Wonosobo, satumenitnews.com – Pelaksanaan Kurasi Musik Wonosobo Volume 3 di Le Coffee pada Minggu malam (26/4/2026) lalu mengungkap fakta rendahnya kepercayaan diri musisi lokal untuk membedah karya. Hal ini terlihat dari komposisi penampil yang justru didominasi oleh musisi dari luar daerah dibandingkan dengan talenta asli Wonosobo.
Produser musik nasional, Ully Dalimunthe, menilai fenomena ini terjadi karena masih banyak musisi yang menganggap proses kurasi sebagai ajang penghakiman. Padahal, wadah ini merupakan langkah strategis untuk mempertemukan karya daerah dengan kebutuhan industri besar.
Meluruskan Paradigma Kurasi dan Penjurian
Ully menegaskan bahwa kehadiran kurasi musik bukan untuk mencari siapa yang menang atau kalah. Fokus utama dari proses ini adalah memberikan arahan teknis agar sebuah lagu memiliki standar yang layak untuk dikomersialkan.
“Sebenarnya bentuk kurasi itu bukan penjurian, jadi lebih kepada sharing. Karya itu ke depannya mau diapakan dan mau ke mana,” ujar produser yang pernah menangani band-band besar di Indonesia tersebut, Senin (27/04/2026).
Menurutnya, musisi harus mulai terbiasa dengan kritik yang solutif. Ia membedakan antara celaan yang bersifat menjatuhkan dengan kritik kurasi yang bertujuan memberikan jalan keluar atas kekurangan sebuah materi lagu.
Peluang Soundtrack Film dan Album Kompilasi
Manfaat konkret dari mengikuti kurasi musik adalah terbukanya jaringan distribusi yang selama ini sulit ditembus musisi daerah secara mandiri. Ully mengungkapkan adanya rencana pembuatan album kompilasi yang akan menyatukan karya pilihan dari Jakarta, Semarang, dan Wonosobo.
“Sangat sayang bila musisi Wonosobo sendiri tidak ada sebagai wakil. Padahal jika terangkat, mereka bukan lagi sekadar artis lokal melainkan menjadi artis nasional,” jelas Ully.
Keberhasilan skema ini sudah terbukti nyata. Pada gelaran di Semarang sebelumnya, dua grup band terpilih oleh Starvision untuk mengisi soundtrack FTV hanya melalui satu kali volume kurasi. Hal ini dimungkinkan karena kurator memiliki akses langsung untuk menawarkan materi yang dianggap cocok dengan kebutuhan produser film.
Misi Membangun Ekosistem Musik Daerah
Selain aspek komersial, program kurasi musik ini membawa misi besar untuk menghidupkan industri kreatif di luar Jakarta. Ully berpendapat bahwa musisi daerah tidak lagi wajib menetap di ibu kota hanya untuk mendapatkan nama.
“Saya tidak setuju dengan sentralisasi Jakarta lagi, itu sudah kuno. Kepentingannya adalah musisi Wonosobo meluaskan jaringannya ke sana, lalu kembali lagi ke sini untuk membangun ekosistem di daerahnya,” tegasnya.
Kurasi Musik Wonosobo Volume 3 Uji Kualitas Produksi dan Performa Musisi Lintas Daerah
Kurasi Musik Wonosobo Vol 2: Ully Dalimunthe dan Safir Soroti Masalah Klasik Band Indie
Tiga Kurator Buka Suara, Kurasi Musik Wonosobo Ini Baru Awal, atau Justru Ujian?