Pentingnya Gerakan Penanaman Pohon di Jalur Lingkar Sumbing Wonosobo

Listen to this article

Wonosobo, satumenitnews.com – Hembusan angin sejuk lereng pegunungan menyapa siapa saja yang melintasi Jalur Lingkar Sumbing (Jalisu) di Kecamatan Kalikajar, Wonosobo. Jalan baru yang membelah kawasan Dusun Cengklok, Desa Butuh ini tak hanya memanjakan mata dengan panorama alamnya, tetapi juga menjanjikan denyut nadi ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Namun, di balik pesona dan kemudahan akses yang ditawarkan infrastruktur baru tersebut, tersimpan bom waktu ekologis. Pembukaan lahan untuk jalan yang membelah lereng gunung otomatis memangkas vegetasi asli dan mengubah kontur tanah di sekitarnya.

Inilah alasan mendasar mengapa isu ini sangat krusial bagi masa depan warga Kalikajar. Tanpa adanya intervensi pelestarian lingkungan yang masif dan terencana, kemajuan akses jalan ini bisa dibayar mahal dengan bencana longsor dan krisis air bersih di masa depan. Infrastruktur yang seharusnya membawa kesejahteraan justru bisa menjadi bumerang.

Gerakan Penanaman Pohon sebagai Benteng Terakhir Ekologi

Menyadari ancaman nyata tersebut, kolaborasi lintas sektor yang masif mulai digerakkan. Pada Rabu (20/5/2026), Pemerintah Kabupaten Wonosobo, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Serayu Opak Progo, hingga relawan lingkungan bersatu untuk mengembalikan sabuk hijau di sepanjang Jalisu.

Camat Kalikajar, Hermawan Animoro, menegaskan bahwa pembangunan fisik tidak boleh berjalan sendirian. Ia menggarisbawahi bahwa konservasi tanah dan air adalah syarat mutlak agar jalan baru ini tidak merusak alam.

“Jangan sampai dengan adanya pembukaan jalan Jalisu ini justru merusak lingkungan. Karena itu, kelestarian alam di sekitarnya harus tetap dijaga,” tegas Hermawan.

Camat Kalikajar dukung penuh konservasi jalan lingkar Sumbing. Foto istimewa

Bagi komunitas akar rumput, gerakan penghijauan ini lahir dari keresahan yang lebih dalam. Ketua Komunitas Tanpa Nama Wonosobo, Sriono Edy Subekti atau biasa di sapa Eed, mengungkapkan bahwa debit sumber mata air di wilayah hulu terus mengalami penyusutan dari tahun ke tahun. Jika ruang resapan air di sekitar Jalisu tidak segera dihijaukan kembali, krisis air bersih bukan lagi sekadar prediksi, melainkan keniscayaan.

Komitmen Merawat, Bukan Sekadar Menanam Seremonial

Sering kali, kegiatan penghijauan terjebak pada sebatas seremoni menanam lalu ditinggalkan. Namun, gerakan di Jalisu ini dirancang sebagai program konservasi berkelanjutan yang terstruktur.

Komunitas Tanpa Nama secara rutin melaksanakan kegiatan konservasi setiap pekan. Mereka tidak hanya menanam, tetapi juga merawat pohon-pohon penyimpan air seperti beringin, gondang, manglit, kantil, hingga bambu betung di berbagai wilayah resapan Kecamatan Kalikajar.

Khusus untuk sabuk hijau Jalisu, targetnya sangat jelas. Dari 200 bibit bantuan BPDAS Serayu Opak Progo, sebanyak 25 pohon ditanam sebagai langkah awal. Sisanya akan ditanam secara bertahap menyesuaikan ritme alam, yakni pada musim tanam ideal antara Oktober hingga Maret mendatang.

Ditambah dengan 100 pohon yang sudah ditanam sebelumnya, kawasan ini nantinya akan dipagari oleh 300 tegakan pohon pelindung.

“Yang terpenting bukan hanya menanam, tetapi bagaimana memastikan pohon itu hidup dan dirawat. Teman-teman Tanpa Nama memiliki komitmen bahwa setiap tanaman yang sudah ditanam harus dijaga dan dipastikan selamat,” jelas Eed.

Mengenal Pohon Damar: Mengapa Menjadi Pilihan Utama?

Dalam gerakan masif di Jalisu, pohon damar dipilih secara spesifik sebagai tameng ekologis. Pemilihan ini tidak dilakukan sembarangan, melainkan melalui perhitungan agrikultural dan topografi yang matang. Berikut alasan mengapa damar menjadi pendamping yang ideal bagi alam Kalikajar:

  • Tajuk Ramah Pertanian: Percabangan pohon damar tidak terlalu rindang. Karakter ini sangat menguntungkan karena tidak menghalangi sinar matahari yang dibutuhkan untuk lahan pertanian masyarakat di sisi kanan dan kiri jalan.
  • Cengkeraman Akar yang Kuat: Memiliki struktur akar yang masuk dalam ke tanah, damar bertindak sebagai pasak bumi alami yang efektif menahan laju erosi di titik-titik rawan longsor.
  • Kapasitas Mengikat Air: Sistem perakarannya sangat optimal dalam membantu tanah menyerap dan menyimpan air hujan, memastikan cadangan air tanah tetap stabil saat musim kemarau tiba.

 

[Penulis / Editor: Malindra Anji]

Menikmati Syahdunya Pesona “Gunung Kembar” dari Dieng Kledung Pass Hotel

Pesona Shalat Idul Fitri 1447 H Berlatar Gunung Sindoro di Lapangan Garung Wonosobo

Simpan Sabu 1,24 Gram, Pria Kalikajar Wonosobo Ditangkap Polisi di Teras Rumah

Personel Polsek Kalikajar Dampingi Panen Jagung di Simbang, Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Tak Kenal Libur, Babinsa di Kalikajar Tetap Kawal Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih

34 Balon Udara Hiasi Langit Mendung Tempelsari Kalikajar, Doorprize Bebek Curi Perhatian

Dandim 0707 Resmikan Jembatan Gantung Garuda Penghubung Sindupaten dan Kalikajar Wonosobo

Kwadungan Ditunjuk Jadi Percontohan, Kalikajar Sedang Menguji Seriusnya Desa Wisata?

Kolaborasi Sunyi di Balik Angka, Puskesmas Kalikajar 2 dan Dua Lembaga yang Menjaga Anak Wonosobo

Pemimpin Harus Lahir dari Sekolah Dasar, Eko Prasetyo Ungkap Alumni SDN 1 Kalikajar Jadi Jenderal

Related posts

Dandim Wonosobo dan Forkopimda Resmikan Hasil TMMD Sengkuyung Tahap II di Desa Grugu

Dandim Wonosobo Tutup TMMD Sengkuyung Tahap II di Desa Grugu, Tekankan Pentingnya Membangun Desa

Sinergi Polres dan Pemkab Wonosobo Panen Jagung 7,6 Ton di Mojotengah

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Read More