Wonosobo, satumenitnews.com – Pemandangan kontras terlihat di kawasan pegunungan Wonosobo belakangan ini. Di balik sejuknya udara kota pegunungan, ancaman bencana ekologis mengintai akibat masifnya lahan kritis. Kodim 0707/Wonosobo merespons kondisi ini dengan terjun langsung ke Desa Kupangan, Kecamatan Sukoharjo, untuk melakukan reboisasi dalam Puncak Musim Tanam Tahun 2025, Kamis (5/2/2026).
Kegiatan bertajuk “Hamemayu Hayuning Bawono: Reboisasi untuk Lingkungan Lestari dan Ketahanan Pangan Negeri” ini bukan sekadar seremoni. Gerakan ini melibatkan berbagai elemen mulai dari Forkopimda, organisasi Jagat Tunas Bumi (JATUBU), Garuda Asta Cita Nusantara, hingga masyarakat setempat. Mereka bahu-membahu menanam bibit kopi di lahan-lahan yang mulai kehilangan tutupan vegetasi.
Dandim 0707/Wonosobo Letkol Inf Yoyok Suyitno melalui Kasdim Mayor Arh Siswoto Nurharjo menegaskan bahwa keterlibatan TNI bukan hanya soal keamanan teritorial, melainkan juga keamanan lingkungan. Mayor Siswoto turun tangan langsung menanam bibit kopi sebagai simbol perlawanan terhadap potensi bencana alam.
Menjaga lingkungan agar selalu hijau merupakan tanggung jawab semua umat manusia. Alam merupakan titipan anak cucu, maka harus dijaga dengan baik. Jika manusia menjaga alam tetap lestari, alam akan menjaga manusia dan menjauhkan dari bencana. Alam bahkan akan membantu kehidupan manusia, ungkap Mayor Siswoto di sela-sela kegiatan penanaman.
Darurat Lahan Kritis di Kedu Utara
Pemilihan tanaman kopi dalam gerakan ini memiliki alasan strategis. Kopi dinilai mampu menjalankan fungsi ganda, yakni sebagai tanaman konservasi untuk menahan erosi tanah di lahan miring serta memiliki nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat. Hal ini menjadi solusi jalan tengah antara kebutuhan ekologi dan ekonomi warga.
Ketua JATUBU, Mantep Abdul Ghani, membeberkan data yang cukup mengkhawatirkan mengenai kondisi lingkungan setempat. Ia menyoroti tingginya persentase lahan kritis yang ada di wilayah Kedu Utara.
Menurut data yang ia himpun, lahan kritis di wilayah Kedu Utara mencapai angka 56 persen. Pihaknya mengajak semua pihak, jika melihat hutan gundul, untuk langsung menanaminya. Guru bisa mengajak muridnya ikut kegiatan ini untuk melatih merawat alam. Pihaknya juga bekerja sama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) untuk merawat hutan demi kelangsungan hidup generasi mendatang. Ia berharap seluruh pemangku kepentingan mau bekerja sama menjaga alam, terang Mantep.
Mantep juga menjelaskan bahwa JATUBU memiliki target ambisius untuk menanam satu juta pohon dalam setahun. Hingga saat ini, capaian penanaman telah menyentuh angka 193 ribu bibit tanaman, yang mayoritas adalah jenis kopi.
Murni Hibah Tanpa Agenda Politik
Gerakan lingkungan seringkali dicurigai memiliki muatan kepentingan tertentu. Namun, Mantep Abdul Ghani menepis anggapan tersebut. Ia menegaskan bahwa gerakan reboisasi ini murni didanai oleh hibah dan swadaya, tanpa ada tunggangan politik praktis.
Ia menegaskan tidak memiliki tujuan politik. Ia memohon instansi terkait untuk bersinergi. Keinginannya hanya satu, yaitu hutan terjaga. Ia bersyukur gerakan ini dibantu oleh 35 LMDH dengan dana kegiatan yang murni hibah. Saatnya semua pihak mendukung agar Wonosobo hijau kembali dan terhindar dari bencana, tambah Mantep.
Kondisi gundulnya pegunungan di Wonosobo juga memancing keprihatinan Mayjen TNI Purn Tri Martono, Waketum DPP Garuda Asta Cita Nusantara. Ia mengaku bahagia melihat antusiasme warga Wonosobo, namun miris melihat kondisi fisik alamnya.
Ia sangat bahagia melihat Wonosobo, tapi sayangnya ia melihat banyak gunung-gunung tidak ada pohonnya. Ia meminta kepada seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi mendukung kepentingan nasional, yaitu keamanan dan kesejahteraan.
Tri Martono menekankan pentingnya manajemen bencana yang mencakup fase sebelum, saat, dan sesudah kejadian. Apa yang dilakukan saat ini adalah upaya prabencana untuk meminimalisir risiko. Ia memuji langkah swadaya masyarakat yang memilih kopi karena bernilai ekonomis sekaligus dapat mengantisipasi terjadinya bencana.