Jakarta, satumenitnews.com – Panggung megah SAKIP dan ZI Award 2025 yang digelar pada Rabu (11/02) menjadi saksi bisu pertaruhan reputasi bagi instansi pemerintah. Di tengah sorotan publik terhadap kinerja birokrasi, Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Wonosobo justru tampil ke depan, menantang keraguan dengan membawa pulang predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).
Kepala Kantor Imigrasi Wonosobo, Taufan, yang hadir didampingi Tim Pembangunan Zona Integritas (ZI), tampak percaya diri di tengah acara yang mengusung tema “Transformasi Akuntabilitas dan Integritas Menuju Indonesia Emas 2045”. Kehadiran mereka bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan pembuktian bahwa unit kerja di daerah mampu bersaing dalam standar integritas nasional.
Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Silmy Karim, menerima penghargaan tersebut langsung dari tangan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenpanRB), Rini Widyantini. Kementerian Imipas mencatatkan rekor tersendiri dengan menempatkan tujuh unit kerjanya sebagai penerima predikat WBBM, di mana Imigrasi Wonosobo menjadi salah satu pilar utamanya.
Estafet Beban di Ruang Rapat
Euforia panggung utama berlanjut ke sesi yang lebih intim namun sarat makna di Ruang Rapat Lantai 5 Sekretariat Jenderal Kemenimipas. Di sinilah prosesi penyerahan piagam secara internal dilakukan, menandai peralihan beban tanggung jawab kepada para pemimpin unit kerja.
Sekretaris Jenderal Kemenimipas, Asep Kurnia, menyerahkan piagam penghargaan tersebut kepada dua figur kunci. Penghargaan diberikan kepada Imam Bahri selaku pelopor pembangunan ZI, dan Taufan sebagai nahkoda saat ini. Momen ini menegaskan bahwa predikat WBBM bukan hadiah, melainkan sebuah tuntutan kinerja.
“Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas komitmen berkelanjutan Kantor Imigrasi Wonosobo dalam mempertahankan standar pelayanan publik yang bersih, akuntabel, dan bebas dari korupsi,” tegas Taufan usai menerima penghargaan tersebut.
Ujian Nyata di Lapangan
Pernyataan Taufan tersebut seolah menjadi janji terbuka yang harus dibayar lunas kepada masyarakat. Predikat WBBM menuntut konsistensi tinggi yang tidak menoleransi celah kesalahan sedikitpun dalam pelayanan.
Bagi Taufan, penghargaan ini menjadi momentum krusial untuk memperkuat integritas birokrasi yang dipimpinnya. Ia menyadari bahwa sorotan terhadap instansinya akan semakin tajam pasca-penerimaan penghargaan ini. Publik kini menanti apakah klaim “bersih dan melayani” tersebut benar-benar terwujud dalam setiap loket pelayanan di Wonosobo, atau hanya berhenti sebagai plakat pajangan di ruang kepala kantor.

