Wonosobo, satumenitnews.com – Kegiatan pemeriksaan mata gratis di SDN Durensawit, Kabupaten Wonosobo pada Kamis (26/2/2026) mengungkap fakta ironis terkait pola asuh anak di rumah. Sejumlah siswa kelas satu secara lugas mengaku terbiasa bermain gawai hingga pukul satu dini hari.
Fakta lapangan ini justru sama sekali tidak diketahui oleh pihak komite sekolah. Ketua Komite SDN Durensawit, Supangat, mengaku terkejut dan belum pernah menerima keluhan apapun dari wali murid terkait anak yang sulit diatur dalam menggunakan telepon seluler hingga dini hari.
Menurut pengakuan Pangat di sela-sela kegiatan pemeriksaan mata, tidak ada satupun orang tua maupun masyarakat yang mengeluhkan fenomena kecanduan gawai sampai tahap ini kepada pihak komite.
“Nah, mengenai informasi tersebut, saya sebagai komite justru belum tahu. Belum pernah ada orang tua yang mengeluhkan hal itu,” ungkap Supangat merespons temuan di lapangan.
Imbauan Rutin yang Diabaikan
Kondisi ini terbilang ironis mengingat komite dan pihak sekolah mengaku tidak pernah absen memberikan edukasi. Supangat mengklaim imbauan terkait pembatasan durasi penggunaan hp selalu dikomunikasikan setiap kali ada pertemuan orang tua wali murid.
Ia menjelaskan bahwa pemakaian gawai secara berlarut-larut sangat merugikan masa depan anak. Dampak buruknya tidak sekadar merusak fungsi penglihatan, melainkan juga memengaruhi saraf otak yang berujung pada keterlambatan penyerapan materi pembelajaran di kelas.
“Intinya, pemakaian HP dibatasi hanya beberapa jam saja, jangan sampai berlarut-larut. Pihak sekolah maupun pihak desa sering menginformasikan bahwa penggunaan HP harus dibatasi,” jelasnya mengulang pesan yang juga sering disampaikan oleh rekan sekolah lainnya.
Internet Mudah, Pengawasan Orang Tua Lemah
Kemudahan akses internet di wilayah setempat disinyalir menjadi celah utama anak-anak bebas menatap layar hingga larut malam. Supangat membenarkan bahwa mendapatkan koneksi internet di lingkungan tersebut saat ini sangatlah mudah.
Ia menyebutkan sudah banyak warga yang memasang jaringan WiFi di rumah masing-masing, meski ia belum bisa memastikan sejauh mana akses publik dari fasilitas tersebut.
Merespons temuan anak kelas satu yang bermain gawai hingga dini hari, Pangat akan memberikan teguran tegas. Ia akan menuntut para wali murid untuk tidak lepas tangan terhadap pendidikan karakter anak.
“Saat berada di lingkungan sekolah, pengarahan anak-anak memang menjadi tanggung jawab pihak sekolah. Namun, kami akan kembali berpesan kepada orang tua bahwa setelah jam sekolah selesai, anak-anak sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawab mereka,” tegasnya.
Ia akan mendesak seluruh orang tua untuk kembali mengambil peran aktif, lebih tertib, dan bertanggung jawab penuh dalam memantau seluruh aktivitas anak-anaknya selama berada di lingkungan rumah.