Wonosobo, Satumenitnews.com – Ada momen unik dan sedikit menggelitik saat acara Grand Opening Sanera Cafe & Entertainment pada Minggu (15/2/2026) lalu. Jika biasanya kehadiran pejabat daerah dalam acara peresmian bisnis hanya diisi dengan prosesi potong pita dan ramah tamah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, justru mengambil “jalan ninja” yang berbeda.
Di hadapan para tamu undangan dan pelaku usaha yang hadir, Fahmi malah menjadikan panggung peresmian kafe tersebut sebagai ajang “kampanye terselubung” mengenai pentingnya legalitas dan perizinan usaha pariwisata. Deretan singkatan birokrasi yang biasanya bikin pusing pengusaha mulai dari OSS, NIB, tata ruang, hingga PBG (Persetujuan Bangunan Gedung) dan SLF (Sertifikat Laik Fungsi) lancar ia sosialisasikan.
“Terus tiba-tiba ada sosialisasi apa itu juga sekaligus kalian sosialisasikan tentang perizinan dan sebagainya. Ya, tidak apa-apa ya, itu kan iseng-iseng berhadiah,” kelakar Fahmi saat memberikan sambutan, yang disambut senyum simpul para tamu undangan.
Menurutnya, ini adalah tradisi baru yang perlu dibangun. Masyarakat dan komunitas bisnis harus terus diedukasi mengenai program dan regulasi pemerintah, bahkan di momen-momen santai sekalipun.
Fahmi menegaskan bahwa mengurus izin bukan sekadar menggugurkan kewajiban di atas kertas, tetapi demi keamanan dan keberkahan (barokah) bisnis itu sendiri.
“Saya secara tidak langsung sosialisasi. Perizinan tata ruang dan lainnya harus dipenuhi. Termasuk sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability). Keamanan pengunjung itu vital, misalnya kalau terjadi keadaan darurat, apakah sudah ada titik kumpul (assembly point) dan perlengkapan emergensi?” tegasnya.
Tantangan “Green Culinary” dan Ramah Disabilitas
Tidak berhenti di soal perizinan gedung (PBG/SLF) dan NIB, Fahmi juga melempar tantangan standar operasional tingkat lanjut kepada manajemen Sanera dan para pelaku usaha kuliner di Wonosobo.
Ia menantang agar kafe tidak hanya sibuk berjualan, tetapi juga memikirkan Environment Sustainability atau kelestarian lingkungan. Ia membayangkan jika limbah sisa makanan dari Sanera bisa diolah sendiri menggunakan sistem khusus, misalnya budidaya magot, yang hasilnya bisa dibagikan gratis kepada petani sekitar.
“Jika itu dilakukan, dua tahun lagi Sanera bisa menjadi Green Culinary Center. Itu akan menjadi nilai jual (selling point) yang luar biasa,” imbuhnya.
Selain urusan lingkungan, Pemkab Wonosobo juga tengah menggalakkan pariwisata ramah muslim dan inklusif. Fahmi mengingatkan agar kafe-kafe baru mulai memikirkan desain bangunan yang ramah bagi penyandang disabilitas (menyediakan ramp atau jalur landai) serta kepastian kehalalan produk.
“Biasanya pengusaha di awal tidak memikirkan akses jalur untuk disabilitas. Nanti di tengah jalan baru sadar ada undang-undangnya, akhirnya repot bongkar lagi. Mumpung ini masih tahap awal, lebih baik disiapkan, atau coba undang komunitas disabilitas untuk test langsung fasilitasnya,” pungkas Fahmi menutup sosialisasi “dadakan” tersebut.
Langkah cerdik Disparbud Wonosobo ini seolah menjadi pesan soft campaign bagi masyarakat: Daripada nongkrong di kafe yang belum jelas izin dan standar keamanannya, lebih baik memilih tempat yang sudah teruji legalitasnya seperti Sanera Cafe & Entertainment.

