Hari Tani Nasional, Pertanian Wonosobo, Kemarau Ekstrem, Ketahanan Pangan, Harga Sayur Anjlok, Kejajar Wonosobo, Info Pertanian
Home » Merana di Hari Tani: Kisah Petani Sigedang Melawan Kemarau dan Anjloknya Harga

Merana di Hari Tani: Kisah Petani Sigedang Melawan Kemarau dan Anjloknya Harga

by Malindra Anji
Listen to this article

Wonosobo, satumenitnews.com — Lahan pertanian di Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, terpantau kering dan tidak dapat ditanami akibat cuaca panas ekstrem. Kondisi fisik lapangan ini terjadi bersamaan dengan tren penurunan harga jual sayuran di tingkat produsen, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Tani Nasional 2026 pada Kamis (24/9/2026).

Peringatan Hari Tani tersebut dihadiri oleh perwakilan kelompok tani dari tiga desa, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkompimcam) Kejajar, Cabang Dinas Kehutanan (CDK) 7 Jawa Tengah, serta pemerintah desa setempat.

Ketua Kelompok Tani Desa Sigedang, Sucipto Mangkudiharjo, mengatakan bahwa absennya curah hujan menghentikan aktivitas produksi pertanian.

“Sekarang harga sayuran anjlok dan cuaca panas, lahan sudah kering dan tidak bisa ditanami, bahkan prediksi kemarau akan panjang hingga akhir tahun,” ungkap Sucipto.

Baca juga :  Polres Wonosobo Wujudkan Pembangunan Berbasis Data Lewat Pelatihan Identifikasi Jagung

Tiga Kendala Utama Petani Sigedang Wonosobo

Selain cuaca, Sucipto memaparkan bahwa petani saat ini masih berhadapan dengan tiga kendala operasional dan ekonomi yang terus berulang. Faktor tersebut meliputi batas luasan kepemilikan lahan, teknik budidaya yang belum beralih ke metode presisi, dan fluktuasi serapan pasar. Di tingkat makro, kawasan dataran tinggi ini juga menghadapi risiko degradasi lingkungan.

“Tiga hal: lahan sempit, budidaya pertanian yang belum maju, serta tekanan harga yang tidak jelas. Ini seperti problem harian petani,” ujarnya.

Ia menambahkan, akumulasi dari gagal tanam akibat kemarau panjang dan penurunan harga jual memerlukan intervensi langsung dari pemangku kebijakan guna mencegah berhentinya produksi secara masif.

Baca juga :  Kebun Belajar Tani di Wonosobo, Inovasi Regenerasi Petani

“Kalau seperti ini terus ya bisa bangkrut semua, ketahanan pangan juga terancam,” tegasnya.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy