GPM Kota Yogyakarta, Marhaenisme, bantuan sosial lansia, gotong royong Yogyakarta, RA Yasinta Sekar Wangi Mega, Laskar Srikandi, peduli kelompok rentan
Home » Gotong Royong dan Marhaenisme: Wujud Peduli Lansia di Yogyakarta

Gotong Royong dan Marhaenisme: Wujud Peduli Lansia di Yogyakarta

by Muhammad Fais Hakim Rasyid
Listen to this article

Yogyakarta, satumenitnews.com – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat dan individualis, kepekaan batin terhadap sesama sering kali diuji. Namun, di sudut-sudut kampung yang masih memegang teguh kearifan lokal, semangat kebersamaan itu rupanya terus berdenyut nadi.

Memahami praktik kerelawanan dan kepedulian sosial ini menjadi sangat relevan di era sekarang. Yogyakarta, dengan predikatnya sebagai kota berbudaya, menyimpan banyak catatan tentang bagaimana manusia secara kolektif berupaya saling memanusiakan.

Terutama ketika kita membicarakan nasib kelompok rentan seperti lansia yang sedang dihadapkan pada tantangan kesehatan dan keterbatasan ekonomi. Dukungan bagi mereka bukan sekadar soal hitung-hitungan materi, melainkan wujud nyata dari nilai-nilai kebangsaan yang abadi, seperti keberpihakan pada rakyat kecil.

Aksi Nyata Kerelawanan di Jantung Kota

Salah satu potret nyata dari denyut kepedulian ini dapat disaksikan di kawasan Rotowijayan, Kemantren Kraton. Pada Jumat (25/9/2026) siang, sebuah gerakan solidaritas terekam jelas saat para pemuda dan tokoh masyarakat turun langsung menyapa dan merangkul warga.

Baca juga :  Paskibra Wonosobo Jalani Tes Kesamaptaan Jasmani, Uji Ketahanan Fisik Sejak Dini

Adalah Ibu Suminah, seorang warga lansia yang tengah berjuang keras melawan kondisi patah tulang sekaligus diabetes. Ia menjadi penerima manfaat dari gerakan kolektif tersebut, membuktikan bahwa pada kenyataannya, warga yang tertimpa musibah tidak dibiarkan berjuang sendirian.

Kolaborasi Lintas Elemen Masyarakat

Kepedulian sosial yang efektif tentu tidak bisa berjalan secara soliter. Ia membutuhkan sinergi dan uluran tangan dari berbagai pihak yang memiliki visi kemanusiaan yang sama.

Dalam aksi kemanusiaan di Rotowijayan tersebut, Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Kota Yogyakarta turun tangan mendampingi Anggota DPD RI daerah pemilihan DIY, RA Yasinta Sekar Wangi Mega. Elemen lokal seperti Laskar Srikandi Mantri Jeron juga turut mengawal proses tersebut agar tepat sasaran.

Baca juga :  Dua Remaja Tewas di Dasar Jurang Gunung Bismo Wonosobo

Bantuan yang disalurkan dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan dasar sekaligus penunjang bagi lansia. Beberapa dukungan logistik yang diberikan meliputi:

  • Beras berkualitas sebagai bahan pangan utama harian.
  • Telur untuk memastikan asupan protein guna membantu proses penyembuhan.
  • Gula dan minyak goreng untuk kebutuhan dapur keluarga.
  • Pampers lansia yang sangat krusial bagi penderita sakit dengan mobilitas yang sangat terbatas.

Membumikan Semangat Marhaenisme dalam Kemanusiaan

Gerakan sosial semacam ini membuka ruang refleksi mendalam tentang apa arti sebuah ideologi dalam praktik kehidupan sehari-hari. Wakabid Hubungan Antar Lembaga DPC GPM Kota Yogyakarta, Lely Sumarlin, memberikan pandangannya terkait hal ini.

Menurut Lely, kehadiran organisasi kepemudaan di tengah peradaban masyarakat tidak boleh sekadar berhenti pada formalitas program kerja tahunan. Sebuah organisasi dituntut untuk memiliki kepekaan batin dalam merespons persoalan riil di akar rumput.

“Bagi kami, membantu warga yang sedang membutuhkan adalah bagian dari semangat Marhaenisme,” tegas Lely. Kalimat ini secara lugas menggambarkan bagaimana ideologi keberpihakan kepada kaum marhaen (rakyat kecil) diwujudkan melalui tindakan konkret, bukan sebatas diskursus di atas kertas.

Baca juga :  Peta Kriminalitas Rayon Kedu Dirombak di Wonosobo

Pentingnya Pendampingan Berkelanjutan

Tantangan terbesar dalam kerja-kerja sosial adalah memastikan bahwa rentetan bantuan tersebut tidak berhenti sebagai seremoni belaka. Kepedulian terhadap kelompok lansia menuntut napas panjang dan komitmen yang teguh.

Sistem gotong royong yang berkesinambungan antara masyarakat awam, organisasi sosial, struktur pemerintah, dan para wakil rakyat menjadi kunci utama pengentasan masalah sosial.

Harapan terbesarnya adalah agar percikan kepedulian ini mampu menumbuhkan efek tular empati di tengah masyarakat luas. Ketika warga yang mengalami kesulitan fisik maupun ekonomi merasa sungguh-sungguh dirangkul oleh lingkungannya, beban yang mereka pikul niscaya akan terasa jauh lebih ringan.

[Penulis: Muhammad Fais Hakim. Editor: Malindra Anji]

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy