Wonosobo, satumenitnews.com – Tumpukan sampah yang kerap menjadi momok bagi tata kota dan pariwisata Wonosobo tampaknya segera menemui titik terang. Bertempat di Ruang Perundingan Pendopo Bupati Wonosobo pada Jumat (13/3/2026), sebuah langkah besar resmi diambil pemerintah daerah.
Pemerintah Kabupaten Wonosobo menandatangani kesepakatan krusial dengan PT Tribaliv Green Solutions untuk mengeksekusi proyek pengolahan sampah menjadi energi ramah lingkungan.
Melalui kerja sama berkonsep waste-to-energy ini, ribuan ton limbah tidak hanya akan sekadar dipindah, tetapi disulap menjadi gas bernilai ekonomi. Menariknya, langkah mewujudkan pembangunan rendah karbon ini sama sekali tidak menyedot kas daerah.
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menyebut momen penandatanganan ini sebagai pintu gerbang menuju implementasi teknis di lapangan. Sebelumnya, rencana ambisius ini telah digodok matang bersama Tim Kerja Sama Daerah sejak 9 Maret lalu.
“Alhamdulillah hari ini kita bisa menandatangani nota kesepakatan sebagai pedoman untuk melanjutkan kerja sama yang lebih teknis melalui perjanjian kerja sama,” ujar Afif di sela-sela agenda tersebut.
Sebagai bentuk komitmen, Wonosobo mendapat porsi untuk menyuplai sekitar 350 ton sampah per hari. Angka ini akan memenuhi sebagian dari total kapasitas proyek yang membutuhkan pasokan hingga 1.100 ton sampah per harinya.
Nantinya, armada pengangkut akan mengirimkan limbah ini menuju fasilitas pengolahan raksasa milik PT Tribaliv di kawasan Bandongan, Kabupaten Magelang. Untuk menyiasati efisiensi logistik, pemerintah daerah bersiap membagi zonasi tempat pembuangan sementara. Strategi ini diklaim akan mempercepat alur distribusi sampah dari berbagai penjuru Wonosobo.
Afif tidak menampik bahwa teori pengolahan sampah sangat berlimpah, namun eksekusinya kerap berujung buntu di lapangan. Ia menaruh harapan besar proyek ini mampu mensterilkan kawasan wisata prioritas seperti Dieng dari tumpukan dan aroma tak sedap.
“Wisatawan tentu ingin datang ke tempat yang bersih dan nyaman, bukan bau sampah. Dengan kerja sama ini kita berharap pengelolaan sampah di Wonosobo bisa lebih baik,” tegas bupati.
Di sisi lain, Direktur PT Tribaliv Green Solutions Trigo Neo Starden membeberkan alasan pihaknya akhirnya berlabuh di Wonosobo. Setelah tiga tahun melakukan penjajakan ke berbagai daerah, Trigo mengaku kepincut dengan respons cepat birokrasi setempat.
“Saya sangat menghargai komitmen Pak Bupati. Dalam tiga hari saja nota kesepakatan sudah bisa diselesaikan karena beliau memahami kebutuhan proyek ini dan juga manfaat yang akan diberikan kepada masyarakat,” tutur Trigo.
Rencananya, fasilitas mutakhir di atas lahan seluas lima hektare ini akan memproses limbah menjadi gas alam cair atau Liquefied Natural Gas. Output yang dihasilkan ditaksir menyentuh 149 juta meter kubik per hari, sebuah angka yang secara teknis setara dengan potensi suplai listrik hingga 408 megawatt.
Trigo menggarisbawahi bahwa seluruh aliran dana proyek murni bersumber dari kantong investor asal Jerman. Pihaknya menjamin tidak ada satu rupiah pun dana APBD yang terpakai. Bahkan, perusahaan siap mendatangkan armada truk bertenaga listrik khusus untuk mengangkut sampah dari Wonosobo.
Pabrik pengolahan ini ditargetkan mulai peletakan batu pertama pada April 2026. Trigo menggaransi bahwa operasional pabrik nantinya akan jauh dari kesan kumuh, bebas bau menyengat, serta tidak ada penumpukan limbah ala tempat pembuangan akhir konvensional.
Selain menuntaskan problem tata lingkungan, investasi ini menjanjikan serapan tenaga kerja yang signifikan. Perusahaan memprioritaskan warga lokal untuk mengisi pos-pos di fasilitas tersebut.
“Nanti SDM-nya kita utamakan dari masyarakat lokal. Jika diperlukan, kami juga siap memberikan pelatihan termasuk bahasa Jerman,” pungkasnya.
Jika skema ini berjalan mulus, sebagian keuntungan operasional dipastikan mengalir kembali ke masyarakat dalam bentuk tanggung jawab sosial perusahaan. Ke depan, mega proyek pengolahan sampah berkelanjutan ini juga digadang-gadang siap melebarkan sayap ke berbagai kabupaten tetangga.
Tragedi Sungai Serayu: Atribut Relawan, Logika Sampah Raksasa, dan Kursi Kades yang Kosong
Ahmad Luthfi Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Desa di Jateng, Desa Penggarit Jadi Role Model
Darurat Gadget, Ancaman Rabun Jauh Mulai Gerus Fokus Belajar Anak SD di Wonosobo
Cegah Mata Minus: 5 Aturan Emas Penggunaan Gadget untuk Anak SD di Wonosobo