Warga Rebut Gunungan Sayur di Alun-alun Wonosobo

Listen to this article

Wonosobo, satumenitnews.com – Ribuan warga tumpah ruah dan saling berdesakan untuk memperebutkan hasil bumi dalam puncak perayaan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo, Jumat (24/7/2026). Mereka saling dorong demi mendapatkan sayur-mayur yang disusun menjulang tinggi, karena mayoritas warga meyakini hasil panen tersebut akan membawa keberkahan bagi keluarga mereka.

Aksi saling berebut hasil pertanian ini menjadi pusat perhatian utama dalam tradisi grebeg gunungan alun-alun wonosobo yang digelar tepat setelah rangkaian prosesi adat selesai. Sebelum memperebutkan sayuran, warga dari berbagai kecamatan duduk melingkar di atas lapangan tanpa sekat untuk mengikuti Kembul Bujana, yakni tradisi makan bersama secara massal.

Antusiasme masyarakat pesisir pegunungan Kedu ini tetap tinggi meski perayaan tahun ini digelar lebih ringkas. Warga rela datang sejak pagi buta untuk menyaksikan langsung acara yang memadukan atraksi fisik dan ritual tolak bala tersebut. Rangkaian ini merupakan kelanjutan dari prosesi malam sebelumnya, yang meliputi Bedhol Kedhaton dan Tapa Bisu.

Ritual Air Suci dan Potong Rambut Gimbal Wonosobo

Sebelum tradisi rebutan hasil bumi pecah, acara diisi dengan ritual Birat Sengkala. Air yang diambil dari tujuh sumber mata air berbeda dipercikkan ke empat penjuru mata angin sebagai simbol permohonan keselamatan dan tolak bala bagi seluruh wilayah geografis Kabupaten Wonosobo.

Acara kemudian dilanjutkan dengan eksekusi tradisi khas dataran tinggi Dieng, yakni pencukuran rambut gimbal terhadap tujuh orang anak. Seluruh permintaan spesifik dari ketujuh anak tersebut wajib dipenuhi terlebih dahulu sebelum rambut mereka dipotong, sebagai syarat mutlak berjalannya tradisi turun-temurun ini.

Ribuan pasang mata di lapangan utama juga disuguhkan berbagai pertunjukan kesenian tradisional. Ratusan pelajar, komunitas seniman lokal, hingga prajurit Batalyon Infanteri 444 Satria Setjonegoro turut serta menyajikan atraksi fisik di tengah kerumunan warga.

Di penghujung acara, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat membenarkan bahwa perayaan tahun ini sengaja diformat sederhana sebagai langkah efisiensi anggaran pemerintah daerah. Meski demikian, ia menilai tingginya kehadiran warga membuktikan bahwa publik tetap membutuhkan ruang interaksi komunal.

“Saatnya seluruh energi kita disatukan untuk menghadirkan kebijakan yang berdampak bagi masyarakat,” tegas Afif.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, menjelaskan bahwa pengembalian panji daerah di awal acara merupakan simbol penyatuan tekad antara warga dan otoritas setempat. Ia menyebut seluruh rangkaian ritual dari Birat Sengkala hingga Grebeg Gunungan merupakan bentuk pelestarian identitas lokal yang harus dipertahankan di tengah masyarakat Jawa Tengah.

Related posts

Pengusaha Carica Raih Juara Dua Industri Hijau Jateng di Wonosobo

Warga Padati 54 Tenant UMKM di Festival Literasi Wonosobo

Prajurit Kodim 0707/Wonosobo Mendapat Kehormatan Menjadi Kumendhan Tata Upacara Pisowanan Agung Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo 2026

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Read More