo tahun ini memusatkan kegiatan pada kepedulian sosial dan solidaritas antarpekerja. Langkah ini diambil sebagai bentuk refleksi atas kondisi buruh saat ini.
“Maka dari itu, kami dari Aliansi Buruh Wonosobo hari ini lebih memilih membuat acara doa bersama dan pembagian sembako. Acara kami pusatkan di Gedung Wisata PT Tambi Tanjungsari,” ujar Andreas.

