Wonosobo, satumenitnews.com – Ketua Umum DPP APPSI, Don Muzakir, mengeluarkan instruksi tegas bagi seluruh jajaran pengurus daerah yang baru dilantik. Ia menekankan agar asosiasi tidak lagi bergerak secara konvensional, melainkan bertransformasi menjadi motor penggerak digitalisasi dan pengamanan rantai pasok pangan.
Pernyataan ini ditegaskan Don Muzakir dalam lawatan maratonnya, mulai dari pelantikan DPD APPSI Kabupaten Cilacap di Gedung IPHI pada Rabu, 20 Mei 2026, hingga pelantikan DPD APPSI Kabupaten Wonosobo di Jannur Resto, Kamis, 21 Mei 2026.
Paksaan Adaptasi Teknologi
Di hadapan pengurus baru, Don Muzakir secara gamblang menolak sikap anti-teknologi yang masih menghinggapi sebagian pedagang pasar tradisional. Ia memandang digitalisasi bukan lagi opsi, melainkan syarat mutlak untuk bertahan di tengah gempuran platform belanja daring.
“Dengan laju teknologi yang begitu hebat saat ini, kami dari asosiasi juga melakukan edukasi kepada pedagang pasar. Di beberapa daerah, kawan-kawan kita sudah mulai berjualan di TikTok dan platform online lainnya,” ujar Don Muzakir saat memberikan arahan di Wonosobo.
Senada dengan hal tersebut, saat melantik pengurus DPD APPSI Cilacap lalu, ia menegaskan bahwa pasar tradisional harus mengadopsi teknologi yang sama dengan ritel modern untuk menjaga daya saing.
“Kita tidak anti-online. Karena ini teknologi, kita harus mengikuti. Memang susah, tapi kami tidak ingin pedagang pasar tradisional terimbas negatif. Kami ingin pedagang pasar tradisional ini juga melek teknologi,” tegasnya.
Sinergi Hulu-Hilir untuk Makan Bergizi Gratis
Selain soal digitalisasi, Don Muzakir juga menyoroti peran strategis APPSI dalam menjaga kestabilan rantai pasok kebutuhan pokok, khususnya dalam mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menginstruksikan agar pengurus di daerah mampu memutus mata rantai perantara (tengkulak) yang sering menyebabkan harga di tingkat eceran melambung. Teknisnya dilakukan melalui penyediaan kios khusus Bapanas di pasar-pasar kelolaan pemerintah.
Namun, ia mengingatkan agar serapan komoditas untuk program MBG tidak dilakukan secara serampangan.
“Berdasarkan tes yang kita lakukan di beberapa titik MBG di Jawa Barat kemarin, jika semua dibeli di pasar, harganya langsung naik karena permintaan yang sangat besar. Makanya, kita edukasi para petani untuk menanam komoditas kebutuhan MBG di wilayah masing-masing,” papar Don Muzakir.
Menjamin Serapan Panen Lokal
Dalam visinya, pasar tradisional harus berfungsi sebagai penyeimbang antara kepentingan petani di hulu dan kebutuhan konsumen di hilir. APPSI di bawah arahannya tidak akan membiarkan hasil panen petani lokal terbuang percuma akibat ketidakpastian pasar.
Ia memastikan koordinasi antardaerah akan menjadi kunci bagi pengurus di Wonosobo maupun daerah lain.
“Jika hasil panen tidak tertampung di sini, kita akan melakukan komunikasi dengan kawan-kawan pedagang yang ada di Jakarta atau wilayah lainnya agar terserap. Ini penting sekali, jangan sampai saat petani memanen hasilnya, serapannya tidak ada,” tutup Don Muzakir.
Kompak! Musda APPSI Wonosobo Bentuk Pengurus Baru & Siapkan Jurus Bangkitkan Pasar Tradisional
Pantauan Langsung Pasar Kertek dan Induk Wonosobo: TPID Pastikan Stok Sembako Aman Jelang Idulfitri
Gempur Rokok Ilegal, Pemkab Wonosobo Dorong 50 UMKM Tembus Pasar Internasional via DBHCHT
BPJPH Wonosobo Sidak Pasar Induk, Verifikasi Barcode Sertifikat Halal UMKM Jelang Tenggat 2026