Wonosobo, satumenitnews.com – Gelaran Kurasi Musik Wonosobo kembali bergulir memasuki volume kedua. Ajang ini tidak hanya menjadi panggung pamer aksi, melainkan forum bedah anatomi musikalitas dan strategi industri bagi para pegiat skena lokal. Tiga kurator duduk bersama membedah penampilan tiga grup band indie yang unjuk gigi; Emtee Blackmore sebagai tuan rumah, didampingi dua tokoh musik nasional, Safir Rustam dan Ully Dalimunthe.
Kehadiran para praktisi ini membawa angin segar sekaligus kritik membangun. Ully Dalimunthe menyebut kedatangannya di Wonosobo sebagai pelunasan utang janji dari agenda kurasi sebelumnya. Program kurasi musik ini sendiri telah berjalan selama enam tahun dan kini menginjak volume ke-58 secara nasional. Wonosobo dinilai menjadi salah satu titik yang akan paling aktif dalam peta kurasi tersebut.
Jebakan Rutinitas Produksi
Ully menyoroti fenomena yang kerap menjangkiti musisi di berbagai daerah, bahkan di kota besar seperti Jakarta. Secara teknis dan musikalitas, ia menilai band-band di Wonosobo sudah berada dalam tahap siap atau ready. Namun, kesiapan materi lagu seringkali tidak berbanding lurus dengan pemahaman terhadap peta industri.
Masalah klasik yang sering terjadi adalah pola pikir jangka pendek. Musisi cenderung menghabiskan energi untuk produksi rekaman dan merilis karya, namun kehilangan arah setelah materi tersebut beredar di pasaran. Diskusi dalam sesi kurasi ini membedah persoalan finansial dan minimnya jaringan yang kerap menjadi alasan klise mandeknya karir sebuah band.
Ully menegaskan bahwa semua orang bisa memproduksi karya di era sekarang. Masalah utamanya muncul setelah rilis, musisi seringkali bingung menentukan langkah selanjutnya. Hal inilah yang menjadi fokus bahasan utama agar pelaku seni tidak sekadar berkarya lalu hilang.
Pria yang sudah malang melintang di industri ini menawarkan solusi tegas berupa konsep melek industri. Ia mengingatkan musisi agar tidak hanya membedah tangga nada, tetapi juga mempelajari aspek hukum, teknis, dan bisnis sejak dini. Ketidaktahuan terhadap mekanisme industri seringkali berujung pada kebingungan dan frustrasi. Bagi Ully, menjadikan musik sebagai profesi menuntut penguasaan menyeluruh, bukan sekadar jago main alat musik.
Dinamika Genre dan Emosi
Di sisi lain, Safir Rustam menyoroti kualitas pertunjukan di atas panggung. Ia memberikan apresiasi terhadap keberagaman genre yang tersaji dalam satu acara. Tiga band yang tampil (Emas, Move Rage, Children of Distortion) dinilai mampu merepresentasikan warna musik yang berbeda namun tetap harmonis dalam satu ekosistem.
Safir secara spesifik mengomentari penampilan Move Rage yang dinilainya memiliki materi lagu sangat energik. Sorotan juga tertuju pada Children of Distortion yang tampil sebagai penutup. Safir menilai band tersebut berhasil menyalurkan emosi yang kuat melalui karya mereka, sebuah modal penting untuk naik ke level yang lebih tinggi.
Menurut Safir, dunia musik saat ini jauh lebih dinamis berkat kemajuan teknologi. Kemudahan akses digital dan media sosial seharusnya memicu musisi untuk lebih berani mengeksplorasi karya, bukan malah terlena. Ia berharap para musisi Wonosobo tetap menjaga kekompakan dan semangat berkarya karena pada dasarnya tidak ada musisi yang lebih hebat dari yang lain, yang membedakan hanyalah kemauan dan konsistensi.
Kolaborasi antara Emtee Blackmore, Safir, dan Ully dalam sesi kurasi musik ini diharapkan mampu mengubah pola pikir musisi lokal. Dari sekadar bermain musik menjadi pemain industri yang paham strategi.

