Wonosobo, satumenitnews.com – Sektor pertanian di wilayah Kedu, Jawa Tengah, memiliki tantangan klasik yang kerap menghambat produktivitas petani: aksesibilitas lahan yang sulit. Di Kabupaten Wonosobo, mobilitas hasil panen yang terhambat sering kali menyebabkan biaya operasional membengkak dan menurunkan kualitas komoditas sebelum sampai ke tangan pembeli.
Menjawab kebutuhan mendesak tersebut, pemerintah terus menggencarkan pembangunan infrastruktur strategis melalui alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Langkah nyata ini salah satunya menyasar pembangunan jalan tani di Desa Tlogomulyo, Kecamatan Kertek, yang menjadi nadi baru bagi aktivitas ekonomi warga setempat.
Memangkas Hambatan Distribusi Panen
Pembangunan jalan tani sepanjang 286 meter dengan lebar 2,5 meter kini telah mengubah wajah mobilitas petani di Desa Tlogomulyo. Infrastruktur ini dirancang khusus untuk memfasilitasi Kelompok Tani Ngudi Luhur dalam mengangkut sarana produksi maupun hasil panen dari lahan menuju titik distribusi dengan lebih cepat dan aman.
“Potensi komoditas tembakau di Desa Tlogomulyo sangat besar, mencapai sekitar 50 hektare. Dengan adanya jalan tani ini, akses keluar masuk lahan menjadi lebih mudah. Proses pengangkutan hasil panen juga jauh lebih cepat dan efisien,” ujar Wulan Prihatiningsih, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) wilayah Kecamatan Kertek.
Dampak nyata ini pun dirasakan langsung oleh pelaku di lapangan. Anwar Rifai, seorang petani tembakau asal Dukuh Bedakah, mengungkapkan bahwa akses jalan yang memadai adalah kebutuhan fundamental yang selama ini dinanti oleh para petani.
“Dulu petani harus melewati jalan setapak yang sempit untuk mengangkut hasil panen. Sekarang akses sudah jauh lebih baik sehingga pekerjaan menjadi lebih ringan dan hasil panen lebih terjaga kualitasnya,” ungkap Anwar Rifai, Petani Tembakau.
Sinergi Infrastruktur dan Produktivitas
Keberhasilan sektor tembakau tidak hanya bergantung pada akses jalan, namun juga pada kualitas hasil tani itu sendiri. Sinergi antara pembangunan infrastruktur dengan pemberian bantuan sarana produksi menjadi langkah komprehensif yang dilakukan pemerintah. Sejak tahun 2022, petani telah menerima dukungan berupa bantuan pupuk unggulan seperti Fertila, Phonska, dan KNO.
Penggunaan pupuk Fertila dinilai memberikan dampak positif terhadap kualitas daun tembakau. Peningkatan produktivitas yang dihasilkan dari penggunaan sarana produksi yang tepat, dikombinasikan dengan kemudahan akses jalan, diharapkan dapat memperkuat posisi tawar petani di tengah fluktuasi cuaca dan harga pasar.
Langkah Lanjut bagi Kelompok Tani
Bagi masyarakat atau kelompok tani di wilayah Wonosobo dan sekitarnya yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai skema bantuan sarana produksi atau konsultasi teknis terkait program DBHCHT, Anda dapat berkoordinasi langsung dengan kantor Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Kertek.
Pemerintah terus membuka pintu komunikasi bagi para petani agar pemanfaatan infrastruktur dan bantuan dapat tepat sasaran. Mari bersama-sama kita jaga keberlanjutan pertanian lokal sebagai fondasi utama ekonomi Kabupaten Wonosobo yang lebih berdaya saing.
Bagaimana pengalaman kelompok tani di daerah Anda dalam mengakses distribusi hasil panen? Bagikan aspirasi dan kendala Anda di kolom komentar agar menjadi bahan koordinasi bagi kemajuan bersama.
[Tim Redaksi / Editor: Malindra Anji]
Gempur Rokok Ilegal, Pemkab Wonosobo Dorong 50 UMKM Tembus Pasar Internasional via DBHCHT
Pelatihan Tata Boga DBHCHT: Upaya Pemberdayaan Keterampilan Perempuan di Wonosobo