Pernahkah Anda mendaftar program bantuan pemerintah seperti Bantuan Sosial (Bansos), Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, atau subsidi listrik, lalu menemui istilah “Desil”?
Bagi orang awam, istilah dari dunia statistik ini memang terdengar asing dan membingungkan. Namun sebenarnya, konsep desil sangat mudah dipahami jika kita menggunakan perumpamaan sehari-hari.
Bayangkan Antrean 100 Orang
Untuk memahami desil, mari kita gunakan perumpamaan sederhana. Bayangkan di sebuah desa terdapat 100 kepala keluarga.
Pemerintah desa ingin memberikan bantuan sembako, tetapi dananya terbatas sehingga tidak semua bisa dapat. Agar adil, pemerintah desa kemudian mengumpulkan data pendapatan dan aset ke-100 keluarga tersebut.
Setelah didata, 100 keluarga ini dibariskan dari yang kondisi ekonominya paling sulit hingga yang paling kaya.
Nah, barisan 100 orang ini kemudian dipotong menjadi 10 kelompok yang sama besar, di mana setiap kelompok berisi tepat 10 keluarga. Potongan-potongan kelompok inilah yang dinamakan Desil.
Pembagian Kelompok Desil Kesejahteraan
Karena dibagi menjadi 10, maka ada Desil 1 hingga Desil 10. Berikut adalah terjemahan mudahnya:
- Desil 1: Ini adalah kelompok pertama di barisan (10% terbawah). Mereka adalah keluarga dengan kondisi ekonomi paling rentan atau sangat miskin. Kelompok ini selalu menjadi prioritas utama penerima bantuan pemerintah.
- Desil 2 & 3: Ini adalah kelompok keluarga miskin dan rentan miskin. Mereka juga biasanya masih masuk dalam daftar penerima bantuan seperti PKH atau BPNT.
- Desil 4, 5, 6, 7: Ini adalah kelompok menengah. Kondisi ekonomi mereka bervariasi dari rentan hingga cukup stabil. Biasanya di titik ini, bantuan langsung tunai mulai dihentikan, kecuali untuk subsidi umum seperti gas LPG atau listrik subsidi.
- Desil 8, 9, dan 10: Ini adalah barisan paling belakang. Kelompok ini adalah masyarakat dengan tingkat kesejahteraan tertinggi (kaya atau sangat mampu). Mereka jelas tidak masuk dalam kriteria penerima bantuan sosial apa pun.
Mengapa Pemerintah Menggunakan Sistem Desil?
Jawabannya satu: Agar tepat sasaran.
Dulu, penentuan “siapa yang miskin” sering kali hanya berdasarkan pandangan mata atau kedekatan dengan aparat desa. Akibatnya, bantuan sering salah sasaran. Orang yang punya motor dan rumah bagus bisa dapat bantuan, sementara janda tua yang sakit-sakitan malah terlewat.
Dengan sistem desil (yang dihitung oleh sistem komputer berdasarkan puluhan indikator seperti jenis lantai rumah, sumber air, pekerjaan, hingga tagihan listrik), bantuan bisa benar-benar disalurkan mulai dari Desil 1. Jika kuota bantuan masih ada, baru turun ke Desil 2, dan seterusnya.
Jadi, jika Anda mendaftar sebuah program bantuan dan ditolak karena “Masuk Desil 5”, itu artinya menurut data negara, tingkat kesejahteraan Anda sudah masuk golongan menengah, dan bantuan diprioritaskan untuk mereka yang berada di Desil 1 hingga 3.