Home » Diskusi MULTIFRAME UNS, Enam Seniman Ajak Mahasiswa Mendunia Tanpa Hilangkan Budaya

Diskusi MULTIFRAME UNS, Enam Seniman Ajak Mahasiswa Mendunia Tanpa Hilangkan Budaya

by Muhammad Fais Hakim Rasyid
Listen to this article

Yogyakarta, satumenitnews.com – Enam seniman berbagi pengalaman berharga dalam diskusi publik Pameran Seni Rupa Internasional MULTIFRAME#7. Acara penuh wawasan ini berlangsung meriah di Jogja Gallery, Yogyakarta, pada Rabu (28/10/2026).

Kegiatan ini diselenggarakan langsung oleh Program Studi Seni Rupa Murni, FSRD Universitas Sebelas Maret (UNS). Diskusi berlangsung interaktif dalam dua sesi dengan peserta dari kalangan mahasiswa dan pengunjung pameran.

Agenda diskusi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari pameran MULTIFRAME#7. Pameran ini sukses menghadirkan sekitar 120 karya seni dari 125 seniman asal 12 negara berbeda.

Membaca Eksplorasi Visual Seniman

Sesi perdana diskusi ini mengusung tajuk “Langit yang Sama, Perjalanan yang Beda: Membaca Eksplorasi Visual Seniman”. Forum edukatif ini menghadirkan Klowor Waldiyono, Alex Luthfi, dan Dyan Anggraini Rais sebagai narasumbernya.

Klowor menekankan bahwa perjalanan seorang pelukis harus bermula dari ketertarikannya terhadap suatu bidang. Ia harus mengembangkannya secara gigih melalui kerja keras dan konsistensi tinggi.

“Untuk menjadi seorang pelukis, modal awalnya adalah memulai dari apa yang kita suka dan menekuni secara konsisten,” pesannya.

Baca juga :  PT BERKAH MITRA KUWINDO Perusahaan Jasa Penyalur Tenaga kerja

Dyan Anggraini Rais sepakat bahwa pilihan menjadi perupa sejati membutuhkan komitmen dan kesungguhan. Ia selalu mendorong mahasiswa untuk memperluas pengalamannya melalui interaksi dengan para seniman. Mereka wajib rajin mengikuti berbagai ragam kegiatan seni rupa di luar kampus.

“Datanglah ke ruang-ruang seni rupa untuk menggali pengalaman. Kesempatan itu tidak didapatkan di dalam kampus,” nasihat Dyan.

Alex Luthfi menempatkan sikap disiplin dan kepekaan inderawi sebagai fondasi penting bagi seniman. Menurutnya, mahasiswa sangat perlu melatih kemampuan mengamati lingkungan, berpikir analitis, dan mengembangkan daya imajinasi.

Akar Lokal Menjadi Bahasa Universal

Sesi kedua bermula pada sore hari dengan mengangkat tema inspiratif. Tajuknya adalah “Akar yang Mendunia: Menemukan Bahasa Universal dari Cerita yang Paling Lokal”. Diskusi ini menghadirkan Putu Sutawijaya, Bambang “Toko” Witjaksono, dan Eddy Sulistyo.

Eddy menyoroti cepatnya perkembangan teknologi digital dalam ekosistem kesenian saat ini. Teknologi ini sangat memudahkan mahasiswa untuk mencari referensi dan mempelajari karya hebat seniman dunia. Mahasiswa juga sangat gampang untuk memperkenalkan hasil karyanya kepada khalayak internasional.

Baca juga :  PLN Wonosobo Umumkan Jadwal Pemeliharaan Jaringan Minggu Kedua Januari 2025

Ia membandingkan kondisi modern ini dengan pengalaman perjuangan berat generasi sebelumnya. Eddy mengingatkan mahasiswa agar kemajuan teknologi termanfaatkan maksimal tanpa pernah meninggalkan kebudayaan asli Indonesia.

Sementara itu, Bambang “Toko” Witjaksono mengajak mahasiswa untuk lebih cerdas memahami originalitas dan eksotisme. Menurutnya, identitas budaya selalu terbentuk melalui benturan pengalaman, jejak sejarah, dan cara memandang lingkungan.

Ia menegaskan bahwa tingginya harga jual karya di pasar seni tidak mutlak mencerminkan kualitas artistik.

“Karya yang terjual belum tentu paling unggul, sedangkan karya yang belum menemukan pembeli bukan berarti tidak berkualitas,” terang Bambang.

Putu Sutawijaya senantiasa mendorong pemuda agar pandai memanfaatkan media digital. Ia mengajak mahasiswa rajin mengikuti program residensi dan pameran internasional untuk memperluas pengalaman kesenian.

Berdasarkan pengalamannya mengikuti residensi di luar negeri, Putu menyoroti tingginya potensi seni Indonesia. Keunikan alam dan budaya negeri ini ternyata mampu menjadi sumber inspirasi bagi seniman asing.

Baca juga :  Pameran MULTIFRAME#7 UNS Hadirkan 125 Seniman dari 12 Negara di Yogyakarta

Oleh karena itu, mahasiswa harus berani memiliki cita-cita besar yang menembus panggung mancanegara.

Panggung Internasional Seni Rupa

Diskusi berlangsung hangat di tengah kemegahan ruang pamer Jogja Gallery yang penuh karya berkelas. Dokumentasi memperlihatkan antusiasme mahasiswa yang menyimak paparan sambil duduk melantai.

Suasana kekeluargaan ini membuktikan bahwa fungsi galeri jauh lebih luas daripada sekadar tempat pameran. Ruang ini efektif menjadi pusat pembelajaran bagi generasi muda dan seniman senior.

Sebelumnya, Pameran MULTIFRAME#7 telah resmi beroperasi melalui opening Dekan FSRD UNS, Prof. Dr. Deny Tri Ardianto, pada Sabtu (24/10/2026).

Pameran multikultural ini sukses menghadirkan belasan seniman andal mancanegara. Para seniman tersebut berasal dari Malaysia, Kroasia, Estonia, Argentina, Kanada, Slovakia, Belarus, Bulgaria, Belanda, Taiwan, dan India.

Melalui diskusi ini, MULTIFRAME#7 membuktikan bahwa seniman tidak harus membuang akar kebudayaannya demi ketenaran dunia. Proses kreatif yang jujur terbukti sanggup melahirkan karya universal yang sukses melampaui batas geografis.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy