Wonosobo, satumenitnews.com – Ancaman judi online, perundungan siber, hingga penyebaran hoaks kini menyasar kelompok usia sekolah secara masif di berbagai wilayah. Merespons krisis digital dan sosial ini, puluhan pelajar diturunkan langsung ke lapangan sebagai pendidik sebaya melalui program pemilihan Duta GenRe Kabupaten Wonosobo.
Mereka memikul tanggung jawab besar untuk meredam efek negatif teknologi dan menekan angka gangguan kesehatan mental di kalangan remaja. Edukasi digerakkan menggunakan pendekatan bahasa anak muda yang luwes, sekaligus menjadi corong utama untuk menjembatani persoalan riil di lapangan ke meja kebijakan daerah.
Ratusan Pusat Konseling Remaja di Wonosobo Bergerak
Gerakan perlawanan terhadap degradasi moral ini mendapat dukungan infrastruktur dari 212 Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja. Fasilitas pendampingan tersebut telah beroperasi merata, mulai dari tingkat kelurahan hingga berbagai satuan pendidikan di seluruh kawasan Wonosobo, eks-Keresidenan Kedu, dan sekitarnya.
Sebelum diterjunkan menghadapi masalah nyata di masyarakat, 80 pemuda pada rentang usia 18 hingga 21 tahun harus melewati persaingan ketat. Proses penyaringan awal memangkas kandidat menjadi 57 orang, hingga akhirnya terpilih 20 finalis yang diwajibkan masuk tahap karantina intensif.
Para finalis ini digodok secara khusus melalui program kelas ahli. Mereka dibekali teknik pembuatan konten kampanye digital yang interaktif agar gerakan anti-judi online dan anti-perundungan dapat viral serta tepat sasaran di linimasa media sosial anak muda.
Kapasitas kepemimpinan peserta turut diuji melalui tahapan adu gagasan, debat terbuka, dan diskusi kelompok terarah terkait isu-isu krisis remaja. Penilaian mutlak difokuskan pada kemampuan pemecahan masalah saat mereka berhadapan langsung dengan kawan sebaya yang terjerat masalah.
Puncak adu kapasitas ini menobatkan Januar Zida Afriza dari SMA Muhammadiyah Wonosobo dan Asya Velufe Humaira dari SMA Negeri 1 Wonosobo sebagai agen utama. Posisi kedua diisi oleh Javas Danadyaksa dan Sinta Mulyasari Setjonegoro, disusul Achmad Fatichurisqi dan Azikra Chilla Zivanka pada tempat ketiga. Penghargaan taktis juga diberikan untuk kategori pemengaruh media sosial, tingkat intelegensi, hingga figur favorit.
Rekam jejak positif pelajar daerah ini juga telah teruji di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Seorang pemuda lokal bernama Muhammad Nur Godas belum lama ini menembus persaingan regional dan mengamankan posisi penting, membuktikan efektivitas kaderisasi pemuda setempat di kancah yang lebih luas.
Melihat tingginya tantangan era digital, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menekankan bahwa generasi baru wajib memiliki kemampuan mengambil keputusan krusial demi menyelamatkan bonus demografi. “Pemilihan ini bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang bagi remaja untuk berkontribusi dalam pembangunan,” tegasnya.
Di sisi pelaksana, Kepala Dinas PPKBPPPA Kabupaten Wonosobo, Dyah Retno Sulistyowati, memastikan figur terpilih bukan sekadar pajangan publik, melainkan representasi kecerdasan dan daya kritis pemuda daerah. Ia menargetkan agen-agen muda ini segera beraksi nyata memutus rantai kenakalan remaja yang kini semakin kompleks.

