Wonosobo, satumenitnews.com – Dampak kekeringan panjang yang menghantam ribuan hektare lahan pertanian dan sumber air pemukiman kini memasuki titik kritis. Merespons krisis air yang mencekik hajat hidup orang banyak tersebut, puluhan pria berseragam loreng merapatkan barisan dan menundukkan kepala di bawah terik matahari untuk melaksanakan salat minta hujan di Wonosobo pada akhir pekan ini.
Fenomena iklim yang ektrem ini telah menyusutkan debit mata air pegunungan dengan cepat. Kondisi ini memaksa aparat keamanan turun gunung tanpa memanggul senjata. Mereka memilih menengadahkan tangan, memanjatkan permohonan agar presipitasi segera membasahi kawasan lereng Sindoro, Sumbing, hingga seluruh penjuru Kedu dan Jawa Tengah.
Tanah yang mengering dan retak-retak membuat pasokan air untuk sistem irigasi persawahan nyaris lumpuh total. Para petani sayur dan palawija di wilayah pedesaan kini dihantui kerugian besar akibat tanaman yang mulai menguning, layu, lalu mati sebelum masa panen tiba.
Menghadapi ancaman krisis pangan dan air ini, ritual ibadah digelar dengan penuh kekhusyukan di sebuah lapangan terbuka. Rangkaian dimulai dengan dua rakaat salat sunah, di mana setiap gerakan mencerminkan ketidakberdayaan manusia menghadapi anomali cuaca. Seluruh jemaah memiliki satu tujuan pasti, yakni menyelamatkan sumber penghidupan warga sekitar.
Usai menuntaskan rakaat terakhir, jamaah langsung mendengarkan pesan moral yang menyoroti praktik eksploitasi alam. Pesan tentang kewajiban menjaga keseimbangan ekosistem dan pelestarian lingkungan hidup ditekankan dengan tegas. Kerusakan lingkungan dinilai menjadi faktor dominan yang memperparah suhu panas ekstrem di berbagai wilayah saat ini.
Ancaman Gagal Panen dan Harapan dari Salat Minta Hujan di Wonosobo
Kesulitan akses air bersih nyatanya tidak berhenti pada urusan lahan agraris semata. Ribuan kepala keluarga mulai kesulitan memenuhi kebutuhan konsumsi harian, mandi, hingga urusan sanitasi rumah tangga. Berkurangnya pasokan air dari sumur-sumur warga menuntut adanya intervensi cepat, baik dari sisi kebijakan fisik maupun upaya spiritual.
Situasi darurat ini lantas memicu dorongan kolektif untuk menghentikan kebiasaan merusak alam, seperti penebangan liar maupun pencemaran hulu sungai. Jamaah diajak membangkitkan kembali kepedulian sosial, memprioritaskan sedekah, serta membagikan pasokan air bersih kepada tetangga yang sumurnya telah mengering kerontang.
Kemarau panjang ini juga dinilai sebagai titik balik bagi seluruh lapisan masyarakat untuk segera memperbaiki tata kelola kelestarian alam. Kesalahan dalam menjaga resapan air hujan pada musim sebelumnya kini harus dibayar mahal dengan krisis yang mengancam ketahanan pangan lokal.
Pada penghujung agenda tersebut, pimpinan militer kewilayahan setempat barulah membeberkan alasan di balik pengerahan pasukannya untuk berdoa bersama. Institusi keamanan negara ini menegaskan bahwa langkah batin diambil murni karena rasa empati melihat penderitaan para petani yang lahan garapannya hancur diterjang suhu panas.
Komandan Kodim 0707/Wonosobo, Letkol Inf Yoyok Suyitno, membenarkan bahwa ibadah ini merupakan ikhtiar instansinya merespons krisis kemarau. “Salat Istisqa ini kita laksanakan sebagai bentuk tawakal dan ikhtiar kita kepada Allah SWT. Mudah-mudahan dengan doa bersama ini Allah segera menurunkan hujan, sehingga sawah, ladang, dan kebutuhan air masyarakat di wilayah Wonosobo dapat terpenuhi,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Sertu Rosikin selaku imam ibadah tersebut, menekankan perlunya evaluasi diri di tengah bencana ekologi ini. “Marilah kita memperbanyak istighfar, bertobat, bersedekah dan saling tolong-menolong. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita dan segera menurunkan hujan yang membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat,” pungkasnya.