Wonosobo, satumenitnews.com – Ratusan warga dari berbagai latar belakang keyakinan tumpah ruah mengikuti doa bersama dan tradisi Grebeg Suran lintas agama Wonosobo. Mereka bersatu menyatukan tekad demi menangkal segala bentuk propaganda dan sentimen yang rawan memicu perpecahan di tingkat akar rumput.
Selain memuatkan doa, warga berbaur memperebutkan aneka hasil bumi dalam prosesi kirab gunungan. Rangkaian acara ini memuncak pada tradisi kembul bujana , sebuah kebiasaan makan bersama dari satu wadah yang melambangkan kesetaraan antarsesama manusia.
Memasuki tahun pelaksanaan kedua belas, ritual pergantian tahun adat ini terbukti menjadi ruang interaksi yang inklusif. Warga berbaur langsung secara sosial tanpa memandang sekat identitas, kelas sosial, maupun perbedaan keyakinan.
Simbol Harmoni dan Gotong Royong Warga
Interaksi tanpa sekat birokrasi ini terlihat jelas saat elemen masyarakat, perwakilan adat, dan warga sipil berbagi tugas. Mereka melebur mengurus logistik hingga mengawal rangkaian akhir prosesi demi memastikan kelancaran ritual tahunan daerah tersebut.
Kondisi demografi Wonosobo yang majemuk tidak lagi menjadi realitas sosial yang pasif, melainkan berubah menjadi energi kolektif. Pertemuan massal yang digerakkan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) ini berhasil mengikis kelompok eksklusivitas melalui pendekatan kearifan lokal.
Tradisi mengarak hasil panen dan makan di ruang terbuka ini menjadi benteng sosial budaya yang kuat. Tujuan satu: memastikan warga tidak mudah terpengaruh oleh polarisasi akibat derasnya misinformasi dan isu identitas negatif di media sosial.
Wonosobo Naik Kelas: Dari Toleransi Menuju Harmoni
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, merespons positif antusiasme warga. Ia menilai Wonosobo kini telah mengembangkan tahap keharmonisan komunal menuju jauh lebih matang, sekaligus mengingatkan warga akan bahaya adu domba digital.
“Hari ini kita patut berbangga karena kita telah naik kelas. Jika dulu kita berbicara toleransi, hari ini kita sedang membangun harmoni yang menjadi kekuatan untuk bekerja sama,” tegas Afif.
Senada dengan Bupati, Kepala Staf Kodim 0707/Wonosobo, Arh Siswoto Nurharjo, menilai aktivitas kultural ini sebagai wujud perlindungan teritorial yang lahir dari rakyat. Menurutnya, kebiasaan warga antarumat beragama untuk duduk sejajar merupakan wujud perlindungan sosial bangsa yang sejati.

