Wonosobo, satumenitnews.com – Gelontoran dana ratusan juta rupiah siap membanjiri Taman Rekreasi Wonoland pada awal April mendatang. Bukan untuk konser musik atau kampanye politik, melainkan demi gengsi seekor sapi. Koperasi Peternak Sapi Sindoro Sumbing (KPS 3) bersama Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI) mengambil langkah berani dengan menggelar event Nasional Kontes Sapi APPSI Wonosobo 2026 di tengah sorotan publik mengenai isu swasembada daging nasional.
Perhelatan yang dijadwalkan berlangsung pada 4-5 April 2026 ini meletakkan standar tinggi dengan total nilai hadiah mencapai Rp 312.000.000. Nilai fantastis tersebut sudah mencakup uang tunai ratusan juta rupiah serta Grand Prize berupa satu unit mobil Toyota Ayla yang diparkir khusus untuk juara satu di kelas paling bergengsi, Extreme Bebas.
Sekretaris APPSI, Ahmad Mundhofier, menyebut langkah ini sebagai inisiatif daerah yang agresif dalam merespons kebijakan pusat.
“Tentu kita sangat tergugah dengan adanya program ketahanan pangan dari pemerintah pusat. Kami yang di daerah berinisiasi melakukan kontes ini untuk mendukung pengadaan daging dan susu nasional,” ujar Ahmad di sela-sela konferensi pers di Wonoland, Minggu (8/2/2026).
Teknologi Anti Main Mata
Isu manipulasi bobot yang kerap menjadi momok dalam kontes serupa memaksa panitia di Wonosobo menerapkan aturan main ekstrem. Ketua Panitia, Feri Atanta, secara terbuka menyatakan perang terhadap praktik curang yang biasa terjadi di meja panitia. Ia memastikan tidak ada celah bagi peserta atau oknum juri untuk bermain mata lewat manipulasi data digital.
“Kita manual shoot live penimbangan, angka yang muncul langsung ke TV LED. Jadi tidak melalui komputerisasi yang rawan menjadi indikasi kecurangan,” tegas Feri dengan nada serius.
Feri menjelaskan bahwa mekanisme konvensional yang melibatkan input komputer sering kali menimbulkan jeda waktu yang mencurigakan. Oleh karena itu, pihaknya memotong jalur tersebut. Angka di timbangan adalah angka mutlak yang tayang di layar raksasa.
“Karena yang lalu-lalu ada indikasi atau kecurigaan, dari penimbangan masuk ke komputer, baru ke videotron. Ada jeda yang harus dilalui. Di Wonosobo kita langsung live, semua bisa melihat,” tambahnya.
Untuk memastikan sterilisasi, area penimbangan akan dijaga ketat oleh brigade keamanan. Feri mewanti-wanti agar tidak ada pihak yang tidak berkepentingan mendekati zona vital tersebut.
“Kita akan gunakan brigade untuk mencegah suporter atau anak kandang naik ke penimbangan. Jadi nanti timbangan real dari APPSI pusat, tidak ada indikasi kecurangan,” imbuhnya.
Kelas Neraka dan Pesta Rakyat
Kompetisi ini membuka 12 kelas pertandingan yang mengakomodasi berbagai level peternak. Mulai dari kelas Pedet atau Baby dengan bobot di bawah 400 kilogram hingga kelas para raksasa di kategori Extreme Bebas. Biaya pendaftaran dipatok variatif, mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 2.000.000.
Uniknya, panitia juga menyediakan panggung bagi sapi-sapi dengan fisik tidak lazim melalui kelas Sapi Unik. Feri menyebut kategori ini sebagai bentuk apresiasi terhadap keanekaragaman ternak tanpa standar baku yang kaku.
“Sapi unik itu sebenarnya sapi yang istimewa. Hanya ada satu yang unik dibanding yang lain. Kita pasrahkan penilaian kepada dinas dan juri, kita benar-benar netral. Saya tidak mau mematok sapi unik harus pendek atau harus bagaimana,” jelas Feri.
Panitia mengemas acara ini dengan konsep sport tourism untuk menyedot animo masyarakat umum. Pengunjung akan disuguhi Festival Balon Udara khas Wonosobo pada Minggu pagi. Strategi ini diharapkan mampu menjadikan Wonosobo sebagai barometer baru kontes ternak nasional.
“Kita tunjukkan Wonosobo itu beda, Wonosobo itu istimewa. Peserta pendaftar juga akan mendapatkan tiket gratis mandi air panas di United Hot Springs,” pungkas Feri menutup pembicaraan.

