Wonosobo, satumenitnews.com – Puluhan siswa sekolah dasar di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, turun langsung ke lapangan untuk mempelajari teknik mitigasi bencana.
Sebanyak 55 siswa dari SD Negeri 1 Sojokerto, Kecamatan Leksono, mengikuti program outing class di markas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Wonosobo pada Rabu (17/6/2026).
Rombongan siswa ini datang dengan pendampingan sembilan orang guru dan staf sekolah untuk mempelajari langkah preventif penanganan darurat.
Program edukasi ini dirancang khusus untuk mengenalkan profesi pemadam kebakaran sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya keselamatan diri sejak usia dini di kawasan eks-Karesidenan Kedu.
Para siswa tidak hanya mendengarkan teori di dalam kelas, melainkan diajak melihat langsung realita kerja para petugas penanganan keadaan darurat.
Petugas Damkarmat Kabupaten Wonosobo memperagakan prosedur operasional pemakaian pakaian pelindung tahan panas (turnout gear) kepada puluhan siswa SD Negeri 1 Sojokerto dalam kegiatan edukasi mitigasi bencana di markas Damkarmat Wonosobo, Rabu (17/6/2026).
Eksplorasi Armada dan Perangkat Penyelamatan
Petugas Damkarmat Wonosobo membuka sesi edukasi dengan memamerkan beragam peralatan operasional yang biasa mereka gunakan di lapangan.
Siswa mendapatkan penjelasan rinci mengenai fungsi pakaian pelindung tahan panas, helm keselamatan, berbagai jenis selang, hingga spesifikasi armada truk pemadam kebakaran.
Eksplorasi ini menumbuhkan pemahaman bahwa tugas Damkarmat mencakup operasi penyelamatan darurat di masyarakat secara luas, bukan sekadar memadamkan titik api.
Anak-anak sekolah dasar ini terlihat sangat antusias melontarkan berbagai pertanyaan kritis mengenai cara kerja alat-alat berat tersebut kepada petugas yang berjaga.
Simulasi Padamkan Api dan Identifikasi Bahaya
Fokus utama kegiatan outing class ini bergeser pada pengenalan potensi bahaya yang mengintai di lingkungan rumah dan sekolah.
Petugas memaparkan sejumlah pemicu utama kebakaran yang sering merugikan masyarakat, mulai dari korsleting arus listrik, kebocoran tabung gas, hingga keteledoran penggunaan api tanpa pengawasan.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan BPBD Wonosobo, Dwi Pamilu Saputra, SE., menegaskan bahwa pengenalan risiko ini merupakan fondasi mitigasi bencana di masyarakat.
“Kami berharap siswa dapat memahami penyebab kebakaran dan mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat. Edukasi seperti ini penting untuk membangun budaya keselamatan sejak usia sekolah,” ucap Dwi.
Untuk memperkuat ingatan visual, petugas langsung menggelar peragaan simulasi penanggulangan kebakaran di area markas.
Anak-anak diajarkan cara mengidentifikasi tanda awal bahaya, berlatih meminta bantuan darurat, dan mempraktikkan teknik mengendalikan kepanikan diri saat insiden terjadi.
Relevansi Praktik bagi Kehidupan Sehari-hari
Pihak sekolah menilai interaksi langsung dengan tenaga profesional memberikan dampak pembelajaran yang jauh lebih efektif dibandingkan sekadar membaca buku teks.
Siswa mendapatkan pengalaman empiris tentang prosedur keselamatan dasar yang aplikatif dan mudah diingat.
Sarijo, S.Pd.SD, selaku guru pendamping dari SD Negeri 1 Sojokerto menyatakan bahwa kurikulum luar ruang ini sukses menjembatani teori akademik dengan realita lapangan.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena anak-anak memperoleh pengetahuan yang tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka belajar bagaimana mencegah kebakaran dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat,” kata Sarijo.
Wonosobo Siaga atau Sekadar Rutinitas? Relawan Dilatih, Damkar Baru Diturunkan
Korsleting Listrik Diduga Picu Kebakaran di Kertek, Polsek dan Damkar Gerak Cepat
Kebakaran Hebat di Desa Sejopuro, Damkar Wonosobo Berhasil Padamkan Api
Ular Sanca Tiga Meter Gegerkan Warung Kelapa Muda di Rowopeni Wonosobo
Cepat Tanggap, Petugas Gabungan Evakuasi Korban Kecelakaan Listrik di Wonosobo