Wonosobo, satumenitnews.com – Penampilan apik Matheo in Rio di panggung Kurasi Musik Wonosobo Volume 7 yang digelar di Le Coffee pada Minggu (23/8/2026) malam menyisakan cerita menarik. Di balik vokal berkarakter yang ia bawakan, solois ini ternyata memiliki rekam jejak karir yang cukup panjang dan tidak biasa.
Sebelum mantap merintis jalur musik pada 2018, pria berdarah campuran Sumbawa dan Padang kelahiran Jakarta ini lebih dulu berkecimpung di industri perfilman nasional. Bukan sebagai aktor drama, melainkan sebagai stuntman untuk adegan-adegan perkelahian dan berbahaya.
“Mundur sedikit ke belakang, saya dulu sibuk di film sebagai stuntman. Mulai dari FTV, sinetron, sampai masuk ke layar lebar seperti Wiro Sableng, Sabrina (The Doll 2), Target karya Raditya Dika, hingga Foxtrot,” ungkap Matheo saat ditemui usai acara.
Transisi dari layar lebar ke dapur rekaman bermula dari kebiasaannya membuat konten cover lagu. Dari lingkungan pergaulan produksi film itu pula, ia dipertemukan dengan seorang produser eksekutif yang tengah mencari talenta baru.
Namun, perjalanannya di dunia musik tak langsung melesat di jalur solo. Matheo sempat mengeksplorasi berbagai genre. Ia pernah bergabung dengan band alternative rock bernama KOLKEN dan merilis mini album. Merasa masih ada energi yang belum tersalurkan, ia kemudian membentuk band beraliran metal, Engage in Vengeance (EIV) pada 2019.
Publik mungkin juga sempat mengenali suaranya saat ia didapuk menjadi vokalis ketiga Pilot Band pada kuartal ketiga tahun 2021. Bersama Pilot, ia sempat merilis single “Let’s Fly” dan menjajal berbagai panggung besar di era transisi pandemi. Hingga akhirnya, pada akhir 2023, ia memutuskan keluar dan fokus penuh pada proyek solonya yang sebenarnya sudah diinisiasi sejak 2022.
Kini, Matheo in Rio telah mengantongi satu mini album dan tiga single, termasuk single bertajuk “Bumi” yang juga menjadi soundtrack film. Dari seluruh karya solonya, lagu terbaru berjudul “Kawanita” menjadi karya yang paling memberikan kesan mendalam baginya. “Lagu itu karakternya sangat kuat, selalu ngasih efek merinding setiap kali saya nyanyikan di mana pun,” tuturnya.
Pencarian Jati Diri dan Jatuh Hati pada Wonosobo
Bagi Matheo, bermusik bukan sekadar melahirkan nada, melainkan proses panjang menguliti ego sendiri. Ia merefleksikan perjalanannya sejak 2018 sebagai proses self-discovery yang tak ada habisnya.
“Seniman itu harus mendasari karyanya dengan kejujuran. Nggak cukup jujur ya nggak jadi seniman. Seru rasanya berulang kali memergoki diri sendiri saat sedang tidak jujur dalam berkarya, karena kita berhadapan langsung dengan diri sendiri tanpa judgment orang lain,” jelasnya. Proses pendewasaan karyanya ini juga tak lepas dari tangan dingin Sandika Nestor, musisi pencipta hits “Sabtu Minggu”, yang memproduseri mini album pertamanya.
Kini, kejujuran karya itu tengah ia bawa berkeliling dalam rangkaian tur panjang 70 titik. Menariknya, penampilan di Le Coffee malam itu merupakan titik ke-36, sekaligus menandai Wonosobo sebagai kota pertama yang ia singgahi di luar area Jabodetabek. Sehari sebelumnya, ia juga sempat menjumpai pendengarnya di Alur.
Kota berhawa sejuk ini ternyata meninggalkan kesan emosional yang kuat bagi sang musisi. “Saya merasa sangat nyaman di sini. Hawa udaranya segar dan panasnya tidak menyengat. Rasanya, kalau suatu hari nanti punya rezeki lebih, saya ingin punya rumah dan studio rekaman sendiri di Wonosobo. Jadi kalau butuh mencari inspirasi, tinggal datang ke sini,” pungkasnya tersenyum.
Usai menyapa penikmat musik di Wonosobo, rangkaian tur Matheo in Rio akan langsung berlanjut menyambangi Yogyakarta.
Kurasi Musik Wonosobo Vol 7: Menakar Nyawa Karya Orisinal di Panggung Independen