Ratusan Pedagang APPSI Wonosobo Geruduk DPRD, Tuntut Perlindungan dari Gempuran Ritel Modern

Listen to this article

Wonosobo, satumenitnews.com – Ratusan pedagang pasar tradisional yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kabupaten Wonosobo mendatangi gedung DPRD setempat pada Rabu, 17 Juni 2026. Sekitar 150 orang perwakilan pedagang ini membawa satu keresahan utama, yakni eksistensi pasar tradisional yang kian terpuruk dan perlunya intervensi nyata dari pemerintah daerah.

Ketua APPSI Wonosobo, Fikri Wijaya, menyebut pergerakan ini merupakan sejarah baru bagi daerah yang berada di kawasan Kedu, Jawa Tengah tersebut. Selama ini, pedagang dari 15 kecamatan dan pasar pusat kota seperti Pasar Induk, Pasar Pagi, dan Pasar Sumberan bergerak secara terpisah.

“Baru pertama kali ini seluruh pedagang diwadahi oleh APPSI dan ternyata semuanya sangat kompak. Kekompakan ini lahir karena satu hal, kami memiliki keresahan yang sama terkait eksistensi pasar tradisional ke depan, di mana kondisinya saat ini bisa dibilang hidup segan, mati tak mau,” ujar Fikri seusai audiensi.

Tampak ruang rapat DPRD Wonosobo penuh sesak oleh perwakilan pedagang APPSI yang menanti langkah nyata eksekutif dan legislatif untuk meramaikan kembali pasar tradisional. Dok. Foto satumenit

Regulasi Ruang untuk Ritel Modern

Sepinya pasar tradisional tidak hanya dipicu oleh faktor internal, tetapi juga invasi bisnis berskala besar. Fikri menyoroti gempuran institusi bisnis modern yang mendapat ruang luas, sehingga membuat pasar kerakyatan semakin tersudut.

Oleh karena itu, APPSI mendesak pihak eksekutif dan legislatif untuk menciptakan payung hukum yang tegas. Aturan ini harus mengatur jarak dan membatasi kuota pendirian pasar atau ritel modern di sebuah kawasan agar tidak mengepung ekosistem pasar tradisional.

“Sebenarnya ada cara untuk meramaikan kembali pasar asalkan ada keseriusan. Kami butuh perlindungan dari penentu kebijakan,” tegas Fikri.

Menuntut Pelibatan Asosiasi dalam Tata Kelola

Selain ancaman eksternal, APPSI juga mengkritik keras buruknya tata kelola dan minimnya perawatan sarana prasarana pasar. Selama ini, kebijakan pengelolaan pasar terkesan sepihak dan diserahkan sepenuhnya kepada Unit Pelaksana Teknis (UPT) tanpa melibatkan perwakilan pedagang.

Fikri menilai, jika pemerintah dan UPT mau berkolaborasi dengan APPSI, urusan penataan lapak dan kebersihan pasar di tingkat kabupaten maupun kecamatan akan jauh lebih ringan dan tepat sasaran. Ia mengingatkan para penentu kebijakan bahwa pasar tradisional menampung begitu banyak tenaga kerja yang kini sedang tertatih-tatih mempertahankan mata pencaharian.

Terkait respons anggota dewan, Fikri mengapresiasi komitmen DPRD Wonosobo yang berjanji tidak akan sekadar menampung aspirasi dan melupakannya. DPRD berjanji akan melakukan pemantauan progres kebijakan secara simultan dan berkelanjutan bersama pedagang.

“Kami tidak ingin ini hanya sebatas jargon dan omon-omon belaka. Benang merahnya cuma satu, kita ingin pasar tradisional kembali ramai pembeli dan tidak mati suri lagi,” ucap Fikri mempertegas posisi asosiasi.

Adaptasi Digitalisasi Perdagangan

Tidak hanya melawan dominasi ritel fisik, pedagang pasar tradisional di Wonosobo juga mengaku kewalahan menghadapi gempuran platform e-commerce. Hampir seluruh pasar di wilayah ini mencatatkan penurunan omzet akibat peralihan tren belanja masyarakat ke arah daring.

Sebagai langkah taktis, APPSI tidak hanya membawa tuntutan, tetapi juga telah menginisiasi adaptasi digital secara mandiri. Sebelum menggelar audiensi, mereka telah menjalin kerja sama lintas sektoral dengan Dinas Perdagangan dan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Wonosobo.

Kolaborasi tersebut diwujudkan dalam bentuk pelatihan pemasaran digital bagi 50 orang perwakilan masyarakat pasar. Langkah rintisan ini didorong menjadi rekomendasi resmi kepada DPRD agar pemerintah terus memfasilitasi program pembelajaran bisnis daring secara masif. Fasilitasi ini dinilai mutlak diperlukan agar pedagang lokal memiliki instrumen untuk mengimbangi dominasi pasar digital global.

Instruksi Keras Don Muzakir: APPSI Harus Jadi Garda Terdepan Digitalisasi Pasar

Kompak! Musda APPSI Wonosobo Bentuk Pengurus Baru & Siapkan Jurus Bangkitkan Pasar Tradisional

Pemkab Wonosobo Dituntut Setop Jadikan Pasar Sapi Perah Saat Pedagang Sekarat Dihantam Belanja Online

 

 

Related posts

Ular Sanca Tiga Meter Gegerkan Warung Kelapa Muda di Rowopeni Wonosobo

Polda Jateng Ubah Arena Kapolda E-Sport Cup 2026 di De Tjolomadoe Menjadi Festival Ekonomi Kreatif

Lirik Lagu ‘Biarlah Sepi’ – Sahara: Nostalgia Tembang Slow Rock Klasik Indonesia

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Read More