Satu Nyawa di Wonokasian, Mantep: Harga Mahal dari ‘Diamnya’ Para Pemangku Kebijakan

Listen to this article

Wonosobo, satumenitnews.com – Bencana tanah longsor yang menewaskan satu warga di Desa Wonokasian, Kecamatan Leksono, pada Sabtu (7/2/2026), memantik reaksi keras dari pegiat lingkungan hidup. Ketua Umum Yayasan Jagat Tunas Bumi (Jatubu), Abdul Ghoni atau yang akrab disapa Mantep, menyebut insiden ini sebagai bukti nyata kegagalan pengawasan hutan di wilayah hulu Wonosobo.

Bagi Mantep, tewasnya korban jiwa akibat hujan durasi empat jam tersebut menyingkap ironi pengelolaan lingkungan. Di saat relawan Jatubu konsisten melakukan penanaman pohon di lahan kritis secara swadaya, kerusakan akibat alih fungsi lahan justru terus dibiarkan oleh pemangku kebijakan.

“Paling krusial adalah mengenai di Wonokasian karena sampai menyebabkan korban jiwa. Hari ini sudah terbukti sifat abai dari para pemangku kebijakan dengan membiarkan alih fungsi atau pelanggaran di wilayah hutan mulai berdampak nyata,” tegas Mantep, Minggu (8/2/2026).

Data Kerusakan Meluas

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo, cuaca ekstrem yang terjadi sejak pukul 07.00 hingga 21.00 WIB menyasar tiga kecamatan: Leksono, Selometo, dan Kalikajar.

Dampak paling fatal terjadi di Desa Wonokasian, di mana material longsor menimpa rumah warga dan menyebabkan satu korban meninggal dunia (MD) serta satu lainnya luka ringan. Di lokasi lain, tepatnya Dusun Srandil, Desa Besani, longsor juga melukai satu warga.

Kerusakan infrastruktur turut tercatat di Kecamatan Selometo. Longsor menutup akses jalan menuju situs sejarah Makam Ki Ageng Wanusaba di Desa Plobangan, serta pohon tumbang yang sempat melumpuhkan Jalan Provinsi ruas Wonosobo-Banjarnegara di Desa Gunung Tawang.

Menagih Hati Nurani “Penjaga Hutan”

Mantep menilai rentetan bencana ini memiliki kausalitas yang jelas dengan kerusakan ekologis. Ia menolak jika peristiwa ini hanya dianggap sebagai musibah alam biasa tanpa melihat faktor kelalaian manusia di baliknya.

“Bencana ini tidak pernah berdiri sendiri. Pasti ada sebab akibat. Abainya pelanggaran di wilayah-wilayah hutan hari ini mulai berdampak kepada kehidupan masyarakat kita, dari mulai banjir, longsor, dan hari ini menyebabkan korban jiwa,” ujar Mantep.

Sosok yang dikenal vokal ini kemudian menyoroti kinerja instansi dan aparat yang memiliki otoritas menjaga kawasan hutan. Ia mempertanyakan fungsi pengawasan yang dinilai lemah di tengah masifnya pembukaan lahan.

“Masihkah kita semua akan diam? Masihkah pihak-pihak yang berkewajiban menjaga hutan, secara kasarnya mereka yang digaji untuk menjaga hutan, menjaga lingkungan, apakah tetap masih diam sekarang?” gugatnya.

Solidaritas untuk Korban

Menutup keterangannya, Mantep menyampaikan belasungkawa mendalam bagi keluarga korban di Wonokasian. Ia berharap tragedi ini menjadi alarm terakhir bagi masyarakat Wonosobo untuk lebih kritis terhadap kondisi lingkungan sekitar.

“Satu nyawa sangat berharga walaupun mungkin beliau lansia. Statement saya untuk kejadian malam ini, yang paling penting adalah saya turut prihatin dan berduka cita atas wafatnya, atas adanya korban jiwa di bencana alam di Wonokasian,” ucapnya.

“Untuk kita masyarakat Wonosobo, saya harapkan makin peduli alam supaya tidak terjadi kejadian-kejadian seperti ini lebih besar lagi,” pungkas Mantep.

Related posts

Sempat Hilang Sejak Desember, Remaja Asal Kertek Ditemukan Selamat di Grobogan

Pamit Memancing, Pemuda 20 Tahun Ditemukan Meninggal di Telaga Menjer

Hutan Lindung Disulap Jadi SHM, Ultimatum ‘Sembur’ Mantep Menggema di Depan Siswa

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Read More