Wonosobo, satumenitnews.com – Ratusan warga berjalan tanpa mengeluarkan suara melintasi kawasan pusat kota dengan hanya membawa nyala obor pada Kamis (23/7/2026) malam. Aksi diam massal ini merupakan bagian dari prosesi tapa bisu kabupaten wonosobo guna meminta keselamatan wilayah dari segala bentuk marabahaya.
Rombongan pejalan kaki bergerak perlahan dimulai dari kawasan Klenteng Honggoderpo dan berakhir di Pendopo Kabupaten. Para peserta yang mengenakan busana adat Jawa tersebut bertugas membawa Air Suci Tirto Perwitosari serta Bantolo, yakni segenggam tanah yang sebelumnya diambil langsung dari Desa Plobangan, Kecamatan Selomerto.
Tanah dan air suci yang dibawa selama berjalan kaki tersebut kemudian disatukan setibanya di Pendopo. Praktik penyatuan benda ini dibarengi dengan ritual Hastungkara Ujubing Umbul Donga, sebuah doa lintas agama yang dipimpin oleh tokoh enam agama dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bersama Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI).
Aktivitas spiritual tersebut digelar sebagai bukti faktual kokohnya kerukunan warga lintas keyakinan di wilayah Jawa Tengah, khususnya bagi warga lokal. Setelah doa lintas agama tuntas dilaksanakan, fokus warga dipindahkan ke area Paseban Timur untuk memulai tahap berikutnya.
Simbol Perlindungan Hukum di Tengah Prosesi Tapa Bisu Kabupaten Wonosobo
Di Paseban Timur, warga langsung menggelar Birat Sengkala yang ditujukan secara spesifik untuk menyingkirkan segala potensi bencana, hambatan fisik pembangunan, serta berbagai kesulitan hidup. Kegiatan ini dipertahankan sebagai wujud ikhtiar warga dalam menjaga stabilitas dan keamanan daerah dari risiko buruk.
Pada rangkaian malam yang sama, diserahkan pula Dwi Pusaka Praja kepada perwakilan MLKI. Dua benda yang terdiri dari Tombak Karawelang dan Songsong Pangayoman ini diserahkan murni sebagai simbol penegakan kebenaran berbasis hukum serta lambang perlindungan langsung bagi masyarakat luas.
Semua rentetan aktivitas malam tersebut menandai peringatan Hari Jadi ke-201 daerah setempat dengan mengusung tema “Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi”. Tema ini menitikberatkan pada pentingnya warga bersatu padu dan bekerja sungguh-sungguh demi mencapai kondisi perekonomian yang subur serta sejahtera.
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menyebut seluruh laku batin warganya berangkat dari rasa syukur karena wilayahnya masih terhindar dari konflik sosial dan memiliki lahan produktif untuk sumber kehidupan pokok.
“Melalui rangkaian prosesi adat dan spiritual tersebut, kita bersama-sama memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa demi keselamatan, kemakmuran, dan kesejahteraan seluruh masyarakat Kabupaten Wonosobo,” tegas Afif merangkum tujuan utama warga.
Ia menegaskan bahwa penyatuan air suci dari empat penjuru arah mata angin mencerminkan kebersihan niat publik dalam bekerja, sementara tanah dari Plobangan mengikat warga pada tanggung jawab menjaga batas wilayahnya.
Kepala Bidang Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat, Ratna Sulistiyowati, membenarkan bahwa aksi tutup mulut peserta serta pengambilan sumber air alam merupakan taktik spiritual tolak bala tahunan.
“Prosesi Tapa Bisu merupakan doa masyarakat dengan harapan Wonosobo senantiasa aman, tenteram, sejahtera, serta dijauhkan dari berbagai bencana,” jelas Ratna.
Ia memastikan bahwa ritual menyingkirkan sengkala adalah cara warga merespons rintangan harian agar laju pembangunan fisik tata kota selalu dikawal secara ketat dengan kewarasan budaya leluhur.

